193 Karya Seniman Difabel Dipamerkan, Ada Prangko Khusus
Sebanyak 193 karya dari 131 seniman difabel dipamerkan dalam Suluh Sumurup Art Festival 2026 di Galeri Taman Budaya Yogyakarta (TBY).
Ilustrasi./Reuters-Mike Hutchings
Harianjogja.com, BANTUL--Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY memprediksi musim kemarau tahun ini masih berlangsung sampai pertengahan Oktober mendatang. Namun puncak kemaraunya terjadi pada Agustus. Masyarakat diimbau untuk berhemat air bersih.
“Kami predisiksi September masih kemarau sampai pertengahan Oktober. Biasanya Bantul Oktober dasarian III sudah normal,” kata Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) Mlati, Reni Kraningtyas, saat ditemui di Parasamya, Kompleks Pemerintahan Kabupaten Bantul, Senin (13/7/2020).
BACA JUGA : Atasi Kekeringan, BPBD Gunungkidul Siapkan Dana
Reni mengatakan musim kemarau tahun ini juga berbeda dengan kemarau pada tahun-tahun sebelumnya. Kemarau kali ini, kata dia, cenderung lebih basah. Artinya sampai menjelang puncak musim kemarau masih terjadi hujan meski dengan intensitas kecil seperti yang terjadi pada Juni dan Juli ini.
Menurut dia, musim kemarau bisa saja ada hujan, namun curah hujan di musim kemarau pada satu dasarian biasanya kurang dari 50 milimeter, “Atau jika ditotal tiga dasarian berturut-turut dalam satu bulan curah hujan kurang dari 150 mimimeter,” kata Reni.
Kendati demikian musim kemarau ini diakuinya berpotensi menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah di DIY. Reni meminta masyarakat untuk melakukan langkah-langkah kewaspadaan jelang puncak kemarau untuk berhemat air.
BACA JUGA : Pemkab Mulai Petakan Wilayah Rawan Kekeringan
Selain itu para petani juga harus bijak untuk bercocok tanam dengan tidak memaksakan menanam tanaman yang membutuhkan banyak air, “Kecuali pada daerah-daerah dimana meski kemarau ada irigasi bisa melakukan tanam padi,” kata Reni.
Reni juga menganjurkan masyarakat untuk lebih banyak minum air putih dan mengkonsumsi vitamin untuk menjaga stamina agar idak terjadi dehidrasi. Pihaknya juga mewaspadai potensi terjadinya kebarakan hutan selama kemarau dan adanya peningkatan gelombang air laut sampai dua meter.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, Dwi Daryanto mengatakan sampai saat ini belum ada informasi terjadinya kekeringan di Bantul. Namun demikian belajar dari kekeringan tahun lalu, pihakya sudah melakukan langkah pemetaan wilayah untuk dropping air bersih berdasarkan data sebaran droping air bersih pada 2019.
Selain itu BPBD juga telah mengoptimalkan pos pemadam kebarakan untuk mengantisipasi terjadinya bencana kebakaran. Dari lima pos damkar saat ini BPBD Bantul sudah memiliki tujuh pos damkar yang tersebar di pos induk BPBD, pos Kasihan, Banguntapan, Imogiri, Sedayu, Pundong, dan Piyungan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 193 karya dari 131 seniman difabel dipamerkan dalam Suluh Sumurup Art Festival 2026 di Galeri Taman Budaya Yogyakarta (TBY).
BP BUMN dan Danantara menyiapkan investasi Rp581 miliar untuk transformasi RSPP menjadi Indonesia Hospital dengan target penyelesaian pada pertengahan 2028.
Harga cabai merah besar dan rawit hijau di Sleman naik pada pekan kedua Oktober 2026. Harga rawit merah justru turun.
Peringatan Pertempuran 5 Hari Semarang di Tugu Muda dimeriahkan fragmentasi teater, lagu perjuangan, pembacaan sejarah, dan kembang api.
Perpres Nomor 27 Tahun 2026 mengatur biaya aplikasi ojol maksimal 8%, perjanjian kemitraan, jaminan sosial, dan layanan pengaduan.
Bedah buku DPAD DIY dan DPRD DIY di Sleman mengulas pentingnya tidur cukup, gizi seimbang, aktivitas fisik, dan kebebasan bereksplorasi untuk mendukung kecerdas