Warga di Sleman Tetap Tenang Saat Erupsi Merapi, Tak Ada Laporan Kepanikan

Wisatawan asing melintas di lereng Gunung Merapi wilayah Kaliadem, Cangkringan, Sleman, setelah terjadi erupsi, Selasa (3/3/2020). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
21 Juni 2020 14:07 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Gunung Merapi mengalami erupsi dua kali pada Minggu (21/6/2020), namun tidak ada kepanikan dari warga yang beraktivitas di lereng Merapi. Apalagi, tidak terjadi hujan abu di sisi Selatan Merapi.

Salah seorang tokoh masyarakat di Kepuharjo, Heri Suprapto menjelaskan erupsi Merapi terjadi begitu saja. Sama dengan erupsi sebelumnya, warga tidak panik namun tetap waspada.

Bahkan, lanjut Heri, aktivitas warga termasuk kegiatan pariwisata di lokasi tersebut masih berjalan seperti biasa. "Pariwisata dan penambahan tetap berjalan. Kegiatan masyarakat juga berjalan seperti biasanya," kata Heri kepada Harianjogja.com, Minggu.

Baca juga: Hari Ini, Merapi Erupsi Bertepatan dengan Ultah Jokowi hingga Ramalan Kiamat

Meskipun terjadi dua kali erupsi, lanjut dia, warga di sisi Selatan lereng Merapi juga tidak merasakan adanya hujan abu. Dijelaskan Heri, sebelum erupsi terjadi tidak ada hal-hal yang mengejutkan yang dirasakan warga. Kondisi cuaca dan suasana di lereng Merapi juga tidak jauh berbeda sebelum erupsi terjadi.

"Mboten mas, sami mawon hawanipon (enggak mas, sama saja cuacanya)," kata Heri.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan mengatakan berdasarkan pantauan yang dilakukan tim di sejumlah lokasi di lereng Merapi tidak ada laporan adanya hujan abu di wilayah Sleman. "Pantauan hujan abu sampai pukul 11.00 siang, baik di Kecamatan Turi, Pakem dan Cangkringan tidak ada laporan hujan abu," kata Makwan.

Baca juga: Ini Video Detik-Detik Gunung Merapi Erupsi Minggu Pagi

BPBD Sleman, kata Makwan terus melakukan pemantauan situasi kondisi wilayah pasca erupsi. "Kami tetap sampaikan himbauan agar warga untuk tetap tenang dan tidak panik dan antisipasi abu vulkanik," katanya.

Terpisah, Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan erupsi Merapi pada Minggu (21/6/2020) terjadi sebanyak dua kali. Erupsi pertama pukul 09.13 WIB. Erupsi tercatat di seismogram dgn amplitudo 75 mm dan durasi 328 detik. Teramati tinggi kolom erupsi ± 6.000 meter dari puncak. "Arah angin saat erupsi ke barat. Hingga saat ini yang melaporkan hujan abu di wilayah Srumbung, Ngepos [Magelang]," kata Hanik.

Sementara erupsi kedua terjadi pada pukul 9.27 WIB dgn amplitudo 75 mm dan durasi 100 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati karena kondisi di wilayah Merapi tertutup awan. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang. Jarak bahaya dalam radius 3 km dari puncak. "Nanti akan kami informasikan kembali," katanya.

Baca juga: Arah Angin ke Barat, Hujan Abu Merapi Terjadi hingga Muntilan Magelang

Setelah ditetapkan status waspada pada 21 Mei 2018 lalu, Merapi sudah mengalami erupsi beberapa kali. BPPTKG mengatakan jika potensi ancaman bahaya saat ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif. Oleh karenanya, area dalam radius 3 km dari puncak Merapi tidak diperbolehkan ada aktivitas manusia.

Masyarakat juga diminta untuk mengantisipasi bahaya abu vulkanik dari kejadian awanpanas maupun letusan eksplosif. Masyarakat juga diminta agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak Merapi.