Peta Tol Jogja-Bawen Berubah di 3 Desa di Seyegan, Ini Penjelasan Pemda DIY

Ilustrasi - JIBI/Solopos/Nicolous Irawan
29 Juli 2020 20:07 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Warga Desa Margokaton, Kecamatan Seyegan, Sleman, sempat kebingungan karena peta Tol Jogja-Bawen yang melintasi desa tersebut berubah. Rupanya, perubahan itu karena penyesuaian terhadap jalur Selokan Mataram.

Kepala Dusun Bantulan, Desa Margokaton, Seyegan, Yuli Purwanto, mengeluhkan perbedaan peta yang disampaikan tim pengadaan tanah Tol Jogja-Bawen pada Selasa (28/7) dengan peta yang ia terima sebelumnya. Menurutnya, nama warga pemilik lahan tidak sesuai dengan jalur tol pada peta.

BACA JUGA: Gambar Peta Tol Jogja-Bawen Tak Sesuai, Warga Seyegan Kebingungan

Yuli mengatakan tokonya terlewati jalur tol pada peta awal. Di peta yang baru, toko Yuli tidak termasuk pada lahan terdampak tol, karena jalur tol bergeser ke arah selatan dan lebih memasuki area dalam padukuhan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satker Pelaksanaan Tol Jogja-Bawen, Heru Budi Prasetyo menuturkan ada perubahan dalam desain tol Jogja-Bawen diakibatkan kekeliruan dalam proses menggambar desain. Desain jalan sepanjang 100 meter yang melintasi Dusun Bantulan itu mulanya berbelok, namun diubah menjadi jalur lurus oleh tim.

BACA JUGA: SMK di Seyegan Terkena Tol Jogja-Bawen, Laboratorium & Kantin Tergusur

Kepala Dispertaru DIY, Krido Suprayitno, saat sosialisasi di Balai Desa Margodadi, Kecamatan Seyegan, Sleman pada Rabu (29/7/2020) mengatakan desain Tol Jogja-Bawen sempat berubah di Desa Margomulyo, Margokaton, dan Margodadi, Kecamatan Seyegan. Pada saat pendataan awal, memang ada kemungkinan terjadi pergeseran desain. Desain yang pasti menurutnya akan dipastikan saat konsultasi publik. Perubahan itu juga karena jalur Selokan Mataram yang berbelok-belok di beberapa tempat. Sementara, Tol Jogja-Bawen yang ada di DIY didesain melayang di atas Selokan Mataram.

“Tidak mungkin jalan tol mengikuti belokan-belokan Selokan Mataram. Tol secara konstruksi harus lurus. Mau belok pun, harus ada elevasi secara teknis. Sehingga gambar yang dipakai adalah gambar yang definitif lurus dan baru ditemukan di lapangan saat sosialisasi,” kata dia.