Budidaya Lele Bioflok Dinilai Menguntungkan

Wakil Walikota Jogja, Heroe Poerwadi, ikut memanen lele bioflok RW 11, beberapa waktu lalu. - Ist/Pakuncen.
21 Agustus 2020 06:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Budidaya lele dengan sistem bioflok yang dilakukan warga RW 11 Kelurahan Pakuncen, Kota Jogja terus berkembang. Salah satu program pemberdayaan ekonomi berbasis kelompok masyarakat ini kembali membuahkan hasil dengan panen periode yang kedua.

Pengurus kelompok Budidaya Lele bioflok RW 11, Yoni Eko Prasetyo, menuturkan panen periode kedua ini dilakukan pada pertengahan Agustus lalu, yang disaksikan langsung oleh Wakil Walikota Jogja, Heroe Poerwadi. “Belum semua yang dipanen, baru sekitar 34 Kg,” ujarnya, Kamis (20/8).

BACA JUGA : Ini Cara Budidaya Lele Bioflok yang Menguntungkan

Budidaya lele bioflok ini belum lama berlangsung, baru dimulai pada 20 Mei lalu, dengan dukungan dari Pemda DIY. Awalnya, pihaknya diberi bantuan berupa satu unit bioflok, bibit lele, pakan dan nutrisi ikan. Bioflok dikelola oleh 10 warga yang menjadi anggota kelompok.

Bibit awal budidaya ini sebanyak 6.300 ikan lele, berukuran 4/6. Bioflok terus dikembangkan hingga kini terdapat sebanyak enam unit bioflok , yang masing-masing bioflok berisi 1.050 bibit lele. Pada Juli lalu, pihaknya juga sudah memanen sebagian lele. Tidak semua lele dipanen serentak karena ukurannya berbeda-beda.

Hasil panen sebagian dijual dengan harga Rp16.500 per Kg, ada pula yang dikonsumsi warga dan ada yang masukkan dalam kolam pemancingan. Budidaya lele dengan model bioflok cocok diterapkan untuk wilayah perkotaan karena tidak membutuhkan lahan yang luas dibandingkan model tradisional.

Prinsip dasar bioflok yakni memanfaatkan aktivitas mikroorganisme atau bakteri pembentuk flok atau gumpalan yang bisa menghasilkan pakan untuk ternak lele itu sendiri. Budidaya lele bioflok menggunakan kolam berbentuk bulat yang terbuat dari terpal.

BACA JUGA : Ini Kiat Sukseskan Program Lele Bioflok

Pada dasar kolam sambungkan pipa untuk jalan keluar kotoran lele yang mengendap di dasar kolam. Agar tidak kering, pembuangan kotoran harus disertai penambahan air. Kaunggulan kolam bioflok yakni lebih praktis, tidak memakan banyak tempat dan mampu menampung banyak ikan lele.

Lurah Pakuncen, Rian Wulandari, mengapresiasi budidaya lele bioflok ini karena bisa menjadi upaya pemenuhan gizi masyarakat khususnya selama masa pandemic covid-19. “Hasil panen dinikmati oleh warga sendiri, dapur umum dan dapur balita,” ugnkapnya.

Ia berharap warga terus semangat dalam mengelola budidaya lele bioflok ini agar bisa semakin berkembang dan berkelanjutan. Kegiatan ini kata dia, sebagai wujup upaya ketahanan pangan meski dalam keterbatasan dan kondisi ekonomi yang sedang berada pada titik terendah.

Wakil Walikota Jogja, Heroe Poerwadi, berharap kegiatan serupa bisa diterapkan di seluruh kampung yang ada di Kota Jogya. “Rintisan ini bisa diterapkan di seluruh kampung yang ada di Kota Jogja, karena ini tidak memerlukan lahan yang besar,” kata dia.