Petani & Pemuda di Ngaglik Bersatu Selamatkan 10 Sumber Mata Air yang Terancam Apartemen

Kelompok tani yang memanfaatkan Tuk Padas Gempal Panguripan Candi Karang menyatakan dukungannya secara tertulis atas penolakan pendirian apartemen yang dikhawatirkan mengganggu sumber mata air tersebut, Minggu (12/7/2020).-Harian Jogja - Lajeng Padmaratri
12 Juli 2020 19:37 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Warga Dusun Candi Karang, Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman terus melancarkan aksi penolakan terhadap rencana pendirian sebuah apartemen yang tak jauh dari dusun tersebut. Kali ini mereka menggandeng kalangan pemuda dusun dan kelompok tani.

Penolakan warga atas rencana pendirian apartemen itu dilatari keinginan warga untuk menjaga 10 tuk atau sumber mata air Padas Gempal Panguripan Candi Karang di Kali Klanduan yang selama ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar kali. Warga sekitar menggantungkan hidupnya untuk usaha tani dan kolam ikan warga.

Juru Bicara Paguyuban Warga Candi Karang, Sujati mengatakan sebulan terakhir warga berupaya terus menyampaikan penolakan kepada pemerintah atas rencana pendirian apartemen tersebut. Warga telah menyampaikan tanggapan secara tertulis dan dikirim ke Kantor DPMPPT melalui surat No. 01/PWCK/06/20 tertanggal 8 Juni 2020.

"Hari ini kami adakan kegiatan yang mengumpulkan dukungan dari kelompok tani dan Pemuda-Pemudi Candrasari. Kebetulan anak muda punya kegiatan sendiri yaitu bersih-bersih air sungai," kata Sujati di sela-sela kegiatan pada Minggu (12/7/2020).

BACA JUGA: 3 PDP Covid-19 di DIY Meninggal Tanpa Penyakit Penyerta! Termasuk Bayi 8 Bulan

Menurutnya, penolakan warga bermula pada saat Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (DPMPT) mengeluarkan pengumuman No.5031/2075 tertanggal 3 Juni 2020 terkait izin prinsip pemanfaatan ruang sebuah apartemen di wilayah Dusun Ngangkruk, Sardonoharjo oleh PT Damai Kreasi Cipta.

DPMPT kemudian memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memberikan tanggapan secara tertulis atas rencana pembangunan apartemen tersebut. "Karena dari tim pengembang sudah tahu bahwa ada penolakan tertulis dari masyarakat, Pemkab Sleman memberikan jeda waktu tiga bulan untuk negosiasi. Maka sisa waktu ini kami manfaatkan untuk menggalang dukungan secara halus," kata Jati.

Menurutnya, keberadaan mata air tersebut menjadi penyangga pengairan bagi sekitar 350 hektare sawah di sebelah selatan mata air. Dari luasan itu, pihaknya mengidentifikasi ada sekitar delapan kelompok tani dari wilayah Sardonoharjo, Sinduharjo, maupun Ngemplak yang turut memanfaatkan air tersebut. "Utamanya pertanian, dan yang lebih kecil perikanan," kata dia.

Hari ini pihaknya menggalang dukungan dari kelompok tani tersebut. Kedelapan kelompok tani itu menandatangani surat pernyataan dukungan menolak kegiatan yang dapat merusak kelestarian Tuk Padas Gempal Panguripan Candi Karang. Petani juga meminta kawasan itu dijadikan wilayah konservasi air.

Aksi itu juga dibarengi kegiatan bersih Kali Klanduan oleh Pemuda-Pemudi Candrasari yang merupakan kelompok pemuda dari Candi Karang, Candi Sari, dan Candi Mendiro. Selain menyatukan solidaritas, menurut Jati aksi itu juga untuk mengenalkan pentingnya menjaga lingkungan kepada kalangan pemuda.

Lebih lanjut, penolakan pembangunan apartemen oleh warga ini juga didasarkan pada kekhawatirkan akan tergusurnya usaha indekos yang dimiliki warga Candi Karang.

"Kalau apartemen berdiri akan menyedot kos-kosan tradisional yang kecil-kecil. Karena mahasiswa trennya memilih tempat yang bebas, dikhawatirkan kos-kosanan sederhana itu bisa hilang," tambahnya.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Sardonoharjo, Suroto mengharapkan kalangan petani dan muda-mudi setempat tidak ragu memberi dukungan pada penolakan apartemen karena bertujuan menjaga mata air. "Kami ingin ninggali anak cucu supaya mendapat air karena ini merupakan titipan yang akan diteruskan oleh pemuda. Harapannya para pemuda mendukung," kata dia.