Cuaca Ekstrem Masih Bayangi DIY

Ilustrasi - Antara/Wahdi Septiawan
29 Maret 2020 21:47 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di wilayah DIY. Berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer terkini yang dilakukan oleh BMKG Staklim Mlati Yogyakarta, cuaca ekstrem diprediksi terjadi Sabtu (28/3/2020) hingga Selasa (31/3/2020).

Kepala BMKG Staklim Mlati Yogyakarta, Reni Kraningtyas, mengatakan potensi cuaca ekstrem dipicu oleh keberadaan Madden Julian Oscillation (MJO) yang berada di fase tiga dan pola tekanan rendah masih aktif di selatan Pulau Jawa dan Australia bagian utara.

"Keberadaan sirkulasi siklonik di atas wilayah Jawa bagian timur dan konvergensi di selatan Pulau Jawa secara tidak langsung memengaruhi aktivitas konvektif di wilayah DIY," ujar Reni, Minggu (29/3/2020).

Selain itu, kata Reni, cuaca ekstrem juga dipicu potensi konvektif dari faktor lokal dengan indeks labilitas udara sedang atau kuat. Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG Staklim Mlati Yogyakarta memperkirakan adanya potensi hujan dengan intensitas sedang-lebat disertai petir dan angin kencang di wilayah DIY mulai 28 hingga 31 Maret 2020.

"Cuaca ekstrem diprediksi terjadi di sebagian besar wilayah Kabupaten Sleman, Kota Jogja; beberapa wilayah di Bantul, Gunungkidul dan Kulonprogo," katanya.

Memasuki awal April, sebagian wilayah DIY memasuki masa pancaroba, sehingga potensi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi. "Untuk itu kami mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada terhadap cuaca ekstrem, khususnya hujan lebat disertai angin kencang yang berdampak terjadinya tanah longsor, banjir dan banjir bandang di sejumlah wilayah di DIY," katanya. 

Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta, Etik Setyaningrum, sebelumnya mengatakan pada Maret Matahari berada di sekitar ekuator sehingga bisa memberi dampak pada suhu udara yang panas di beberapa tempat termasuk Pulau Jawa.

"Suhu panas terjadi karena posisi Matahari berada di dekat wilayah Indonesia, tetapi perlu diketahui bahwa wilayah DIY pada Maret ini masih masuk periode musim hujan, sehingga meskipun suhu udara terasa panas tetapi potensi hujan masih tetap ada, sehingga masyarakat jangan menganggap saat ini sudah memasuki musim kemarau," ujar Etik.

Berdasarkan prediksi BMKG, hujan yang terjadi di pertengahan Maret ini berada dalam kategori menengah dengan jumlah curah hujan berkisar 100 mm/dasarian.

"Dibandingkan hujan di awal Maret, intensitas dan frekuensi hujan di pertengahan bulan ini mengalami penurunan. Kondisi cuaca di pagi hari umumnya berawan, sedangkan pada siang hingga sore menjelang malam berpotensi turun hujan ringan hingga sedang. Kondisi ini terjadi di wilayah DIY bagian tengah dan utara. Untuk suhu udara pada siang hari berkisar 31 hingga 33 derajat Celcius," katanya.