Hingga Juli DBD di Bantul Capai 954 Kasus, 1 Meninggal Dunia

Ilustrasi - Pixabay
25 Juli 2020 14:57 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Dinas Kesehatan Bantul kembali mengeluarkan edaran terkait kewaspadaan terhadap penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) karena penyakit DBD terus meningkat di Bumi Projotamansari ini. Bahkan satu orang dilaporkan meninggal dunia.

Sampai Juli ini Dinas Kesehatan setempat mencatat angka kasus penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegipty sebanyak 954 orang dengan dominasi di wilayah Kecamatan Bantul sebanyak 121 kasus. 

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Bantul,  Sri Wahyu Joko Santoso,  mengatakan satu orang yang meninggal dunia, baru laporan sementara dari rumah sakit dan belum bisa dipastikan melalui hasil laboratorium.  "Jadi belum terkinfirmasi benar atau tidaknya [disebabkan DBD]," kata Sri Wahyu,  Jumat (24/7/2020).

BACA JUGA : Dikategorikan Daerah dengan Kasus DBD Tinggi, Ini Data 

Namun demikian pihaknya tetap mengimbau masyarakat untuk wasada terhadap DBD.  Meski tengah fokus dalam menangani Coronavirus Disease atau Covid, upaya-upaya pemberantasan sarang nyamuk harus tetap digencarkan baik di dalam rumah maupun di lingkungan sekitar rumah. Minimal dengan gerakan 3M, yakni menguras dan menutup tempat penampungan air,  serta mengubur barang-barang bekas.

Ia meminta masyarakat untuk tidak terburu-buru melakukan fogging atau pengasapan seperti yang akhir-akhir ini gencar dilakukan kelompok masyarakat dari relawan kebencanaan.  Menurut pria yang akrab disapa Oky itu fogging bukan pilihan utama untuk memberantas nyamuk aedes aegipty. Sebab jika fogging dilakukan tidak sesuai prosedur dikhawatirkan nyamuk demam berdarah bisa resisten terhadap asap fogging.

"Jangan minta fogging dari pihak yang bukan dari lembaga kesehatan. Mari fogging secara bijak karena fogging bukan pilihan utama mengendalikan nyamuk aedes.  Pilihan utama adalah pemberantasan sarang nyamuk," papar Oky.

Oky mengatakan terdapat sejumlah syarat yang harus dilalui sebelum melakukan fogging,  di antaranya terdapat kasus demam berdarah di lokasi yang bakal difogging dan kasusnya lebih dari satu dalam radius maksimal 100 meter. Angka bebas jentik atau ABJ yang ditemukan berdasarkan hasil survei kurang dari 95 persen.  

Selain itu fogging juga harus sesuai dengan siklus kehidupan nyamuk antara 70-90 hari,  "Jadi tidak sembarangan asal fogging," ucap dia. 

Puluhan Kali

Sementara itu Kasi Operasional SAR Distrik Bantul,  Bondan Supriyanto mengatakan SAR Distrik Bantul salah satu lembag yang kerap melakukan fogging.  Ia menyebut selama enam bulan terakhir sudah puluhan kali fogging dilakukan di beberapa tempat seperti di Kecamatan Imogiri,  Pleret,  Pundong,  Jetis,  Piyungan,  dan Banguntapan. Jumlahnya Bondan tidak hapal.

Fogging yang dilakukan merupakan permintaan masyarakat langsung melalui RT dan dukuh atau kepala dusun bahkan pihak pemohon sendiri yang menyediakan solar.  Sementata dari tim SAR hanya menyediakan tenaga dan alat pengasapan.  Ia mengakui selama fogging dilakukan tidak berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan.

"Alasan warga meminta fogging ke [SAR Distrik Bantul] karena mereka sudah mengajukan ke rumah sakit tapi harus melalui puskesmas dan lewat puskesmas tidak ada tindaklanjut. Jadi kelamaan," kata Bondan. 

BACA JUGA : Buntut Pandemi Corona, Kasus DBD di Sleman Melonjak

"Kami hanya membantu masyarakat supaya jangan sampai ada korban demam berdarah bertambah.  Kalau Dinas Kesehatan mampu mengatasi kami tidak akan turun tangan.  Kami hanya melakukan aksi kemanusiaan," ucap Bondan.