Pembatasan Jam Operasional Swalayan Masih Dikaji

Ilustrasi toko modern. - JIBI
16 April 2020 20:12 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemkab Gunungkidul mengkaji pembatasan jam operasional supermarket atau pasar swalayan. Kajian tersebut harus matang karena berdampak pada untung dan ruginya para pengusaha.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Gunungkidul, Johan Eko Sudarto, mengungkapkan kajian pembatasan jam operasional tersebut sebagai upaya Pemkab untuk meminimalkan penyebaran Corona di Gunungkidul. "Untuk sementara baru dikaji tentang pembatasan jam operasional untuk swalayan," kata Johan saat ditemui Harian Jogja, Kamis (16/4/2020).

Menurut dia, kajian perlu dilakukan dengan matang karena berdampak pada pendapatan swalayan tersebut. Selain itu, jika pembatasan dilakukan justru memicu kepanikan warga sehingga datang ke swalayan karena waktu operasional toko yang terbatas. "Jangan sampai dengan pembatasan ini justru akan menimbulkan penumpukan pengunjung di toko swalayan," katanya.

Meski Pemkab belum memberlakukan pembatasan, sudah ada beberapa swalayan maupun supermarket di Gunungkidul yang berinisiatif membatasi jam operasional secara mandiri dengan menutup toko lebih awal. "Dengan kondisi seperti saat ini sudah ada beberapa toko swalayan yang secara mandiri membatasi jam operasional," kata Johan.

Sebelum menerbitkan surat edaran pembatasan jam operasional, Disperindag bakal menyusun protokol kesehatan yang harus dipatuhi oleh pengelola toko modern dan swalayan seperti menyediakan tempat cuci tangan dan hand sanitazier, pengunjung harus menggunakan masker, menjaga jarak antrean di kasir, hingga menjaga kebersihan lingkungan swalayan. "Kami sudah menyusun protokol untuk dilaksanakan di toko swalayan," katanya.