Puncak Musim Kemarau Diprediksi Agustus

Ilustrasi. - Ist/Freepik
09 Agustus 2020 17:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Berdasarkan hasil pantauan BMKG Stasiun Klimatologi DIY dalam 2-3 hari ini, Minggu (9/8/2020), suhu minimum di wilayah DIY pada malam hingga pagi hari mencapai 20-22 Celcius. Sedangkan, siang hari suhu maksimum mencapai hanya berkisar 29-31 Celcius.

Kepala kelompok data dan informasi Stasiun Klimatologi DIY Etik Setyaningrum mengatakan jika suhu dingin dan kering yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat saat ini merupakan dampak dari intrusi atau bertiupnya angin yang berasal dari Australia (monsoon dingin Australia).

"Di mana saat ini di benua Australia sedang memasuki musim dingin. Intrusi angin dingin [monsoon dingin australia] yang berasal dari Australia ini berdampak pada temperatur yang terasa dingin terutama di wilayah bagian selatan Indonesia termasuk Jogja," ujar Etik, Minggu (9/8/2020).

Intrusi angin dingin Australia ini disamping sifatnya dingin juga bersifat kering karena kandungan uap air sangat rendah. Sehingga, pertumbuhan awan saat ini juga sangat kecil terjadi.

"Dengan kurangnya tutupan atau pembentukan awan, berdampak pula pada radiasi balik bumi ke atmosfer dengan cepat keluar dari bumi, akibatnya temperatur di bumi menjadi cepat dingin," sambung Etik.

Baca Juga: Hapus Foto di Instagram, Ririn Dwi Ariyanti Blak-Blakan soal Rumah Tangganya

Temperatur dingin ini, lanjut Etik, mengindikasikan wilayah di DIY pada umumnya masuk dalam puncak puncak musim kemarau. Temperatur dingin dan kering ini masih berpotensi muncul hingga puncak musim kemarau berlangsung.

"Sebagai informasi wilayah DIY periode puncak musim kemarau diprediksikan akan terjadi di bulan Agustus," imbuhnya.

Oleh karena itu, BMKG Stasiun Klimatologi DIY mengimbau agar masyarakat tetap menjaga kesehatan, menghindari keluar malam bila tidak perlu, selalu menggunakan jaket bila sedang bepergian, menggunakan masker karena banyaknya debu sekaligus untuk protokol pencegahan penularan Covid-19.

"Tidak lupa juga untuk banyak minum air, makan makanan bergizi supaya meningkatkan imun tubuh. Masyarakat mulai berhemat air, jangan membakar sampah sembarangan untuk menghindari kebakaran. Untuk petani, agar menjaga pola dan jenis tanaman yang sesuai dengan iklim kemarau guna menghindari gagal panen," tutupnya.

Sebelumnya diberitakan, Epidemiolog UGM Bayu Satria mengatakan jika imunitas tubuh manusia dipengaruhi oleh sistem yang kompleks dan pengaruh lingkungan diduga ada perannya.

"Sebenarnya tidak secara langsung dari suhu dingin tapi dari kurangnya paparan sinar matahari yang berakibat asupan vitamin D kita turun tidak seperti biasanya," ujar Bayu Satria

Suhu Dingin

Selain itu, lanjut Bayu, memang ada juga penelitian yang menyatakan suhu dingin bisa berpengaruh terhadap imunitas tubuh seseorang.

Baca Juga: Tukang Kredit Keliling di Pakem Terjangkit Corona, Dinkes Sleman Lakukan Tracing

"Di samping itu, juga suhu lingkungan yang dingin juga mempengaruhi [biasanya] penyakit yang muncul jika dalam waktu cukup lama dan ekstrem," sambung Bayu.

Namun demikian, ia belum bisa memastikan jika suhu dingin dinilai bisa berpotensi memperparah pandemi Covid-19. Menurutnya, Covid-19 kemungkinan tidak begitu terpengaruh dengan suhu.

"Kecuali ketika suhu dingin membuat orang-orang malas keluar rumah, malas ketemu temen buat makan-makan, jadi sering pake masker maka itu secara tidak langsung berpengaruh. Tapi, kalau efek langsung rasanya belum bisa bilang akan ada efeknya," terang Bayu.