Penurunan Harga Belum Signifikan, Pemkot Gelar Lagi Operasi Pasar Gula

Petugas menurunkan gula untuk diambil LPMK, dalam operasi pasar di Balai Kota Jogja, Senin (4/5/2020). - Harian Jogja/Lugas Subarkah\\n
04 Mei 2020 15:57 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sebagai upaya untuk menstabilkan harga gula yang sampai saat ini di pasaran masih sekitar Rp17.000, Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja kembali menggelar operasi pasar di Balai Kota Jogja, Senin (5/4/2020). Sebanyak dua ton gula disediakan dalam operasi pasar ini.

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi, menjelaskan seperti operasi pasar pertama pada Rabu (22/4/2020) lalu, warga diwakilkan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) untuk mengambil gula di Balaikota Jogja. "Nanti LPMK yang mendistribusikan ke warga," ujarnya.

Harga gula yang dijual dalam operasi pasar ini sesuai harga eceran tertinggi (HET), yakni Rp12.500 per kilogram. Masing-masing kelurahan mendapat jatah sebanyak 44 kilogram, naik 10 kilogram dari operasi pasar sebelumnya yakni 33 kilogram.

Berdasarkan evaluasi dari operasi pasar sebelumnya, penurunan harga gula di pasaran belum sesuai yang ditargetkan, yakni hanya sekitar Rp500. Maka operasi pasar tidak cukup hanya sekali, tapi perlu terus dilakukan.

Operasi pasar juga akan digelar kembali menjelang lebaran mendatang, sehingga diharapkan pada saat lebaran harga gula bisa kembali normal. "Dengan operasi pasar juga mempermudah distribusi karena LPMK langsung mengambil dan bayar ditempat," ujar dia.

Terkait dengan stok pangan, dia mengungkapkan di Kota Jogja masih mencukupi hingga tiga sampai empat bulan ke depan. Meski selama Ramadan ada lonjakan permintaan, dari distributor dan pedagang besar telah memastikan stok harian aman.

Staf Bagian Pemasaran Pabrik Gula Madukismo, Bambang Winarso, mengatakan penyediaan gula untuk operasi pasar kali ini diambil dari stok impor. "Sudah dapat izin dari pemerintah untuk impor, kami sudah impor 10.000 ton," ungkapnya.

Dia menuturkan Madukismo sampai saat ini belum memasuki masa giling akibat pandemi Corona. Dengan pembatasan sosial dan fisik pihaknya kesulitan mengumpulkan dan mengoperasionalkan pekerja. “Penggilingan biasanya mulai April. Karena mundur, dia menargetkan mulai masa giling setelah Lebaran,” ucap dia.