Musim Kemarau Masih Panjang, BMKG DIY Imbau Warga Berhemat Air

Ilustrasi. - Reuters/Mike Hutchings
14 Juli 2020 08:27 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY memprediksi musim kemarau tahun ini masih berlangsung sampai pertengahan Oktober mendatang. Namun puncak kemaraunya terjadi pada Agustus. Masyarakat diimbau untuk berhemat air bersih.

“Kami predisiksi September masih kemarau sampai pertengahan Oktober. Biasanya Bantul Oktober dasarian III sudah normal,” kata Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim)  Mlati, Reni Kraningtyas, saat ditemui di Parasamya, Kompleks Pemerintahan Kabupaten Bantul, Senin (13/7/2020).

BACA JUGA : Atasi Kekeringan, BPBD Gunungkidul Siapkan Dana

Reni mengatakan musim kemarau tahun ini juga berbeda dengan kemarau pada tahun-tahun sebelumnya. Kemarau kali ini, kata dia, cenderung lebih basah. Artinya sampai menjelang puncak musim kemarau masih terjadi hujan meski dengan intensitas kecil seperti yang terjadi pada Juni dan Juli ini.

Menurut dia, musim kemarau bisa saja ada hujan, namun curah hujan di musim kemarau pada satu dasarian biasanya kurang dari 50 milimeter, “Atau jika ditotal tiga dasarian berturut-turut dalam satu bulan curah hujan kurang dari 150 mimimeter,” kata Reni.

Kendati demikian musim kemarau ini diakuinya berpotensi menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah di DIY. Reni meminta masyarakat untuk melakukan langkah-langkah kewaspadaan jelang puncak kemarau untuk berhemat air.

BACA JUGA : Pemkab Mulai Petakan Wilayah Rawan Kekeringan

Selain itu para petani juga harus bijak untuk bercocok tanam dengan tidak memaksakan menanam tanaman yang membutuhkan banyak air, “Kecuali pada daerah-daerah dimana meski kemarau ada irigasi bisa melakukan tanam padi,” kata Reni.

Reni juga menganjurkan masyarakat untuk lebih banyak minum air putih dan mengkonsumsi vitamin untuk menjaga stamina agar idak terjadi dehidrasi. Pihaknya juga mewaspadai potensi terjadinya kebarakan hutan selama kemarau dan adanya peningkatan gelombang air laut sampai dua meter.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, Dwi Daryanto mengatakan sampai saat ini belum ada informasi terjadinya kekeringan di Bantul. Namun demikian belajar dari kekeringan tahun lalu, pihakya sudah melakukan langkah pemetaan wilayah untuk dropping air bersih berdasarkan data sebaran droping air bersih pada 2019.

Selain itu BPBD juga telah mengoptimalkan pos pemadam kebarakan untuk mengantisipasi terjadinya bencana kebakaran. Dari lima pos damkar saat ini BPBD Bantul sudah memiliki tujuh pos damkar yang tersebar di pos induk BPBD, pos Kasihan, Banguntapan, Imogiri, Sedayu, Pundong, dan Piyungan.