Sulit Temukan Sarana Cuci Tangan di Pasar Tradisional Kota Jogja

Tangkapan layar hasil penelitian akademisi terkait penerapan protokol kesehatan di sejumlah tempat usaha di Kota Jogja. - Harian Jogja/Sunartono.
27 Juni 2020 14:27 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Peneliti mendapati sulitnya menemukan sarana cuci tangan serta tidak teraturnya jaga jarak pedagang dan pembeli di Pasar Tradisional Kota Jogja. Berbeda dengan jenis usaha lain seperti pertokoan dan kafe hingga pedagang kaki lima (PKL) yang sudah banyak menerapkan jaga jarak dan menyediakan tempat cuci tangan.

Akdemisi dari Arsitektur UII Suparwoko menjelaskan pihaknya telah melakukan pemantauan di berbagai tempat usaha mulai dari pasar tradisional hingga supermarket di Kota Jogja dalam penerapan protokol pencegahan Covid-19. Pasar tradisional menjadi salah satu yang sulit menerapkan protokol kesehatan karena tidak menyediakan tempat cuci tangan.

BACA JUGA : 13 Pasar di Sleman Dijaga Satgas Covid-19

“Saya sulit sekali melihat tempat cuci tangan di pasar tradisional, kalau handsanitizer ada yang membawa pedagangnya, tempat cuci [tangan] sulit sekali,” katanya dalam diskusi virtual bertajuk Transisi Tatanan Baru: Analisi Pembangkitan UMKM Yogyakarta yang diunggah di akun Youtube terpantau Sabtu (27/6/2020).

Selain itu, sulit kondisi pedagang dan pembeli sulit mengatur jaga jarak. Dalam pantauannya di Pasar Demangan misalnya, kerumunan sangat terlihat di gang tengah dan sisi depan pasar. Berbeda dengan gang pinggiran dalam pasar yang relatif sepi. Titik kerumunan di gang tengah dan bagian depan pasar akan menjadi persoalan tersendiri dalam upaya menerapkan protokol kesehatan.

“Referensi yang kami dapatkan, yang jadi persoalan pedagang di pasar Kota Jogja tidak mau digilir untuk genap ganjil ini jadi masalah, ini perlu didorong agar kesadaran lebih tinggi, agar memberikan jaminan keamanan jaga jarak,” kata Kaprodi Magister Arsitektur FTSP UII ini.

BACA JUGA : Besok Pedagang di 14 Pasar di Sleman Jalani Rapid Test

Menurutnya, tempat usaha yang dinilai baik menerapkan protokol kesehatan adalah kafe dan supermarket. Sedangkan jenis usaha lain yang perlu ditingkatkan dalam penerapan protokol kesehatan adalah toko, PKL & angkringan. Di mana dari tiga indikator seperti tempat cuci tangan, masker dan jaga jarak masih ada yang belum dipatuhi.

“Misalnya angkringan, sudah memakai masker semua, tetapi ada yang tidak menyediakan tempat cuci karena memang penjualnya belum mampu membeli ember. Tetapi untuk PKL atau toko yang terorganisasi sudah cukup banyak menerapkan,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi dalam diskusi itu juga mengungkap pihaknya sudah mengumpulkan para pelaku usaha terutama kalangan UMKM untuk memberikan rasa aman dari Covid-19 bagi siapa saja yang datang. Oleh karena itu penerapan protokol kesehatan harus dilakukan di setiap tempat usaha. Menurutnya saat ini Jogja memang cukup ramai namun belum memberikan dampak perputaran ekonomi yang signifikan karena rata-rata tempat usaha masih sepi.

“Kepadatan di jalan tidak sebanding dengan perputaran ekonominya. Pertanyaannya, apakah orang ini masih belum merasa aman [untuk datang ke toko atau warung]. Yang penting bagi kita semua, bahwa selama kita tidak bisa memberikan rasa aman kepada yang datang di warung kita, orang tidak akan berani datang,” ujarnya