Di Sebuah Warung di Kulonprogo, Semua Orang Bisa Makan Siang Gratis

Sejumlah orang mengambil makanan untuk bersantap siang di Warung Sedekah dan Berbagi di RT 02, RW 01, Kalurahan Pengasih, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulonprogo, Rabu (26/8/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
26 Agustus 2020 18:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Seorang warga Kulonprogo mendirikan rumah makan yang menyediakan menu makan siang gratis bagi siapa pun yang membutuhkan. Rumah makan itu diberi nama Warung Sedekah dan Berbagi.

Warung tersebut terletak di RT 02, RW 01, Kalurahan Pengasih, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulonprogo. Beroperasi sejak 8 Agustus lalu, setiap hari, kecuali Minggu, warung ini selalu ramai. Pengunjung berasal dari berbagai kalangan, mulai dari buruh bangunan, pedagang, guru dan lain sebagainya. Siapa pun yang makan siang di sini tidak dipungut biaya, alias gratis.

"Sama sekali tidak bayar," ujar pemilik Warung Sedekah dan Berbagi, Abdul Ghofar, saat ditemui awak media di warung makannya, Rabu (26/8/2020) siang.

BACA JUGA: Kabar Bagus! Pasien Covid-19 yang Sembuh di DIY Dua Kali Lipat Penambahan Kasus Positif

Pria berusia 65 tahun itu mengatakan ide mendirikan warung makan berkonsep sedekah ini berawal dari sebuah informasi tentang warung makan gratis yang sudah terlebih dulu ada. Informasi itu ia peroleh dari grup Whatsapp yang ia ikuti. Ia lupa di mana warung makan tersebut, tapi yang pasti, dari Informasi itu, hatinya tergerak untuk melakukan hal serupa.

"Saya lupa itu di kota mana, tapi yang pasti setelah baca informasi itu, kok jadi pengin ikut melakukan hal yang sama. Kemudian saya bilang ke keluarga tentang rencana ini, dan alhamdulillah disetujui, istri saya bahkan sangat mendukung," ucapnya. 

Bermodalkan tabungan yang ia kumpulkan selama bekerja sebagai dosen di UAD Jogja, Abdul lantas membangun warung dengan luas sekitar tujuh meter persegi di samping rumahnya. Pembangunan warung yang menelan dana hingga Rp35 juta, sudah termasuk sarana prasarana penunjang seperti kursi, meja dan pernak pernik itu, dimulai pada Maret 2020. Kemudian pada awal Agustus, warung makan sedekah resmi beroperasi.

BACA JUGA: Cerita Sukses Perjalanan Satu Dekade Para Peneliti Nyamuk Ber-Wolbachia

Dalam pengoperasian warung ini, Abdul dibantu keluarga dan sejumlah tetangga sekitar rumahnya. Mereka dengan suka rela memasak pelbagai menu untuk warung makan tersebut, seperti sayur lodeh, sayur bening, tempe garet, tahu, telur dadar dan sambal. Menu itu selalu berganti tiap harinya, kecuali Selasa dan Jumat. Pada hari itu, warung yang buka tiap pukul 10.00 WIB sampai 15.00 WIB ini khusus menyediakan soto.

Dalam sehari warung ini bisa menyajikan 50 sampai 70 porsi. Paling banyak tiap Jumat karena bertepatan dengan waktu ibadah umat Islam. Sepulang Salat Jumat, jamaah biasanya langsung mendatangi warung tersebut untuk bersantap siang. Jarak warung ini dengan masjid hanya berkisar 15 meter.

"Biasanya kalau pas Jumat itu paling banyak, tapi alhamdulillah selalu cukup, belum lagi ada tambahan makanan dari sejumlah donatur yang juga warga sekitar sini, kadang sedekah peyek, ada juga kerupuk dan es tape," kata dosen yang baru pensiun pada Februari 2020 itu.

BACA JUGA: Besok Subsidi Gaji Rp600.000 Diluncurkan, Tahap Pertama untuk 2,5 Juta Pekerja

Abdul mengatakan bakal terus membuka warung ini dan menyediakan makan siang gratis selama ia bisa. Meski tidak ada pemasukan dari usaha itu, ia tidak merasa rugi karena menurutnya perbuatan baik akan mendapat balasan yang juga meski bukan dalam bentuk materi.

"Saya malah seneng kok, soalnya ini jadi pahala buat saya, keluarga dan warga yang ikut membantu operasional warung ini," ucapnya.

Aksi sosial yang dilakukan Abdul ini menginspirasi sejumlah orang. Salah satunya adalah Suryani, 34, warga Kalurahan Triharjo, Kapanewon Wates. Ia datang ke sini untuk melihat langsung bagaimana operasional warung itu. Apabila nanti ada rezeki lebih, Suryani berencana mengikuti jejak Abdul. "Insallah, kalau kami punya rezeki ingin berbagi juga kaya gini," ucapnya.