Kasus Covid-19 Melonjak, Bantul Belum Memungkinkan Belajar Tatap Muka

Adib Banu Prasteya ini saat mengikuti pembelajaran daring di rumahnya di Dusun Belik, Kalurahan Demangrejo, Kapanewon Sentolo, Selasa (14/7/2020) siang. - Harian Jogja - Jalu Rahman Dewantara.
23 Juli 2020 11:27 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Dinas Pendidikan,  Pemuda,  dan Olahraga (Disdikpora) Bantul memastikan sampai saat ini pembelajaran di Bantul masih menerapkan sistem jarak jauh atau Belajar Dari Rumah (BDR). Bahkan sekolah yang menerapkan tatap muka bisa dikenakan sanksi.

Kepala Disdikpora Bantul,  Isdarmoko mengatakan sampai saat ini Bantul masih belum memungkinkan untuk menerapkan pembelajaran dengan tatap muka.  Berdasarkan ketentuan dari Kementerin Pendidikan dan Kebudayaan hanya sekolah yang berada di zona hijau yang boleh menerapkan pembelajaran tatap muka.

"Di Bantul belum bisa tatap muka.  Saat ini masih BDR murni 100 persen.  Sistem ini baru saja selesai kami sosialisasikan," kata Isdarmoko, Rabu (22/7).

BACA JUGA : Belajar Jarak Jauh di Sleman Diperpanjang Lagi

Pihaknya memang sempat menerima masukan untuk menerapkan pembelajaran tatap muka secara terbatas melalui pembatasan jumlah kuota siswa atau sistem sif, namun usulan itu masih dalam pembahasan dan belum diterapkan di Bantul.  Isdarmoko memastikan belum ada sekolah formal di Bantul yang melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Namun untuk sekolah informal,  kata dia,  ada beberapa yang menerapkan tatap muka terbatas seperti Tempat Penitipan Anak (TPA) dan sejenisnya.  Ia tidak memungkiri ada keluhan sekolah swasta yang kesulitan menarik biaya sekolah ketika menerapakan pembelajaran jarak jauh. 

Sebelumnya Isdarmoko juga menegaskan akan memberikan sanksi jika ada sekolah menerapkan pembelajaran tatap muka.  "Kalau ada sekokah yang melanggar [menggelar pembelajaran tatap muka] mesti kami akan memberikan sankai teguran mulai dari peringatan dan sanksi lain jika tidak diindahkan," kata Isdarmoko.

Mantan kepaka SMAN 2 Bantul ini mengaku telah menyiapkan tiga metode pembelajaran jarak jauh mulai dari daring murni dengan dukungan IT dan jaringan internet yang memadai. Kedua kombinasi semi daring. Artinya pembelajaran bisa memanfaatkan grup aplikasi percakapan di telepon selular baik grup siswa maupun grup wali siswa. Tugas-tugas sekolah bisa dikumpulkan lewat grup tersebut.

BACA JUGA : Kemendikbud Diminta Tidak Permanenkan Belajar Jarak Jauh

Ketiga, manual murni khusus bagi sekolah yang ada di daerah yang sulit jaringan internet atau bermasalah dalam sarana dan prasarana alat komunikasi. Metode manual, kata dia, guru sekolah memungkinkan untuk mengirimkan tugas-tugas sekolah ke rumah siswa atau sebaliknya siswa yang datang mengambil tugas kemudian mengumpulkannya ke sekolah.

 “Jadi siswa ke sekolah boleh tapi bukan untuk pembelajaran tatap muka melainkan untuk mengumpulkan atau mengambil tugas,” ujarnya.

Kepala SMPN 2 Banguntapan,  Purwanto mengatakan telah menerapkan sistem pembelajaran BDR dengan tiga metode tersebut. Khusus untuk metode manual pihaknya meminta siswa atau orang tua siswa mengambil tugas d]sekolah dan mengembalikannya lagi ke sekolah. 

Meski demikian pihaknya sudah mengatur waktu dan durasi pengembalian dan pengambilan tugas sehingga tidak terjadi kerumunan.  "Kami tetap kedepankan protokol kesehatan," kata Purwanto.