Kebakaran Lahan Dekat Tol Semarang-Solo, 5 Mobil Damkar Dikerahkan
Kebakaran melanda lahan penghijauan dekat Tol Semarang-Solo KM 442. Lima mobil damkar dikerahkan untuk memadamkan api.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JOGJA--Musim kemarau tahun ini diprediksi masih akan disertai hujan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY memprediksi musim kemarau tahun ini akan cenderung lebih basah dibandingkan tahun sebelumnya. Meski begitu, masyarakat tetap diminta untuk menghemat penggunaan air di masa kemarau yang akan datang.
Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) Mlati Reni Kraningtyas mengatakan, puncak musim kemarau tahun ini akan terjadi pada Agustus mendatang. Meski begitu, musim kemarau akan terus berlangsung sampai pertengahan Oktober.
"Kemarau tahun ini cenderung lebih basah dibanding tahun 2019. Artinya, sampai menjelang puncak musim kemarau nanti masih akan ada hujan," ujar Reni saat ditemui di Parasamya, Kompleks Pemerintahan Kabupaten Bantul, Selasa (14/7/2020).
Reni memprediksi tetap akan ada dearah yang lebih kering dari biasanya. Namun, wilayah DIY dan sekitarnya akan tergolong lebih basah dari tahun sebelumnya.
"Predikisinya September sampai pertengahan Oktober masih kemarau, tapi bisanya untuk daerah Bantul pada bulan Oktober minggu ketiga sudah masuk musim hujan dengan kondisi normal," ungkapnya.
Dikatakan Reni bahwa anggapan masyarakat yang mengira musim kemarau berarti tidak turun hujan sama sekali sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Pasalnya, hujan akan tetap ada di musim kemarau, tetapi dengan intensitas yang ringan.
Hujan dengan intensitas ringan tersebut terhitung dalam satu dasarian atau sepuluh hari, biasanya hanya akan kurang dari 50 milimeter, kemudian nantinya akan diikuti oleh tiga dasarian selanjutnya secara berturut-turut juga kurang dari 50 milimeter.
"Jadi jika diakumulasikan total selama tiga dasarian atau selama satu bulan hujan yang terjadi akan kurang dari 150 milimeter, artinya sebulan itu hujan tidak vakum," ucapnya.
Reni menuturkan, masyarakat tetap perlu mewaspadai cuaca yang lebih panas di musim kemarau ini. Menjaga daya tahan tubuh agar tidak dehidrasi juga diperlukan untuk mengantisipasi Covid-19 yang juga belum usai.
Para petani juga diimbau untuk lebih bijak dalam menanam tanaman di tengah musim kemarau ini. Diharapkan Dinas Pertanian ikut pula turut serta memberikan imbauan kepada petani dalam melakukan penanaman tanaman yang sekiranya tidak membutuhkan air yang cukup banyak.
"Aktivitas masyarakat di daerah pegunungan juga perlu diperhatikan karena kondisinya akan kering, perlu dijaga agar tidak mengakibatkan kebakaran hutan dari hal-hal kecil seperti membuang puntung rokok, atau kegiatan yang memantik api lainnya," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Kebakaran melanda lahan penghijauan dekat Tol Semarang-Solo KM 442. Lima mobil damkar dikerahkan untuk memadamkan api.
Logo BMW sering dianggap sebagai baling-baling pesawat. Simak sejarah logo BMW, makna warna biru-putih, dan bagaimana mitos tersebut muncul.
Rehan/Melati kalah dua gim langsung dari pasangan China pada debut Indonesia Masters 2026. Simak evaluasi dan masa depan pasangan baru Indonesia tersebut.
Persebaya bermain imbang 1-1 dengan Bhayangkara FC, sedangkan Persik Kediri kalah 0-1 dari Dewa United pada Super League 2026/2027.
Volkswagen menyetujui tambahan pengurangan 50.000 posisi. Total pekerjaan yang dipangkas hingga 2030 mencapai 100.000 posisi di tengah tekanan industri otomotif
PSIM Jogja ditahan Persita 1-1 dalam lanjutan Super League 2026/2027. Sempat tertinggal, gol A. Purzycki pada menit ke-84 menyelamatkan Laskar Mataram.