Umat Lintas Agama Diajak Berdiskusi tentang Kesetiakawanan Sosial Hadapi Pandemi Covid-19

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
20 Mei 2020 09:47 WIB Nina Atmasari Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Covid-19 menyebabkan Indonesia, bahkan negara-negara di seluruh dunia berhadapan dengan kemandegan sosial. Untuk memutuskan mata rantai covid-19, interaksi langsung antara manusia harus ditiadakan. Penularan covid-19 terjadi melalui manusia. Manusia menjadi hama terhadap sesama. Virus SARS-cov-2 ini telah menjungkirbalik hakekat manusia sebagai makluk sosial.

Direktur Yayasan Griya Jati Rasa, Farsijana Adeney-Risakotta menjelaskan pihaknya ingin melakukan kegiatan merefleksikan secara mendalam kegiatan kedaruratan yang sudah dilaksanakan, agar menemukan makna pembelajaran yang dapat diambil. "Ini untuk kebaikan mutu kehidupan masyarakat di Indonesia ke depan," katanya, dalam rilis, Rabu (20/5/2020).

Yayasan ini bekerjasama dengan Pusat Studi Pembangunan dan Transformasi Masyarakat, Fakultas Bisnis UKDW, Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa, Pondok Pesantren Sunan Kalijaga, Gesikan, Bantul serta Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM.

Diskusi ini akan membahas tindakan-tindakan iman yang dilakukan oleh warga masyarakat dalam membangun kesetiawanan sosial dan menjaga kehidupan pribadi, keluarga yang bersih dan sehat dalam memelihara imunitas diri di tengah wabah covid-19.

Kegiatan refleksi ini dimungkinkan karena ketersediaan fasilitas zoom. Tujuan yang ingin diraih adalah menggali dasar-dasar iman dalam melakukan kesetiawan sosial dan kewirausahaan sosial seperti yang dipraktekkan oleh umat muslim dan Kristen di DIY di masa Covid-19.

Pihaknya juga ingin memastikan adanya upaya umat beragama dalam keberlanjutan produksi berbasis anggota masyarakat yang ada di rumah masing-masing untuk menjaga ketersediaan makanan dalam masyarakat.

"Memastikan masyarakat bekerjasama dengan pemerintah desa dan daerah mengakses program bantuan sosial yang disediakan oleh pemerintah dan mendorong organisasi ekonomi untuk terpanggil membangun system keberlanjutan produksi warga prasejahtera," jelasnya.

Ia juga ingi membangun kembali komunikasi sosial dalam masa pembatasan fisik sosial untuk memikirkan bersama makna menjadi manusia baru sesudah menjalani bulan puasa dan menjadi manusia yang diselamatkan oleh karena pengorbanan Kristus.

Untuk memformulasikan tujuan tersebut ke dalam langkah-langkah strategi, terstruktur dan terukur, maka perlu dilakukan diskusi terbuka yang melibatkan tokoh-tokoh masyarakat, pendidik, agama maupun anggota masyarakat baik sebagai mereka yang memproduksi maupun mereka sebagai yang membeli.

Kegiatan diskusi online ini diharapkan bisa berlangsung setidaknya sebulan sekali untuk memungkinkan peserta bisa mengekpresikan harapan bersama dalam masa pandemic Covid-19.

Diskusi pertama akan menghadirkan narasumber adalah Andry Lesmono, Ustad Beny Susanto, Farsijana Adeney-Risakotta dengan moderator Najib Azca. Peserta adalah anggota Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa dan warga masyarakat luas baik yang ada di DIY maupun luar daerah dengan jumlah peserta kurang lebih 100 orang.

Kegiatan akan digelar melalui media Zoom pada Kamis (21/5/2020) Pukul 12.30-14.30 WIB.