6.985 Pemudik Masuk Sleman, 112 di Antaranya Jadi ODP

Petugas Dishub gabungan dengan sejumlah instansi melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan pribadi berpelat nomor luar DIY dan bus AKAP yang masuk ke wilayah DIY di Lumbungrejo Tempel Sleman, Sabtu (11/4/2020), dalam rangka mengantisipasi penyebaran Covid-19. / Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
28 April 2020 07:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Angka pemudik yang datang ke kabupaten Sleman memang mengalami peningkatan tiap harinya. Dari total angka pemudik yang kembali sebanyak 6.985 orang per hari Senin (27/4/2020), sekitar 112 orang di antaranya masuk dalam kriteria orang dalam pemantauan (ODP).

Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Sleman Joko Hastaryo mengatakan jika total ODP yang bersumber dari pemudik yang kembali ke kabupaten Sleman memang kenaikannya tidak signifikan.

"Total ODP yang bersumber dari pemudik sekitar 112 orang dari total ODP sebanyak 1.255 orang per hari Senin (27/4/2020)," ujar Joko yang juga menjabat sebagai koordinator bidang kesehatan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sleman ini, Senin (27/4/2020).

Lebih lanjut, sekitar 112 orang ODP yang bersumber dari pemudik tersebut kebanyakan berasal dari sejumlah wilayah. Mulai dari Solo, Semarang, Jawa Timur maupun wilayah epincentrum pandemi Covid-19 yang ada di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

"Secara teoretis dan sesuai kenyataan memang jumlah ODP juga cenderung landai, penambahannya tidak terlalu drastis. Ini selaras dengan jml pemudik yang juga hanya nambah tipis," terangnya.

Laju pertumbuhan pemudik yang kembali ke wilayah kabupaten Sleman juga berdasarkan data dari gugus tugas penanganan pandemi Covid-19 kabupaten Sleman sejak tanggal (24/4/2020).

Sebelumnya, alih-alih menerapkan PSBB, Joko justru menyebutkan jika opsi pembatasan sosial berskala kecil (PSBK) justru kemungkinan akan diambil. Walaupun, nomenklatur PSBK sendiri harus dicari terlebih dahulu apa saja yang menjadi referensinya.

"Mungkin kita cari nomenklatur sendiri, seperti pembatasan sosial berskala kecil (PSBK), tapi belum ketemu referensinya. Intinya, setiap ada kasus positif langsung kita lokalisir sampai satuan kelompok terkecil (bisa keluarga, dasa wisma, RT, sampai RW)," ungkap Joko.

Lebih lanjut, walaupun upaya PSBK belum ada referensinya, namun ia dan jawatannya menilai jika upaya tersebut akan cukup efektif jika diterapkan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

"Belum ada referensinya (PSBK), tapi perhitungan kita bisa efektif karena hanya membatasi pergerakan kelompok kecil masyarakat," imbuh Joko yang juga menjabat sebagai koordinator bidang kesehatan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sleman ini.

Joko tidak menampik jika angka pemudik yang kemungkinan berasal dari epincentrum Covid-19 setiap hari bertambah di wilayah kabupaten Sleman menjadi perhatian tersendiri. Oleh karena itu, upaya skrining yang dilakukan oleh gugus tugas penanganan Covid-19 di tingkat RT maupun RW menjadi sangatlah penting.

"Kami perketat skrining pemudik yang pulang kampung. Mencegat di perbatasan mungkin tidak efektif tetapi biar tetap dilaksanakan oleh provinsi. Di kabupaten tetap mengandalkan mekanisme skrining melalui RT dan seterusnya," jelasnya.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Sleman, Shavitri Nurmala Dewi mengatakan jika sejak tanggal (24/4/2020) laju pertumbuhan pemudik kembali ke Sleman jika dibandingkan hari selanjutnya terjadi penurunan yang cukup signifikan.

"Sejak tanggal (24/4/2020) angka pemudik kembali ke Sleman sebanyak 6.837. Hari selanjutnya pada tanggal (25/4/2020) angka pemudik naik 6.912. kemudian, pada tanggal (26/4/2020) angka pemudik menjadi 6.931. Pada hari ini angka pemudik tercatat naik sebanyak 6.985," ungkap Shavitri.

Sebelumnya, dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19, Bupati Sleman bersama OPD dan camat se-kabupaten Sleman mengadakan video conference dengan mengundang pakar epidemiologi UGM dr. Riris Andono Ahmad sebagai narasumber diskusi pada Rabu, (22/4/2020) lalu.

Bupati Sleman Sri Purnomo menyampaikan bahwa Pemkab Sleman berusaha semaksimal mungkin melakukan tindakan penanganan penyebaran Covid-19 secara terukur dan terarah.

"Dengan masukan dari narasumber diharapkan kepala OPD dan camat akan dapat segera melakukan perencanaan dan mengeksekusi kegiatan dengan lebih efektif dan tepat sasaran," tutupnya.