Ini Pengakuan Sejumlah Warga Sleman yang Terpaksa Keluar Rumah di Masa Pandemi Corona

Anggota Linmas Gondomanan berjaga di Tempat Sampah Sementara di jalan Brigjen. Katamso, Jogja, Sabtu (11/04/2020). - Harian Jogja/Desi Suryanto
15 April 2020 04:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Sejumlah warga mengaku terpaksa keluar rumah dan kembali berjualan di jalanan karena terpaksa. Selama mengikuti imbauan pemerintah untuk stay at home sejak Maret lalu, praktis tidak mendapat penghasilan.

"Karena sudah tiga minggu nggak keluar, bingung nggak ada penghasilan. Akhirnya kembali jualan," kata Sutrisno, penjualan angkringan berdomisili di Tamanmartani, Kalasan, Selasa (14/4/2020).

Ia mengaku sudah seminggu ini buka lapak. Meskipun awal membuka lapak tidak banyak yang membeli di warungnya, namun lambat laun pembeli yang makan di warung tersebut mulai banyak. Alasan keluar rumah, kata Sutrisno sama saja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"Awal-awal memang sedikit karena masih banyak di rumah. Tapi sekarang sudah mulai ramai. Jawabannya sama sudah nggak punya uang," katanya.

Hal senada disampaikan Hendro, penjual bakso keliling. Meskipun penghasilannya saat ini turun drastis karena pandemi Covid-19, setidaknya masih ada pemasukan. Selama dua pekan terakhir, dia sudah berusaha untuk mengikuti himbauan pemerintah untuk diam di rumah.

"Lama-lama uang simpanan juga habis. Saya perhatikan kok banyak juga yang keluyuran, akhirnya jualan lagi," katanya.

Hendro memastikan tetap akan mematuhi anjuran pemerintah. Seperti menggunakan masker dan tetap menjaga kebersihan. Hanya saja, katanya, untuk anjuran diam di rumah tidak bisa diikuti karena terdesak kebutuhan. "Kalau dibilang khawatir ya tetap ada, tapi mau bagaimana lagi? Makanya tetap pakai masker dan bawa hand sanitizer," ujarnya.

Berdasarkan pengamatan Harianjogja.com, mobilitas warga di ruas-ruas jalanan kembali ramai dalam dua pekan terakhir. Warga seakan sudah tak peduli lagi dengan imbauan pemerintah untuk diam di rumah, pakai masker dan jaga jarak. Mereka berselancar seperti tak menghiraukan bahaya persebaran virus Covid-19.

Terkait hal itu, Bupati Sleman Sri Purnomo akan kembali mengingatkan warganya untuk bisa mematuhi anjuran pemerintah untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Sri juga akan memasang spanduk-spanduk peringatan di desa-desa agar masyarakat tetap mewaspadai virus Covid-19. "Untuk warga yang terdampak pasti nanti akan ada bantuan dana jaminan hidup yang akan diurus oleh Dinas Sosial. Kami sudah hitung-hitungan," kata Sri.

Pemberian bantuan bagi warga terdampak lainnya seperti yang terkena PHK dan lainnya sudah dipikirkan dan disiapkan oleh Pemkab Sleman. Wujud bantuannya bukan berbentuk modal tetapi lebih pada pemenuhan hajat dasar manusia. "Ada empat klaster nanti yang mendapatkan bantuan, tinggal menunggu aturannya saja," katanya.

Menghadapi fenomena tersebut, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengatakan tidak ada pilihan lain bagi warga untuk tetap menerapkan protokol penanganan Covid-19. "Secara umum tetap, tidak ada perubahan," katanya.

Warga, kata Joko, harus menerapkan physical distancing dan social distancing secara ketat untuk memutus mata rantai peredaran virus Covid-19. "Apabila tidak sangat penting agar tidak keluar rumah. Bila terpaksa keluar rumah harus mengenakan masker yang sesuai," katanya.

Selain itu, warga juga harus tetap membiasakan cuci tangan pakai air bersih dengan sabun. Perilaku ini, katanya, harus ketat dilaksanakan oleh siapa saja. "Siapapun harus membiasakan diri untuk mencuci tangan dengan sabun. Kebersihan lingkungan juga harus terus dijaga dengan cara rutin membersihkan dan memakai desinfektan," kata Joko.

Sementara bagi warga yang harus isolasi secara mandiri di rumah, misalnya karena datang dari luar daerah harus dipastikan dapat dilaksanakan sesuai ketentuan. "Tingkatkan pola hidup sehat dan bersih agar terhindar dari berbagai penyakit, termasuk virus Covid-19," ujarya.