Ibadah Haji Ditiadakan, Omzet Pemilik Toko Perlengkapan Haji Anjlok

Ilustrasi ibadah haji dan umrah. - JIBI
04 Juni 2020 06:57 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - Para pemilik toko penyedia perlengkapan haji dan umrah di Kulonprogo, mengalami penurunan omzet yang cukup tajam pada masa pandemi Covid-19. Keputusan Menteri Agama, Fachrul Razi yang meniadakan kegiatan haji tahun ini, dipastikan memperpuruk kondisi perekonomian mereka.

Pasalnya tak sedikit dari para pelaku usaha itu sudah kulakan perlengkapan haji sejak jauh-jauh hari. Salah satunya dilakukan Toko Az-Zahra yang khusus menyediakan perlengkapan haji dan umrah.

Pemilik Toko Az-Zahra, Yati, mengatakan sejak tiga bulan lalu, pihaknya sudah menyetok pelbagai perlengkapan haji, mulai dari matras, sandal, sajadah, kantong penyimpanan krikil untuk prosesi lempar jumrah, hingga busana ihram perempuan. Kurma dan air zam-zam yang biasanya menjadi oleh-oleh sepulang berhaji juga sudah disediakan tokonya.

"Tapi ternyata ibadah haji tahun ini ditiadakan," ujar Yati, saat ditemui wartawan di tokonya di wilayah Driyan, Kelurahan Wates, Kapanewon Wates, Rabu (3/6/2020).

Yati mengatakan dengan ditundanya ibadah haji, maka barang-barang yang disetoknya kemungkinan bakal sulit terjual. Omzetnya yang dalam sehari pada saat musim haji seperti ini bisa mencapai Rp4 juta, kali ini diprediksi sulit tercapai. "Kalau tahun-tahun kemarin, dalam sehari omzet kami Rp3-4 Juta, tahun ini dapat Rp1 juta aja rasanya sulit," ujarnya.

Walaupun begitu, Yati mengaku tidak kecewa. Ia menyadari keputusan pemerintah meniadakan ibadah haji tahun ini bertujuan untuk kebaikan bersama. Di samping itu, ia juga masih bisa menjual stok makanan seperti kurma dan air zam-zam yang tetap laku pada hari-hari biasa. "Pada Ramadan kemarin, Alhamdulillah kurma cukup laris untuk keperluan buka puasa. Air zam-zam juga cukup laku, orang-orang biasanya beli eceran satu liter," terangnya.

Sementara itu, Toko Ar Raudhoh, yang juga menyediakan pelbagai macam perlengkapan haji dan oleh-oleh di Driyan, Wates, pada tahun memilih tidak kulakan. Pemilik toko Sutrisno NS, mengatakan keputusannya untuk tidak nyetok barang dagangan itu diambil berdasarkan pengamatannya di lapangan. Ia meyakini pandemi Covid-19 bakal berlangsung lama, sehingga kegiatan haji dipastikan gagal terlaksana.

Di samping itu juga karena adaya informasi rencana peniadaan ibadah haji dari pihak Arab Saudi yang diterimanya pada akhir Februari 2020. "Kebetulan saat awal kemunculan Covid saya tengah membawa rombongan jemaah umrah. Dari disitu saya mendapat informasi dari pihak Arab Saudi kalau kemungkinan ibadah haji ditiadakan. Sehingga saya pilih buat tidak nyetok aja, stok kemari untuk kebutuhan puasa," terangnya.

Dia mengaku selama masa pandemi Covid-19, omset usahanya mengalami penurunan sangat tajam. Diperkirakan mencapai seratus persen. Hal ini karena tidak adanya orang yang berangkat umrah, menjadikan pernak-pernak haji dan umrah tidak laku. "Hanya pakaian seperti sarung, kopiah dan makanan yang laku saat puasa hingga menjelang lebaran," ujar pria yang juga membuka usaha biro perjalanan umrah tersebut.Foto: Sutrisno NS menata pernak-pernik haji yang dijual di toko Toko Ar Raudhoh, Driyan, Wates, Rabu (3/6/2020).