Karang Taruna di Kampung Ini Sulap Irigasi Jadi Tempat Wisata Asri

Warga Mrican, Giwangan, Umbulharjo mengubah saluran irigasi di Bendhung Lepen menjadi kolam pembesaran ikan nila, saluran sepanjang 100 ini berisi 3,4kwintal ikan. Sekali panen mereka bisa mendapatkan Rp 20-25juta. Selain bermanfaat untuk meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi warga, budidaya ikan pada saluran irigasi ini menjadi wahana wisata dan ruang terbuka hijau bagi masyarakat. - Harian Jogja/Desi Suryanto.
11 Juli 2020 12:47 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Karang Taruna Kampung Mrican, Umbulharjo, Kota Jogja mengubah saluran irigasi yang bersumber dari Kali Gajahwong, menjadi lebih asri dengan menempatkan sejumlah ikan dan sekat untuk menghalau sampah.

Ketua Karang Taruna Kampung Mrican, Umbulharjo, Jogja Andy Wijanarko mengatakan jika awal pembentukan irigasi bersih nan asri berangkat dari kampung Mrican yang dulunya terkesan kumuh.

BACA JUGA : Jogja Butuh Banyak Ruang Hijau, Bukan Hotel

"Dari teman teman karang taruna Mrican berinisiatif bagaimana caranya kampung Mrican ini tidak kumuh. Kalau kumuh kan bisa berpotensi menimbulkan penyakit ke warga, bagaimana kita bebas dari itu," ujar Andy, Kamis (9/7/2020).

Lebih lanjut, tidak mudah membangun kesadaran warga untuk membenahi kampungnya sendiri agar lebih asri. Butuh upaya yang tidak mudah. Namun, Andy tidak putus asa. Satu per satu pemuda ia gandeng agar mau berkontribusi untuk memajukan kampung Mrican.

"Kami akhirnya membuat program pembersihan saluran irigasi yang bersumber dari Kali Gajahwong. Semua elemen masyarakat kami ajak. Khususnya pemuda," terang Andy.

Setelah program pembersihan saluran irigasi dilakukan. Andy kemudian dibantu dengan warga dan karang taruna mempunyai ide untuk menaruh ikan nila ke aliran irigasi. Hingga akhirnya, Andy dan warga kampung Mrican bisa memanen ikan nila sebanyak empat kali.

BACA JUGA : Pantas Jogja Panas, Kota Ini Kekurangan Ruang Terbuka Hijau

Dalam sekali panen, warga bisa meraup pundi-pundi rupiah sebanyak Rp20 sampai dengan Rp25 juta. Selain bermanfaat bagi ketahanan pangan warga setempat, budidaya ikan juga bisa meningkatkan minat wisata dan ruang hijau. Banyak warga yang memanfaatkan kawasan itu untuk berwisata.

"Tahun 2019 kami mulai lakukan pembersihan saluran irigasi. Kalau ikan selain nila tidak kami panen. Kami sudah empat kali panen," jelas Andy.

Tidak ada perawatan khusus kepada ikan yang dibudidayakan di aliran irigasi air. Kecuali, terhadap sekat sampah yang memang setiap enam bulan dilakukan perbaikan.

"Sekat tidak tahan lama, kalau ikan sudah bisa hidup sendiri, modal pelet untuk ikan itu dari karang taruna, kalau sekat itu dari warga," ungkapnya.