Tragis, Pejalan Kaki Tewas Ditabrak Pikap di Dlingo Bantul
Kecelakaan di Jalan Terong–Mangunan Bantul menewaskan pejalan kaki. Polisi sebut jarak dekat jadi penyebab utama.
Kepala Pelaksana BPBD DIY Noviar Rahmad memberikan keterangan kepada wartawan soal potensi si bencana memasuki musim penghujan, Rabu (29/11/2023) (Harian Jogja/Yosep Leon Pinsker)
Harianjogja.com, JOGJA - BPBD DIY mengaku akan memperkuat mitigasi dan edukasi kepada masyarakat luas agar tidak membuang sampah ke sungai menyusul ditutupnya TPA Piyungan akhir bulan ini. Itu dilakukan untuk mencegah potensi banjir akibat meluapnya sungai lantaran tersumbat sampah.
Fenomena banjir akibat sampah yang menumpuk itu sempat melanda sejumlah titik di DIY pada Februari dan Maret lalu. Intensitas hujan yang cukup tinggi ditambah dengan tersumbatnya aliran ke sungai akibat banyaknya sampah yang dibuang ke selokan membuat banyak parit meluap dan banjir.
Kepala Pelaksana BPBD DIY Noviar Rahmad mengatakan, pada 1 Mei mendatang Pemda DIY telah menerapkan desentralisasi sampah secara penuh untuk kabupaten kota wilayah setempat. Kesiapan sejumlah pihak harus didorong agar bisa mengolah sampah dengan metode masing-masing dan masyarakat tidak membuang sampah ke sungai dan parit atau selokan.
"Potensi masyarakat buang sampah ke sungai itu pasti ada dan saat hujan lebat banyak sungai meluap akibat tersumbat dan terjadi banjir," katanya, Kamis (25/4/2024).
BPBD DIY, kata Noviar akan menggencarkan edukasi agar masyarakat sadar untuk mengolah sampah secara mandiri. Khususnya di Kota Jogja yang disinyalir tingkat kesadaran masyarakat untuk memilah dan mengolah sampah masih kurang. Jangan sampai musim hujan yang masih berlangsung beberapa waktu ke depan semakin diperparah dengan sampah yang menumpuk di sungai.
"Fenomena itu bisa berakibat fatal yang berdampak pada tersumbatnya aliran air dan banjir," ujarnya.
Noviar mencatat, ada beberapa titik yang dilanda banjir akibat tersumbat sampah dan hujan deras beberapa waktu lalu di antaranya di Ringroad Utara, Condongcatur dan sejumlah wilayah di Kota Jogja. Padahal area itu disebutnya tidak tergolong rawan banjir, tetapi lantaran adanya tumpukan sampah menjadi meluap dan mengganggu aktivitas warga sekitar.
"Artinya kesadaran masyarakat perlu digugah lagi supaya membuang sampah yang benar. Depo sampah di Jogja kan banyak, ya dibuang di sana nanti akan dikelola Pemkot Jogja dengan metode pengolahan," ujarnya.
Noviar menambahkan, jika masih ditemukan adanya masyarakat yang membuang sampah sembarangan maka pihaknya tidak segan menindak dengan pidana ringan atau denda. Hanya saja pihaknya berharap disiplin masyarakat terbentuk dengan sendirinya untuk menjaga ketertiban dan kelestarian lingkungan masing-masing.
"Kami berharap upaya pendisiplinan soal sampah dilakukan juga, tetapi kesadaran masyarakat lah yang harus diutamakan. Jadi kami berharap bukan hanya aksi dari pemerintah tapi masyarakat juga sadar," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kecelakaan di Jalan Terong–Mangunan Bantul menewaskan pejalan kaki. Polisi sebut jarak dekat jadi penyebab utama.
Skema Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dinilai bisa menjadi jalan bagi SMK untuk keluar dari ketergantungan anggaran dan mulai membiayai pengembangannya sendiri
Polresta Jogja melengkapi berkas kasus dugaan kekerasan anak di daycare Little Aresha dengan 147 saksi dan 13 tersangka.
Pemkab Gunungkidul meminta dispensasi penggunaan solar untuk bus sekolah akibat kenaikan BBM nonsubsidi yang membebani anggaran operasional.
Debarkasi haji di YIA mulai disiapkan menyambut kepulangan jemaah pada 2 Juni 2026 dengan sistem tanpa asrama pertama di Indonesia.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.