Ini Respons Aliansi Rakyat Bergerak Terkait Warga Keberatan Adanya Demo di Gejayan

Belasan ribu mahasiswa dari berbagai Universitas di Yogyakarta serta sejumlah elemen sipil saat menyerukan aksi Gejayan Memanggil di Pertigaan Colombo, Depok, Sleman, Senin (23/9/2019) silam. - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi.
19 Agustus 2020 08:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Kelompok mahasiswa yang turut dalam aksi demonstrasi di Kawasan Gejayan memberikan tanggapan terkait adanya warga yang keberatan dengan aksi tersebut.

Humas Aliansi Rakyat Bergerak Lusi menilai jika aksi yang dilakukan oleh sejumlah orang yang mengatasnamakan sebagai Paguyuban Gejayan Ayem Tentrem (PGAT) melakukan aksi pemasangan spanduk dan penyampaian sejumlah tuntutan di sekitar simpang tiga Gejayan, Condongcatur, Depok, Sleman pada Selasa (18/8) merupakan hal yang lumrah untuk dilakukan.

BACA JUGA : Selain Demo Ribuan Orang di Gejayan, Ternyata Ada Demo

"Pasalnya, yang dipertaruhkan di ruang publik adalah wacana. Kami [ARB] bisa melaksanakan aksi yang membawa satu isu. Kelompok lain juga bisa melakukan aksi yang mungkin kontra dengan aksi yang kami lakukan. Kami memaknai itu sebagai hal yang lumrah dilakukan. Jadi, ya tidak masalah untuk kami," ungkapnya, Selasa (18/8/2020).

Lebih lanjut, dampak secara ekonomi yang ditimbulkan atas aksi yang dilakukan oleh Aliansi Rakyat Bergerak juga tidak ditampik oleh Lusi. Namun, aksi tersebut harus tetap dilakukan karena ada urgensi atau tekanan politik kepada pemerintah untuk menolak Omnibus Law.

"Itu yang mendasari aksi kami. Kami akan tetap melaksanakan aksi sampai Omnibus Law digagalkan. Kami mengakui kekurangan kami dalam melaksanakan aksi kami secara langsung di masyarakat. Ke depannya, komunikasi ke masyarakat akan lebih kami intensif," katanya.

Sebelumnya Ketua Paguyuban Gejayan Ayem Tentrem Desi Setiawan, 35, mengatakan jika pemasangan spanduk yang bertuliskan "kami pedagang Gejayan mendukung Jl. Gejayan Ayem Tentrem tanpa ada aksi demo" dan penyampaian sejumlah tuntutan warga dan pelaku usaha bukan tanpa alasan. Pasalnya, simpang tiga Gejayan kerap menjadi tempat oleh sejumlah pihak dalam melancarkan aksi unjuk rasa.

BACA JUGA : Ada Demo Gejayan Memanggil, Ini Dia Skenario Lalu Lintas 

"Kalau demo di sekitar Gejayan kami dari pelaku usaha, warga, bahkan tukang parkir merasa terganggu. Oleh karena itu, kami lakukan aksi pemasangan spanduk. Boleh demo asal tidak di sekitar wilayah Gejayan. Demo kan bisa dilakukan di gedung DPRD, kampus, maupun tempat lainnya, jangan di Gejayan lah, Gejayan bukan tempatnya untuk demo," ujar.

Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh simpang tiga Gejayan, lanjut Iwan sapaan akrab Desi Setiawan, kerap menimbulkan kemacetan. Lalu lintas terpaksa harus dialihkan. Tidak hanya itu, petugas parkir juga kehilangan pendapatannya dikarenakan sejumlah toko harus tutup. Sejumlah pelaku usaha juga terpaksa harus gigit jari karena harus menutup lapaknya dikarenakan aksi demonstrasi yang dilakukan di sekitar lokasi.

"Gejayan itu kan bukan tempatnya demo, kalau terulang ekonomi kami akan hancur, yang jelas warga merasa terganggu, kami tidak melarang dilaksanakannya aksi demo, tapi ya di tempatnya masing-masing, jangan dilaksanakan di Gejayan, kami merasakan dampaknya sekali," ungkap Iwan.