Banser Ancam Perkarakan Dukungan ke Suharsono-Totok di Pilkada Bantul Secara Hukum

Salah satu komunitas yang mengatasnamakan anggota Barisan Ansor Serbaguna atau Banser Nahdlatul Ulama (NU) membentangkan spanduk bertuliskan "Aku Wong NU Dukung No-To, Selasa (4/8/2020) malam. - Harian Jogja/Ujang Hasanudin.
05 Agustus 2020 14:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Dukungan beberapa orang yang mengatasnamakan Banser NU terhadap Suharsono-Totok Sudarto pada Pilkada Bantul 2020 rupanya berbuntut. Banser DIY akan menginvestigasi dukungan tersebut dan menegaskan Banser tidak terlibat dalam pilkada. Banser Bantul mengancam akan memperkarakan ini secara hukum.

Kepala Satuan Koordinator Wilayah (Kasatkorwil) Barisan Ansor Sebaguna (Banser) DIY,  Nur Wahid, menyatakan Banser secara organisasi tidak berpolitik praktis.  Namun, Banser mempersilakan anggota memgambil sikap dalam pemilu, termasuk pilkada, selama tidak membawa-bawa seragam organisasi.

BACA JUGA: Pria di Kulonprogo Nekat Bunuh Diri, Tinggalkan Pesan Berisi Kekalahan Judi

“Kalau dukungan dilakukan dengan deklarasi dan menggunakan baju, bendera, lambang-lambang dari organisasi, tentunya itu tidak tepat dan menyalahi dari AD/ ART organisasi, terlebih yang melakukan diduga bukan dari anggota Banser, maka lebih fatal lagi,” kata Wahid,  saat dihubungi Rabu (5/8).

Banser DIY, kata dia, masih menginvestigasi dukungan kelompok yang mengatasnamakan Banser untuk pasangam calon bupati dan wakil bupati Bantul, Suharsono-Totok Sudarto, pada Selasa (4/8/2020) malam.

“Siapa siapa yang terlibat, tentunya akan kami tindaklanjuti secara proporsional,” ujar Wahid.

BACA JUGA: Kekeringan Makin Meluas, 8 Kecamatan di Gunungkidul Laporkan Sulit Air

Komandan Banser Bantul,  Eko Widiyanto, mengatakan puluhan orang yang berseragam Banser dan mendeklarasikan diri mendukung Suharsono-Totok itu diyakini bukan anggota Banser, melainkan masyarakat umum yang memanfaatkan seragam Banser.  “Karena tidak ada koordinasi dengan organisasi,” kata dia.

Total anggota Banser di Bantul mencapai sekitar 4.300 orang dan dia belum menemukan nama yang ikut dalam deklarasi dukungan calon bupati dan wakil bupati.

“Kalau ada oknum yang ikut [deklarasi] akan dicopot seragamnya.  Tapi saya yakin enggak ada anggota yang ikut.  Itu orang biasa yang dipakaikan seragam Banser,” ujar Eko. 

BACA JUGA: Pilkada Gunungkidul: Golkar Masih Tunggu Rekomendasi

Ia juga mengancam akan memproses hukum siapa pun yang menyuruh orang untuk mengenakan seragam Banser dan mendeklarasikan diri mendukung paslon.

Eko menjelaskan tidak sembarang orang dapat mengenakan seragam Banser. Anggota Banser harus ikut pendidikan dan pelatihan serta berbaiat kepada kiai NU.  Selain itu Banser secara organisasi,  kata dia, netral dan tidak berpolitik.

Meski demikian, anggota Banser boleh menentukan pilihannya secara pribadi.  Menurut dia,  secara keanggotaan Banser sebagian besar anggotanya akan memilih Abdul Halim Muslih karena sosok yang kini menjabat wakil bupati Bantul itu representasi dari NU yang didukung banyak kiai NU. 

BACA JUGA: Jelang Pilkada, 17 DPC PAN Sleman Berikan Pernyataan Sikap

Selasa (4/8/2020) malam, ratusan orang dari berbagai komunitas yang menamakan diri sukarelawan Sapu Jagat mendeklarasikan diri mendukung pasangan calon bupati dan wakil bupati Bantul,  Suharsono-Totok Sudarto di rumah Suharsono di Sewon,  Bantul,. 

Salah satu komunitas yang deklarasi tersebut adalah mengatasnamakan anggota Banser NU dengan berseragam lengkap. Mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan "Aku Wong NU Dukung No-To," bunyi tulisan tersebut.  No-To merupakan singkatan dari Suharsono-Totok.

BACA JUGA: Tol Jogja-Bawen Gusur Bangunan Cagar Budaya Lebih dari 50 Tahun

Koordinator Sapu Jagat,  Kiai Muahammad Asrofi, mengatakan ratusan orang tersebut terdiri dari berbagai elemen,  seperti santri  pedagang kaki lima, pegiat seni,  dan beberapa organisasi masyarakat.  Elemen tersebut, kata dia, sebagian besar adalah Nahdlyin, sebutan bagi warga NU, dan tidak berafiliasi dengan partai politik.

“Kami warga Nahdlyin yang non-struktural," kata Asrofi.

Pengasuh Lembaga Pendidikan Darul Hikmah, Trirenggo,  Bantul ini berujar dukungan terhadap No-To murni dari aspirasi di bawah agar pembangunan Bantul terus berjalan dan tidak terputus setelah Pilkada ini.