Gambar Peta Tol Jogja-Bawen Tak Sesuai, Warga Seyegan Kebingungan

Ilustrasi jalan tol. - JIBI/Nicolous Irawan
28 Juli 2020 18:37 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Sosialisasi pembangunan ruas jalan tol Jogja-Bawen yang melintasi Kabupaten Sleman berlanjut di Balai Desa Margokaton, Kecamatan Seyegan, Sleman pada Selasa (28/7/2020). Jalannya sosialisasi sempat diwarnai kebingungan warga lantaran peta desain tol berbeda dengan daftar data warga terdampak.

Kepala Dusun Bantulan, Desa Margokaton, Seyegan, Yuli Purwanto semula mengeluhkan adanya perbedaan peta yang disampaikan tim pengadaan tanah tol Jogja-Bawen pada Selasa siang itu dengan peta yang ia terima sebelumnya. Menurutnya, nama warga pemilik lahan by name by address tidak sesuai dengan jalur tol pada peta.

"Kemarin, petanya menunjukkan jalur tolnya di pinggir Selokan Mataram, tapi nama-namanya tidak sesuai data warga terdampak by name by address itu," kata Yuli pada Selasa.

Meski rumah tinggalnya tidak terdampak, Yuli mengatakan tokonya terlewati jalur tol pada peta awal. Namun, begitu ia menyampaikan kebingungannya ke forum sosialisasi, rupanya tim pengadaan tanah tol Jogja-Bawen menyampaikan ralat desain peta tol tersebut. Di peta yang baru, toko Yuli tidak termasuk pada lahan terdampak tol, karena jalur tol bergeser ke arah selatan dan lebih memasuki area dalam padukuhan.

"Awalnya diinformasikan akan terdampak sekitar 20-an KK. Sekarang kami belum tahu, kami masih akan hitung termasuk persawahan yang kena," kata Yuli.

Ia menyayangkan tim pengadaan lahan tidak memberi kepastian jalur tol pada peta yang benar sejak awal, sehingga di kalangan warga sempat terjadi kebingungan karena tidak memperoleh kepastian. "Kami hanya bingung karena kepastian belum ada, kena jalur apa enggak, semua serba bingung karena peta sama by name tidak sesuai. Harapan warga, peta dan data yang benar itu bisa sampai ke dusun dengan segera, biar mereka tahu pasti dan bisa mengambil langkah awal," harapnya.

BACA JUGA: Sudah 20 Orang, Petugas Kesehatan di Bantul yang Terinfeksi Corona Terus Bertambah

Dengan mengetahui kepastian jalur tol lebih awal, lanjutnya, warga bisa mempersiapkan diri jika harus merelakan rumah atau lahannya dan bisa segera mencari tanah atau rumah baru. "Kami hanya harus persiapan secara psikologi. Misal harus pindah kemana, harus sosialisasi dengan warga yang baru, [dampak] paling parah kan itu. Kalau bagian ganti rugi atau ganti untung, kita ikut saja. Kita tidak mungkin menolak," kata dia.

Menanggapi adanya kebingungan warga, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satker Pelaksanaan Tol Jogja-Bawen, Heru Budi Prasetyo menuturkan ada perubahan dalam desain tol Jogja-Bawen diakibatkan kekeliruan dalam proses menggambar desain. Desain jalan sepanjang 100 meter yang melintasi Dusun Bantulan itu mulanya berbelok, namun diubah menjadi jalur lurus oleh tim.

"Sebenarnya perubahan desain sudah agak lama, tapi saya keliru sampaikan informasi pertama ke desa. Sebenernya kalau sejak awal saya sampaikan ya tidak masalah, tapi ternyata sempat keliru. Untung masih di tahap awal sosialisasi, jadi masih bisa dikejar dan perbaiki lagi dengan data yang benar," kata Heru.

Perubahan tersebut menurutnya tidak akan mempengaruhi dokumen perencanaan pengadaan tanah (DPPT). "Data KK sudah benar, hanya petanya yang salah. Sehingga nanti petanya akan kami betulkan," tambahnya.