Kampus di Sleman Kesulitan Dapat Mahasiswa

Ilustrasi mahasiswa - Pixabay
10 Juli 2020 19:27 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Sejumlah kampus swasta di Kabupaten Sleman mengalami penurunan pendaftaran calon mahasiswa baru (camaba) lantaran banyak calon pendaftar yang memutuskan menunda kuliah tahun depan akibat pandemi merebak.

Mekanisme penerimaan mahasiswa baru (PMB) pada perguruan tinggi swasta (PTS) di Kabupaten Sleman terbilang mudah. Pandemi Covid-19 membuat pelaksanaan PMB beradaptasi dengan mekanisme seleksi daring. Hal ini sejatinya membuka peluang penjaringan camaba menjadi lebih luas karena pendaftar tidak diwajibkan datang ke kampus, cukup mengunggah persyaratan pendaftaran via daring.

Namun, hal itu tidak serta merta membuat kampus swasta tersebut dibanjiri peminat. Adanya pandemi yang membuat perkuliahan beralih ke metode jarak jauh dan dilakukan secara daring itu membuat calon pendaftar mengurungkan niatnya mendaftar kuliah.

Hal ini dituturkan oleh Eka Setyadi, Rektor Universitas Kristen Immanuel (Ukrim). Menurutnya, pandemi tak begitu mempengaruhi mekanisme PMB, karena seleksinya bisa dilakukan secara daring. Apalagi Ukrim memiliki jalur PMB yang terbilang sederhana yaitu hanya mensyaratkan nilai rapor SMA.

Yang menjadi kendala utama baginya justru minat pendaftar, terutama orang tua camaba. Perkuliahan daring ini masih sulit diterima kalangan orang tua camaba sehingga kebanyakan dari mereka meminta anaknya tidak mendaftar kuliah terlebih dahulu.

"Rupanya pengaruhnya ada di orang tuanya. Pertama, orang tua tidak mau melepas anaknya untuk kuliah jauh dari rumah karena pandemi. Yang kedua, orang tua menunda kuliah anaknya karena banyak yang nggak memahami kuliah daring. Menurut mereka, kuliah daring kok bayar. Selanjutnya, keterbatasan sinyal internet untuk kuliah daring juga jadi kendala," jelas Eka ketika dihubungi Harianjogja.com pada Jumat (10/7/2020).

Diakuinya, peminat di kampusnya jadi menurun dengan adanya kondisi itu. Jika pada bulan Juli tahun-tahun sebelumnya, kampus bisa menjaring sekitar 75-80% kuota PMB, maka bulan ini target yang terpenuhi baru separuhnya yaitu 40%. Targetnya, Ukrim akan menerima 400 mahasiswa baru untuk 10 program studi yang ada.

Lebih lanjut, kemampuan ekonomi orang tua yang tengah menurun pada pandemi ini membuat mereka belum melepas anaknya untuk kuliah. Terlebih, situasi daerah dengan keterbatasan sinyal internet membuat mereka harus keluar dari kampung untuk mencari jaringan internet ke kota.

"Seringkali mereka harus meminta anak mereka kos di kota biar ada sinyal internet. Jadi belum berangkat ke Ukrim, tapi malah kos di kota yang dekat dengan tempat dia berasal," ungkapnya.

Padahal, ia mengklaim sudah mempersiapkan sejumlah beasiswa bagi camaba yang mendaftar. Ia memaklumi kemampuan ekonomi keluarga yang menurun membuat biaya kuliah nampak sulit dijangkau. Sehingga, ia menyediakan beragam beasiswa, mulai dari beasiswa bagi pendaftar berprestasi, kalangan masyarakat ekonomi rendah, hingga beasiswa khusus bagi putra pendeta.

"Kemudahan ini sudah ada sejak sebelum pandemi, kami tinggal lanjutkan saja. Harapannya sekarang pemerintah harus ambil bagian. Soal internet ini pemerintah juga harus punya solusi," ucap rektor dari 1.400 mahasiswa ini.

Kesulitan menjaring camaba sesuai target juga dialami Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY). Menurut Kepala Bagian Humas dan Promosi ITNY, Ridayati, pandemi membuat masa PMB gelombang ketiga di kampusnya molor dari rencana awal yang semula dijadwalkan sampai 31 Juli 2020 menjadi diundur hingga 15 September 2020.

"Penurunan pendaftaran banyak terjadi. Semua PTS hampir mengalami penurunan. Kebanyakan dari kita di PTS belum [mampu menjaring camaba] 30% dari target," kata Rida.

Pihaknya juga pernah membuat kuesioner yang ditujukan untuk camaba. Hasilnya, banyak camaba belum mau mendaftar kuliah karena masih pandemi sehingga pendaftar dari luar DIY masih ragu untuk kuliah yang berbeda provinsi dari asalnya. Kondisi ini membuat mereka memutuskan untuk menunda kuliah tahun depan ketika situasi kondusif.

"Meskipun sekarang belajarnya daring tapi tidak selamanya akan demikian. Apalagi jurusan kami ada yang vokasi dengan persentase kuliah praktikum 60-70% dibandingkan teori yang hanya 30-40%. Kami sedang susun mekanisme praktikum dengan bergilir supaya tetep berjalan, tapi tetap harus memperhatikan protokol kesehatan. Saat ini kebetulan yang vokasi banyak orang Jogja jadi bisa ke kampus dengan protokol," paparnya.

Lebih lanjut, Rida mengatakan tahun ini ITNY menarget ada 760 mahasiswa baru. Pendaftaran bisa dilakukan melalui beragam jalur, mulai dari jalur rapor, bibit unggul, prestasi, bidikmisi, dan jalur tes. "Tesnya juga harus daring, tidak bisa di kampus seperti tahun lalu," tambahnya.

Ia mengakui pandemi ini membuat kampusnya banyak beradaptasi. Sebagai kampus teknologi dengan 4.500-an mahasiswa dari delapan program studi, tantangan perkuliahan daring harus dilalui karena kampus sudah didorong untuk bisa kuliah daring sejak dulu.

Hanya karena pandemi ini saja, perubahan itu dituntut lebih cepat. Kuliah, seminar, hingga pendadaran harus bisa dilakukan secara jarak jauh. Bahkan, wisuda ditiadakan dan lulusan dipersilakan langsung mengambil ijazah di kampus.

"Kami sudah mengkonsep kuliah daring meskipun tidak 100%. Akan kombinasi online dan offline ke depannya setelah pandemi berlalu, karena kami ada vokasi," tutur dia.