Pemkab Mulai Petakan Wilayah Rawan Kekeringan di Gunungkidul

Ilustrasi. - Ist/Freepik
17 Juni 2020 15:37 WIB David Eka Issetiabudi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul mulai memetakan daerah rawan kekeringan di musim kemarau tahun ini. Anggaran Rp700 juta dialokasikan untuk droping air.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edy Basuki mengatakan sudah berkoordinasi dengan kapanewon terkait dengan potensi kekeringan di musim kemarau. Koordinasi dilakukan untuk pemetaan daerah yang rawan krisis air bersih. “Koordinasi sudah kami lakukan di akhir Mei, tapi hingga sekarang baru Saptosari yang menyerahkan data wilayah rawan kekeringan,” kata Edy kepada wartawan, Rabu (17/6/2020).

Baca Juga: Hampir 1.000 Orang di Bantul Akan Rapid Test Covid-19, Ini Jadwal dan Lokasinya

Menurut dia, data dari masing-masing kapanewon sangat dibutuhkan karena dijadikan dasar untuk pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami krisis air di musim kemarau. Diharapkan para panewu segera menyelesaikan data tersebut sehingga bisa dilakukan koordinasi lanjutan untuk penanganan. “Kami masih tunggu. Hingga sekarang [kemarin] juga belum ada desa yang mengajukan permintaan droping air bersih,” kata mantan Sekretaris Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah ini.

Tahun ini pemkab mengalokasikan anggaran Rp700 juta untuk menyalurkan air bersih. Jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan alokasi tahun lalu yang hanya Rp500 jutaan. “Ada tambahan kalau dibandingkan dengan anggaran 2019,” kata Edy.

Baca Juga: 5 Pasien Covid-19 di Jogja OTG, Pemkot Rapid Test Acak kepada 618 Warga dari 35 Kelurahan

Menurut dia, pagu Rp700 juta hanya yang berada di BPBD. Di kecamatan juga memiliki anggaran tersendiri. “Untuk jumlahnya, saya kurang tahu. Nantinya droping di kapanewon akan menegandeng pihak ketiga,” imbuhnya.

Menurut dia, belum adanya warga yang mengajukan droping air karena masih memasuki masa pancaroba sehingga hujan sesekali masih turun. Namun pada saat kemarau, maka akan banyak warga khususnya di wilayah Selatan yang meminta bantuan air bersih.

Baca Juga: Apakah Corona Bisa Menular Lewat Makanan? Ini Kata Para Ahli

Panewu Anom, Kapanewon Girisubo, Arif Yahya, mengatakan wilayahnya masuk daerah kering saat kemarau. Minimnya sumber air membuat warga bergantung pada air hujan sehingga saat kemarau banyak warga yang membeli secara swadaya. “Untuk saat ini masih aman karena hujan masih turun sehingga bak penampungan yang dimiliki ada stok airnya,” katanya.

Meski demikian, Arif mengaku pada saat memasuki puncak kemarau akan banyak warga yang mengalami krisis air. “Tetap kami lakukan antisipasi dan nantinya akan dilakukan penyaluran air bersih,” katanya.