Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Gelar The 7th International Conference on Health Science 2020   

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta (Polkesyo) menyelenggarakan konferensi internasional The 7th International Conference on Health Science (ICHS) 2020, Selasa (4/8/2020) secara zoominar dan youtube dengan topik Covid-19: Fight or make peach?". - Ist
06 Agustus 2020 13:37 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Poltekkes Kemenkes Yogyakarta (Polkesyo) yang memiliki visi menjadi institusi rujukan tingkat nasional dan misi meningkatkan pendidikan, penelitian, dan layanan masyarakat, menyelenggarakan konferensi internasional setiap tahun. 

Pada konferensi The 7th International Conference on Health Science tahun  (ICHS) 2020 tahun 2020 ini  digelar pada hari Selasa (4/8/2020)  secara zoominar dan youtube dengan topik Covid-19: Fight or make peach?”

Ketua Panitia Dr. Heru Subaris Kasjono, SKM., M. Kes selaku Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Polkesyo dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Kamis (6/8/2020), menyampaikan tema tersebut dipilih mengingat pentingnya melakukan tindakan untuk penanganan masalah Covid-19 dan untuk mendukung SDGs guna meningkatkan taraf kesehatan.

Baca Juga: Warga Kampung Ini Sulap Jalan Jadi Serasa Kolam Ikan

Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Yogyakarta berkomitmen untuk berpartisipasi aktif dalam pencegahan penularan Corona Virus-19 di Indonesia melalui berbagai aktivitas berbasis masyarakat, di antaranya dengan membentuk Satuan petugas pencegahan penyebaran Covid-19 dengan berbagai aktivitas baik di dalam kampus maupun di luar kampus dalam upaya  promotif dan preventif.               

Pada acara tersebut, sambutan disampaikan oleh Joko Susilo, SKM., M.Kes selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, dan  dibuka secara resmi oleh Prof. dr. Abdul Kadir, Ph.D, Sp. THT-KL(K), MARS selaku Kepala Badan BPPSDMK Kemenkes RI.

Narasumber  ICHS tahun 2020:  Prof. Teresa tsien,  Honorary Consultant Smart Ageing Hub and Institute of Active Ageing Hong Kong Polytechnic University;  Prof. Dr. Omer ACER, Medical Faculty Departement of Medical Microbiology, Siirt University, Turki; Dr. Mondastri Korib Sudaryo, MS, DSc, Universitas Indonesia; Narasumber dari Poltekkes Kemenkes Yogyakarta: Dr. Slamat Iskandar, SKM, M.Kes; Bambang Supriyanto, SSi, M.Sc dan Hesty Widyasih, SSiT, M.Keb.

Materi yang disampaikan pada sesi pertama antara lain new normal  mengalami hambatan dalam penerapannya di Indonesia karena alasan sosioekonomi sehingga pemerintah perlu memperkuat kontrol saat pandemik.  Konsep herd immunity bukanlah sesuatu yang baru, namun konsep ini tidak direkomendasikan untuk dijalankan karena masalah etik, dan dapat melumpuhkan basis kesehatan.

Dengan kondisi seperti ini, ketahanan pangan tingkat keluarga sangat memberikan efek terhadap risiko terserang penyakit. Situasi pandemi yang terjadi saat ini, sangat rentan sekali untuk terjadi gangguan kesehatan mental. Tidak hanya pada usia lanjut, namun juga rentan terjadi di semua usia. Orang tua perlu sekali mendampingi remaja dengan attachment yang berkualitas untuk menjaga kesehatan mental.

Baca Juga: Kerugian Akibat Ledakan di Beirut Capai US$3 Miliar Lebih

Bambang Supriyanta, S.Si, M.Sc menyampaikan bahwa diagnosis laboratorium untuk menegakkan diagnosis Covid-19 yang sensitivitas dan spesivisitas tinggi adalah rt PCR, sedangkan Rapid Diagnosis Test (RDT) yang digunakan untuk mendetesi adanya antibodi akibat infesi SARS-CoV-2 oleh WHO tidak direkomendasikan. Antibodi yang timbul berupa Imunoglobulin M (IgM), setelah penderita terinfeksi SARS-CoV-2 dan timbul gejala selama kira-kira tujuh  hari dan Imunoglobulin G (IgG) setelah 14 hari.

"Dalam waktu tersebut, apabila penderita telah terinfeksi SARS-CoV-2 dapat menularkan ke orang lain.," kata Bambang.

WHO merekomendasikan RDT digunakan untuk kepentingan surveilans dan penelitian epidemiologi. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa sensitivitas RDT tergantung pada waktu pengambilan sampel setelah timbul gejala. Sensitivitas dan spesifisitas rtPCR tinggi, karena dapat mendetesi genom virus penyebab COVID-19.

ICHS ini terselenggara  atas kerja sama Poltekkes Kemenkes Yogyakarta dengan Ikatan Alumni Poltekkes Kemenkes Yogyakarta dan Pusat Unggulan Ipteks (PUI) Novakesmas (Inovasi Teknologi Terapan Bidang Kesehatan Masyarakat) Polkesyo. Peserta ICHS berasal dari Hongkong, Turki,  Republika Demokratik Timor Leste, dan Pakistan.*