Cerita Kristiyanto, Warga Sleman yang 52 Hari Berjuang Melawan Covid-19 & Jalan Kaki ke Rumah Begitu Sembuh

Kristiyanto (depan) bersama ibunya Waginah saat ditemui di rumahnya di Dusun Drono, Kelurahan Tridadi, Kecamatan Sleman, Sleman, pada Senin (29/6/2020). - Harian Jogja/Hery Setiawan
04 Juli 2020 09:07 WIB Hery Setiawan (ST18) Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Kristiyanto, seorang pasien Covid - 19 dari klaster Indogrosir akhirnya dinyatakan sembuh setelah 52 hari berjuang melawan virus Corona beberapa waktu lalu. Ia mewujudkan rasa syukurnya dengan berjalan kaki dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito sampai rumahnya di Dusun Drono, Kelurahan Tridadi, Kecamatan Sleman, Sleman.

Senin (29/6/2020) menjelang tengah hari, Dusun Drono sepi. Sebagian besar penduduknya sedang beristirahat siang. Kristiyanto baru saja terbangun oleh kedatangan Harian Jogja. Ia sama sekali tak keberatan untuk bercerita tentang suka dukanya menjadi pasien positif Covid - 19. Termasuk bicara soal nazar kesembuhannya.

Khawatir, cemas, dan takut adalah tiga kata yang mewakili perasaannya begitu mendengar ia reaktif rapid test pada awal Mei lalu. Ia pun mengisolasi dirinya di rumah bersama dengan keluarga. Situasi semakin sulit tatkala ia dipanggil untuk isolasi di Rumah Sakit Paramedika, Sleman. Selama 10 hari ia menunggu hingga tiba jadwal swab test.

BACA JUGA: Zonasi Wisata Malioboro Sudah Berlaku, Seperti Ini Penerapannya

Sesaat ia mendengar kabar baik. Hasil test swab pertama menunjukkan negatif. Namun,  sehari berselang hasil tes kedua menyatakan dirinya positif Covid - 19. Ia pun langsung dirujuk ke RSUP Dr. Sardjito.

“Sebetulnya saya sehat juga. Enggak ada gejala sama sekali. Tapi hasilnya positif, ya sudahlah,” katanya.

Menjadi pasien positif Covid - 19 membuat laki-laki yang akrab disapa Kris itu harus berjauhan dengan keluarga. Pikiran kalut dan depresi juga kerap mampir melintas dalam benaknya.

BACA JUGA: 4 Kecamatan di Sleman Tinggalkan Zona Merah Covid-19

Anak, istri, dan orang tua Kris tak henti-hentinya bertanya kapan ia pulang. Untuk sementara, mereka hanya bisa bersua lewat gawai. Bukannya lega, hal itu justru membuat Kris semakin sedih. Apalagi, Kris terbilang lama tinggal di ruang perawatan. Rekan-rekannya sesama pegawai Indogrosir, bahkan ada yang sudah diperbolehkan pulang setelah dua kali swab test.

Belum lagi gejolak di lingkungan masyarakat yang membuat beban pikiran Kris makin bertambah. Rasa tak enak hati kepada warga terus menggaggu pikirannya. Saat melakoni isolasi di rumah, Kris tak serta merta menjauh dari warga. Ia ingat punya tanggung jawab menyalurkan konsumsi ronda. Beberapa warga pun juga sempat bersua dengannya.

"Saya cemas dan takut. Jauh dari keluarga, istri, dan anak. Saya juga khawatir kalau nanti sembuh warga menolak kepulangan saya," ujarnya.

BACA JUGA: Kasus Naik Jadi 128, ODP Capai 2.608! Ini Data Sebaran Covid-19 di Sleman Tiap Kecamatan

Saat Kris dinyatakan Covid - 19, penelusuran terhadap warga yang berpotensi tertular pun dilakukan. Didapati sekitar 20 orang termasuk anggota keluarga Kris diharuskan ikut rapid test.

Depresi dan stres yang sebelumnya mengganggu perlahan mulai mereda. Hasil rapid test warga yang pernah berkontak fisik dengannya menunjukan nonreaktif, termasuk keluarganya.

Kris terus bertahan dalam situasi sulit itu. Sebisa mungkin, ia turuti apapun perintah dokter dan perawat. Bantuan semangat juga datang dari kepala dusun, ketua RT, dan ketua RW yang. Itu bagi Kris sungguh melegakan.

Ia mulai menyadari satu hal bahwa Covid - 19 bukan soal dirinya saja. Kesembuhan adalah hasil dari sumbangsih keluarga dan warga yang terus mendukungnya. Inilah yang menjadi latarbelakang nazar kesembuhan. Apabila hari kesembuhan itu datang, ia akan berjalan kaki dari RSUP Dr. Sardjito sampai rumanya di Dusun Drono.


BACA JUGA: Takut Gunung Merapi Meletus, Alasan PSSI Coret Mandala Krida Jadi Venue Piala Dunia U-20 2021

Jumat (26/6/2020), ia berada di ruang perawatan. Di sebuah sudut ruangan, ada pelantang yang jadi alat berkomunikasi para pasien dan petugas kesehatan. Tiba-tiba, terdengar suara yang selama ini sangat Kris nantikan.

“Hasil swab test kesebelas sudah keluar. Hasilnya negatif. Mulai hari ini Mas Kris sudah boleh pulang,” tutur Kris menirukan suara yang ia dengar melalui pengeras siara di ruang perawatan.

Rasa bahagia seketika ia rasakan setelah 52 hari berjuang melawan Covid - 19 yang mendekam dalam tubuhnya. Kris langsung menyampaikan kesembuhan itu kepada istrinya. Mendengar kabar itu, istri Kris juga merasakan perasaan yang sama. Kris bersiap pulang. Mulanya, istri Kris berniat menjemput suaminya. Tetapi Kris ingat kalau ia punya nazar yang harus ditunaikan. Istrinya pun tak keberatan.

BACA JUGA: Tanpa Data, Kim Jong Un Klaim Korea Utara Menang Lawan Virus Corona

Sore hari, Kris berangkat dari rumah sakit. Ia tak secara terang-terangan minta izin pulang jalan kaki. Kris mengaku kepada rumah sakit bahwa ia akan dijemput sang istri.

Kris harus menempuh jarak sepanjang 8,5 km. Ia memilih rute Pogung, lalu melewati Jalan Monjali. Perjalanan dilanjutkan melalui Jalan Ring Road Utara sampai Fly Over Jombor. Setelah itu ia terus melaju ke arah utara sampai tiba di kediamannya.

Selama perjalanan, Kris dibuat kaget. Ternyata, sejumlah warga mulai mengawal perjalanan Kris. Mulanya satu hingga tiga orang saja. Jumlah pengawal Kris makin bertambah jelang akhir perjalanan. Ia disambut bak seorang pahlawan yang baru saja pulang membawa kemenangan. Spanduk bertuliskan "Selamat Datang Mas Kris, Jawara dari Drono" terpampang menyambut kedatangannya.

Kris akhirnya pulang. Salaman siku antara Kris dan warga menjadi tanda bahwa ia diterima kembali sebagai bagian dari masyarakat. Rumah Kris mendadak ramai oleh warga yang ingin menjadi saksi kesembuhan pasien Covid - 19.

BACA JUGA: Mau Gaet Wisman? UGM: Patuhi Protokol karena Wisman Butuh Jaminan Keamanan Berbasis Fakta

Masyarakat juga menyiapkan upacara sederhana untuk menyambut kepulangan Kris. Kepala Dusun Drono Waluyo Jati Kusumo telah merencanakan itu sejak jauh-jauh hari. Ia menyadari satu hal bahwa musibah yang diderita keluarga Kris memberi dampak yang cukup besar terhadap keharmonisan antar warga. Warga seketika menjadi saling curiga. Tak jarang, aksi saling menjauhi juga sempat ia rasakan.

Laki-laki yang akrab disapa Jati paham apa yang semestinya ia lakukan. Jati punya dua tugas utama, yakni memberi edukasi kepada warga soal Covid - 19 serta memberi dukungan kepada keluarga Kris.

“Saya kasih semangat buat Mas Kris. Pokoknya kasih tahu ke dia enggak perlu khawatir sama keluarga. Mereka sudah saya daftarkan BLT. Warga dari perwakilan tiap RT juga ada yang menengok keluarga Mas Kris di rumah. Mereka juga ikut ngasih bantuan. Mas Kris hanya perlu tenang dan fokus sama penyembuhan. Soalnya kalau Mas Kris daya tahan tubuh bisa lebih bagus," kata Jati kepada Harian Jogja.

Penyambutan juga merupakan bentuk rasa syukur. Ia berharap warganya tak lagi saling menjauh, bahkan curiga hanya karena ada satu orang yang reaktif rapid test.