Ingin Dapur Tetap Ngebul, UMKM Kulonprogo Putar Otak Jualan Masker

Widya Ningtyas Virgo Kartika menunjukkan masker yang dijual di outletnya di Jalan Raya Yogyakarta-Wates, KM 18, Dusun Klebakan, Kalurahan Salamrejo, Kapanewon Sentolo, Rabu (1/4/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
01 April 2020 14:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - Para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kulonprogo harus memutar otak agar 'dapur tetap ngebul' di tengah minimnya penghasilan akibat wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Salah satunya dengan beralih memproduksi barang-barang yang berpotensi laku keras.

Cara itu turut dilakukan Widya Pernik. Sejak 17 Maret 2020, UMKM yang terletak di Jalan Raya Jogja-Wates, KM 18, Dusun Klebakan, Kalurahan Salamrejo, Kapanewon Sentolo itu mulai memproduksi masker berbahan kain katun premium dan perca. Uniknya masker itu didesain semenarik mungkin dengan aneka motif seperti bunga, batik dan motif lainnya sesuai permintaan pemesan.

Model masker unik itu kata Widya Ningtyas Virgo Kartika, 43, selaku pemilik Widya Pernik, cukup laku di pasaran. Terhitung, sudah lebih dari 5.000 masker terjual sejak pertama kali produksi hingga saat ini. Adapun harga yang dipatok sebesar Rp5.000 untuk satu buah masker berbahan kain perca, Rp8.000 bahan katun dengan tali kain, dan Rp10.000 bahan katun dengan tali karet.

"Puji Tuhan dalam sehari kita bisa menjual sekitar 400 buah masker, rata-rata dipesan oleh konsumen luar daerah," ujar Widya saat ditemui di outlet Widya Pernik, Rabu (1/4/2020) siang.

Bagi Widya, dapat menjual ratusan masker dalam sehari merupakan pencapaian yang luar biasa mengingat produksi masker belum lama ia geluti. Keuntungan dari penjualan masker ini juga bisa menjaga eksistensi UMKM yang bergerak di usaha produksi suvenir itu tetap bertahan di tengah kondisi perekonomian yang kembang kempis akibat pandemi Corona.

Widya mengakui sejumlah pesanan suvenir untuk pelbagai acara terpaksa ditunda pihak pemesan karena Corona. "Pada Maret 2020, sebenarnya orderan mulai masuk seperti suvenir parcel acara trah keluarga untuk perayaan Idulfitri sama pesanan suvenir buat agenda tutup tahun koperasi. Tapi sekarang dipending karena Corona. Padahal kita sudah tahap acc desain. Tapi apa boleh buat karena keadaan, ya mau gimana lagi," ujarnya.

Penundaan itu otomatis menunda pemasukan Widya Pernik. Padahal kata Widya, sebelum adanya wabah Corona, UMKM yang sudah berdiri sejak 15 tahun silam ini bisa meraup keuntungan bersih hingga Rp10 juta per bulan hanya dari pesanan souvenir.

Di samping melayani pesanan Widya juga menjual souvernir yang bisa dibeli langsung di outletnya. Namun penghasilan di outlet ini tak lebih besar dari pesanan yang biasanya bisa mencapai ratusan buah souvernir tiap sekali order.

"Dari situlah saya putar otak, nyari apa yang sekiranya bisa dijual, hingga akhirnya saya milih buat masker, saya ajak ibu-ibu sekitar rumah buat ikut produksi, dan ternyata sambutan masyarakat sangat positif," ujarnya.

Dengan produksi masker unik ini, Widya tidak hanya sekadar berupaya menjaga kelangsungan usahanya, tapi juga sekaligus memberdayakan belasan para perempuan di lingkungan rumahnya. Sebanyak 12 perempuan yang mayoritas adalah ibu rumah tangga itu ia pekerjakan menjadi penjahit masker. "Sebagian ada yang jahit di rumah masing-masing, sisanya kami minta jahit di sini [outlet Widya Pernik]," ucap Widya.

Salah satu pembeli, Sari Mega Leli, 35, mengaku tertarik dengan model masker bikinan Widya Pernik. "Bagus sih, jarang ada masker seperti ini, apalagi kondisi sekarang yang langka masker, dan di sini ada banyak stok serta pilihan motif, jadinya gak bingung kalau cari masker," ujar perempuan asal Sentolo tersebut.