Tekanan Rendah di Samudera Hindia, Gelombang Tinggi Mengancam Perairan Selatan DIY

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
21 April 2020 10:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- BMKG Staklim Mlati Yogyakarta mengimbau agar nelayan maupun masyarakat yang ada di perairan selatan DIY untuk mewaspadai gelombang tinggi yang dimungkinkan terjadi imbas dari tekanan rendah yang terpantau di Samudra Hindia.

Kepala Staklim Mlati Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan jika berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer yang dilakukan oleh instansinya, daerah tekanan rendah terpantau di Samudra Hindia tepatnya di sebelah selatan Jawa Timur yang membentuk low level jet stream dengan kecepatan angin lebih dari 25 knot di bagian selatan sistem tersebut.

"Meskipun tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia, namun sistem ini mampu meningkatkan ketinggian gelombang mencapai lebih dari dua meter yang diprakirakan terjadi di perairan selatan Jawa Barat hingga Bali," ujar Reni, Senin (20/4/2020).

Lebih lanjut, labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal, lanjut Reni, juga memberikan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah DIY.

"Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG Staklim Mlati Yogyakarta memprakirakan adanya potensi hujan dengan intensitas sedang sampai dengan lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang di wilayah DIY pada tanggal 20 sampai dengan 21 April 2020," terangnya.

Masyarakat di sejumlah wilayah juga diminta untuk waspada terhadap ancaman cuaca ekstrem yang diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah. Diantaranya, di wilayah kabupaten Sleman (Turi, Pakem, Cangkringan, Tempel, Kalasan, Seyegan, Godean, Mlati, Gamping, Depok, Berbah, Prambanan).

"Untuk wilayah kabupaten Kulonprogo [Girimulyo, Nanggulan, Samigaluh, Kalibawang, Sentolo, Kokap]. Sedangkan untuk wilayah Bumi Projotamansari [Sedayu, Kasihan, Sewon, Pajangan, Bantul, Pleret, Banguntapan, Piyungan, Imogiri, Dlingo]," ungkapnya.

Masyarakat di wilayah Gunungkidul (Gedangsari, Ngawen, Semin, Patuk, Semanu, Karangmojo, Ponjong, Girisubo) dan sebagian besar wilayah kota Jogja juga diminta untuk mewaspadai cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi.

Adapun, BMKG Staklim Mlati Yogyakarta mengimbau kepada masyarakat tetap waspada terhadap cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang yang berpotensi terhadap bencana hidrometeorologis seperti banjir, banjir bandang di wilayah DIY, dan peningkatan gelombang tinggi di perairan selatan DIY.

Instansi yang dikepalai oleh Reni Kraningtyas tersebut juga sebelumnya memprakirakan jika awal musim kemarau di wilayah DIY umumnya terjadi pada bulan Mei. Wilayah kabupaten Gunungkidul diperkirakan akan mengalami musim kemarau terlebih dahulu jika dibandingkan wilayah kabupaten lain.

Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta Etik Setyaningrum mengatakan jika wilayah Gunungkidul, khususnya bagian selatan akan memasuki musim kemarau terlebih dahulu yakni sekitar akhir April hingga awal Mei 2020.

"Sedangkan, untuk wilayah lainnya seperti kabupaten sleman, Kulonprogo, Bantul, kota Jogja, dan Gunungkidul bagian utara akan memasuki musim kemarau di awal hingga pertengahan bulan Mei," ujar Etik.

Lebih lanjut, dengan melihat prediksi musim kemarau di atas, maka saat ini di bulan April hingga menjelang masuknya musim kemarau 2020 di bulan Mei mendatang, maka secara umum di wilayah DIY saat ini memasuki masa transisi atau pancaroba. Artinya, peralihan musim dari musim hujan menuju musim kemarau.

"Secara umum kondisi rata rata cuaca harian, di pagi hingga siang hari kondisi cerah berawan dengan suhu berkisar 30 sampai 33 celcius. Potensi terjadinya hujan kategori sedang hingga lebat yang disertai petir, dan angin kencang masih berpotensi muncul di wilayah DIY terutama diperiode siang, sore, hingga menjelang malam hari," ungkap Etik.