DP3AP2 DIY Gagas Aplikasi Make It Happen

Pembicara dalam acara peluncuran Make It Happen Media Komunikasi Terpadu Pelopor dan Pelapor Forum Anak DIY yang diselenggarakan secara daring lewat Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY, Kecamatan Jetis, Kamis (4/6/2020).- Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
04 Juni 2020 22:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY menggagas sebuah media komunikasi terpadu forum anak yang akan menjadi salah satu media untuk melaksanakan fungsi forum anak sebagai pelopor dan pelapor. Aplikasi ini bernama Make It Happen.

Pelaksana Tugas Kepala DP3AP2 DIY Tri Mulyono mengatakan aplikasi Make It Happen (MIH) merupakan sebuah basis data web daring yang mengintegrasikan ruang pelaporan kondisi dan kegiatan forum anak daerah tingkat provinsi sampai dengan desa dan kampung dengan pelaporan data pelaksanaan fungsi forum anak sebagai pelopor dan pelapor.

“MIH diharapkan dapat menjadi jembatan yang memudahkan forum anak di DIY untuk menyampaikan progres kegiatannya dalam rangka pelaksanaan fungsi forum anak sebagai Pelopor dan Pelapor. MIH juga dapat menjadi lintasan untuk menuliskan dan memublikasikan kegiatan yang sudah dilaksanakan forum anak di web DP3AP2 DIY,” ujarnya dalam agenda peluncuran MIH di Kantor DP3AP2 DIY, Kecamatan Jetis, Kamis (4/6/2020).

Data yang dilaporkan di antaranya data pemenuhan hak anak yang meliputi data kondisi dan pelibatan forum anak di DIY, data dampak atau bencana terkait perubahan iklim, data pekerja anak, perkawinan usia anak, dan data anak yang berkonflik dengan hukum.

Melalui aplikasi MIH, forum anak dari tingkat provinsi sampai dengan tingkat desa dan kampung dapat memberikan informasi terkait dengan apa yang sudah dilakukan. Mereka juga bisa memberikan informasi tentang kondisi forumnya serta kondisi permasalahan anak-anak di sekitarnya.

Kiprah Anak
Munculnya aplikasi ini didorong analisa selama ini DP3AP2 sering kesulitan untuk memperoleh informasi yang lengkap tentang kiprah anak-anak di masyarakat karena anak-anak Jogja tidak narsis. Fenomena itu yang menjadi variabel apabila dilihat dari Pemerintah Pusat kegiatan anak-anak di Jogja sedikit. Padahal, sebenarnya potensi dan aktualnya banyak sekali dan berkualitas.

Demikian juga, pemasalahan anak seperti anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), pekerja anak, perkawinan usia anak. Anak-anak mendapatkan informasi tersebut dari lapangan langsung karena terjadi di sekitarnya, banyak yang tidak terkomunikasikan sehingga jawatannya tidak tahu bahwa permasalahan-permasalahan tersebut ada dan nyata terjadi di lapangan.

Di masa pandemi Covid-19 ini, menurut Tri, masyarakat belum bisa melaksanakan kegiatan seperti biasanya karena keterbatasan gerak dan protokol kesehatan yang harus ditaati untuk mencegah meluasnya pandemi Covid-19 di DIY. Walaupun, masyarakat akan masuk ke masa kenormalan baru.

Namun, ini merupakan tantangan bagi DP3AP2 dan juga anak-anak di DIY untuk terus berinovasi dan tetap produktif serta efektif bekerja demi mencapai cita-cita. “Terus melakukan upaya kreatif yang dapat bermanfaat bagi orang banyak,” tandasnya.