Gara-Gara Corona, Kampus Swasta Terkendala Promosi untuk Gaet Mahasiswa Baru

Ilustrasi sejumlah siswa mengisi data saat mendaftar SMNPTN. - Antarafoto
11 Juli 2020 14:17 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2020/2021 telah bergulir di sejumlah perguruan tinggi. Di tengah pandemi sejumlah kampus swasta di Kota Jogja selenggarakan penerimaan mahasiswa baru dengan keterbatasan.

Kepala Humas IST Akprind, Dwi Setya mengatakan untuk cek kesehatan seperti pemeriksaan mata parsial, tes narkoba sebagai syarat masuk bisa dilakukan secara mandiri atau di kampus. Bagi para calon mahasiswa baru yang hendak mendaftar langsung ke kampus pun harus menerapkan protokol Covid-19.

BACA JUGA : Mahasiswa Baru UGM Diminta Ikut Rapid Test

Saat ingin jumlah pendaftar di IST Akprind mencapai 60% dari kuota maksimal 1.000 mahasiswa baru. Sementara untuk mahasiswa yang telah melakukan registrasi baru berkisar 25 sampai 35 persen. Meski demikian pihaknya belum bisa mengambil kesimpulan apakah pandemi berdampak pada jumlah pendaftar, pasalnya penerimaan mahasiswa baru masih bergulir.

"Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, pendaftar baru bertambah cepat setelah pengumuman SBMPTN dan Ujian Tulis atau Seleksi Mandiri perguruan tinggi negeri," ujarnya, Jumat (11/7/2020).

Dwi mengakui pandemi membuat komunikasi dengan calon mahasiswa baru atau pun orang tuanya jadi terbatas.

"Jika tanya di kampus, calon mahasiswa baru bisa tanya-tanya dengan detail, tapi kalau via telepon atau Whatsapp menjadi terbatas," katanya.

Selain itu Dwi mengatakan, bila kegiatan pameran pendidikan atau kunjungan ke sekolah dalam rangka promosi memperkenalkan kampus pun praktis tidak bisa dilakukan saat pandemi.

BACA JUGA : Kampus di Sleman Kesulitan Dapat Mahasiswa

Kendala aktivitas promosi yang dinilai kurang maksimal selama pandemi juga dialami Universitas Nahdatul Yang Ulama (UNU) Yogyakarta. Tim Sekretariat Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UNU Yogyakarta, Tri Yuliani menyampaikan bahwa selama pandemi kunjungan ke sekolah maupun pondok jadi sulit dilakukan. Sementara promosi lewat daring dirasa belum cukup optimal.

Di tahun sebelumnya, UNU Yogyakarta gencar melakukan promosi di sekolah dan pondok pesantren di DIY serta Jateng. Sementara tahun ini, promosi dioptimalkan via daring dengan menyebarkan poster PMB kepada pengurus sekolah maupun pondok hingga melalui media sosial.

Tri menuturkan terjadi tren penurunan pendaftar saat ini, meski jumlah pendaftar bisa bertambah karena PMB masih dibuka. Menurutnya, tren penurunan ini terjadi selain karena promosi yang kurang optimal, kondisi ekonomi calon mahasiswa baru yang terdampak pandemi diduga bisa menjadi penyebab penurunan pendaftar. Alokasi biaya pendidikan, mungkin dialihkan kepada kebutuhan lainnya sehingga anak menunda masa studinya.

Tidak hanya persoalan ekonomi, penurunan pendaftar menurut Tri bisa terjadi karena adanya aturan zonasi tiap-tiap daerah. Sebagian orang tua memiliki kecenderungan untuk menunda studi anaknya hingga situasi dirasa aman. Menurut keterangan Tri, di tahun-tahun sebelumnya mayoritas pendaftar di PMB tahun lalu didominasi dari Jawa Timur seperti Lamongan dan Madura. Namun tahun pendaftar bergeser hanya seputaran DIY saja.

Hal itu juga bisa ditarik dari banyaknya anak atau orang tua yang menanyakan tim panitia PMB UNU terkait perkuliahan akan dilakukan daring atau luring. Menyangkut perkuliahan, pihaknya masih menunggu keputusan pusat apakah penyelenggaraan kuliah diteruskan daring atau sudah diperbolehkan tatap muka.

Diterangkan Tri, PMB UNU sudah menerapkan daring sejak lama. Namun sebanyak 30 persen pendaftar mendatangi langsung kampus untuk menggali informasi mengenai jurusan, fasilitas, dan informasi lainnya. Di mana hal itu tidak bisa dilakukan tahun ini yang hanya lima persen dari pendaftar yang menggali informasi langsung ke kampus.

Tri berharap dari rentang waktu yang tersisa promosi via daring yang terus digencarkan membuahkan hasil. Harapannya, jumlah kuota mahasiswa mampu terpenuhi untuk tahun ajaran baru 2020/2021.