Dukung Ketahanan Pangan, Tim Abdimas LPPM UPNVY Dampingi Warga Manfaatkan Pekarangan Rumah

Tim Abdimas LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta yang terdiri dari tiga dosen Fakultas Pertanian saat mendampingi KWT Surya Hijau di Suryadiningratan, Mantrijeron, dalam pemanfaatan pekarangan rumah yang terbatas untuk budidaya sayur dan ikan, beberapa waktu lalu. - Ist/Dok. Heti Herastuti
18 Agustus 2020 09:37 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Tim Abdimas LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta (UPNVY) mendampingi warga dalam pemanfaatan pekarangan rumah yang terbatas untuk budidaya sayur dan ikan. Kini lahan terbatas di area perkotaan bukan halangan bagi masyarakat untuk bisa menumbuhkan ketahanan pangan.

Tim pengabdian masyarakat yang terdiri dari tiga dosen Fakultas Pertanian UPNVY ini mendampingi dua lokasi di Kota Jogja dalam budidaya sayuran dan ikan di lahan terbatas. Mereka adalah Heti Herastuti, Heni Handri Utami, dan Ellen Rosyelina Sasmita.

"Program kami utamanya pemanfaatan pekarangan rumah di perkotaan. Apalagi di masa pandemi seperti ini, jadi digalakkan penanaman di masing-masing rumah dengan menggunakan tanaman pangan," kata Heti ketika dihubungi Harian Jogja pada Kamis (13/8/2020).

Baca juga: Selain Menggugah Selera, Ini 5 Manfaat Makanan Pedas Bagi Tubuh

Menurutnya, dengan kreativitas memanfaatkan ruang kecil, budidaya sayuran dan ikan masih punya potensi untuk berkembang. Sistem yang cocok diterapkan untuk budidaya di perkotaan adalah urban farming dengan menggunakan beberapa cara di antaranya vertikultur, hidroponik, dan aquaponik.

Saat ini, tim ini tengah mendampingi Kelompok Wanita Tani (KWT) Surya Hijau, Kelurahan Suryodiningratan dan di Mina Julantoro, Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron. Ia berharap ke depannya tim ini bisa menambah titik lokasi pengabdian lain terkait budidaya di perkotaan itu.

Baca juga: OPINI: Covid-19 Menerjang, Ekonomi Meradang

Adapun di KWT Surya Hijau, ia membudidayakan sejumlah tanaman unik, yaitu cabai warna-warni, kacang panjang merah, sawi pagoda, kobis merah, mint, bunga telang, kale, selada merah, dan bayam merah. Budidaya sayuran ini dilakukan secara organik tanpa bahan kimia sehingga aman dikonsumsi lantaran pupuk yang digunakan adalah pupuk organik cair dari sampah kebun dan dari urin kelinci.

Di lokasi yang sama, dibudidayakan juga ikan lele dalam ember. Kedua produk ini bisa dikonsumsi komunitas mereka sendiri maupun komunitas lain di luar mereka secara daring.

Sementara itu, di Mina Julantoro dikembangkan budidaya ikan nila di Selokan Tanjung yang menjadi tempat wisata. "Kami juga dampingi pelatihan olahan ikan otak-otak nila kekinian, perkedel nila dengan said keju, dan kangkung krispi. Jadi selain dijual segar, bisa juga dijual olahannya," papar Heti.

Program yang sudah dirintis sejak awal Juli lalu diharapkan Heti dan tim bisa menjadi solusi bagi warga perkotaan supaya bisa bertani di tengah keterbatasan lahan. Ia juga berharap program ini bisa dicontoh daerah lain.

"Dalam pelatihan kami juga selalu terapkan protokol kesehatan, yang kami libatkan hanya sekitar 10 orang, harapannya bisa getok tular ke warga lain," ujar Heti.