Banjir dan Pohon Tumbang Masih Terjadi di Sleman, Waspadalah!

Petugas TRC BPBD kabupaten Sleman saat melakukan upaya pemotongan dahan pohon yang tumbang hingga menutupi akses jalan umum di Jogotirto, Berbah, Sleman, Sabtu (9/5/2020). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
13 Mei 2020 01:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Sejumlah pohon tumbang menimpa rumah warga ketika hujan deras disertai angin kencang terjadi pada Senin (12/5/2020). Bahkan, banjir setinggi kurang lebih 50 cm atau setinggi lutut orang dewasa terjadi di wilayah kecamatan Gamping, Sleman.

Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Makwan mengatakan jika sejumlah pohon tumbang terjadi di tiga kecamatan di Bumi Sembada. Diantaranya, kecamatan Cangkringan, Mlati, dan Gamping.

"Pohon tumbang rata-rata jatuh hingga menutup akses jalan. Walaupun pohon tumbang juga menimpa sebuah rumah di Wukirsari, Cangkringan, Sleman. Bahkan, pohon tumbang juga menimpa mobil di Sendangadi, Mlati, Sleman," ujar Makwan, Selasa (12/5/2020).

Lebih lanjut, pohon tumbang yang terjadi imbas hujan disertai angin kencang yang terjadi pada Senin (11/5/2020) lalu tersebut tidak menimbulkan adanya korban jiwa. Sebelumnya, lanjut Makwan, BMKG Staklim Mlati juga telah memperingatkan bahwa di wilayah DIY khususnya Sleman bakal diguyur oleh hujan dengan intensitas lebat disertai dengan angin kencang.

"Tidak hanya pohon tumbang, banjir setinggi 50 cm atau lutut orang dewasa juga sempat terjadi di Ambarketawang, Gamping, Sleman sehingga mengakibatkan lima rumah warga terendam air. Satu unit sumur warga juga terdampak imbas banjir," imbuh Makwan.

Saat hujan lebat disertai angin kencang terjadi di sebagian besar wilayah kabupaten Sleman ancaman pohon tumbang memang selalu menghantui warga. Seperti halnya, pada Sabtu (9/5/2020) pohon tumbang juga terjadi di wilayah kecamatan Berbah dan Depok

"Di kecamatan Berbah sebuah pohon berukuran diameter 50 cm tumbang di area pekarangan rumah sehingga menghalangi akses jalan umum. Sedangkan, di Klebengan, Caturtunggal, Depok, Sleman pohon berdiameter 30 cm juga tumbang hingga menutup akses jalan, warga kami minta untuk waspada jika hujan disertai angin kencang terjadi," ungkap Makwan.

Pohon tumbang memang tidak dipungkiri masih menjadi momok masyarakat ketika hujan disertai angin kencang yang masih kerap terjadi di bulan April ini. Kepala BPDB Sleman Joko Supriyanto sebelumnya mengatakan jika pada saat musim pancaroba ini laporan pohon tumbang yang masuk melalui Pusdalops BPBD Sleman diakuinya cukup banyak.

Oleh karena itu, ia dan jawatannya selalu melakukan koordinasi dengan 54 komunitas dengan anggota sekitar 2.500 relawan guna menangani pohon tumbang.

"2.500 relawan itu di bawah komando BPBD, setiap tahun kita berikan sosialisasi kecakapan mengenai penanganan kedaruratan bencana, BPBD juga memberikan BPJS ketenagakerjaan kepada 600 relawan, setiap ada kejadian relawan dan masyarakat langsung menginformasikan BPBD via Pusdalops BPBD Sleman," tutupnya.

Potensi cuaca ekstrem masih berpotensi cukup tinggi terjadi di wilayah DIY. Hal tersebut berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer terkini yang dilakukan oleh BMKG Staklim Mlati Yogyakarta.

Kepala Staklim Mlati Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan jika potensi cuaca ekstrem tersebut dipicu oleh keberadaan Madden Julian Oscillation (MJO) berada pada fase tiga dan pola tekanan rendah masih cukup aktif di Selatan Pulau Jawa dan Australia bagian Utara.

"Keberadaan sirkulasi siklonik di atas wilayah Jawa bagian Timur dan konvergensi di Selatan Jawa secara tidak langsung mempengaruhi aktivitas konvektif di wilayah DIY," ujar Reni.