MEMORABILIA: Bali Ning Omah Bali Ning PSIM

Sejumlah orang saat mengunjungi pameran memorabilia bertemakan 'Bali Ning Omah Bali Ning PSIM' di Monumen PSSI, Kelurahan Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Kota Jogja, Minggu (6/9/2020)-Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
06 September 2020 19:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Sejumlah supporter dan media alternatif menggelar pameran memorabilia bertemakan 'Bali Ning Omah Bali Ning PSIM' di Monumen PSSI, Kelurahan Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Kota Jogja.

Acara memorabilia sendiri dilaksanakan sejak Sabtu (5/9/2020) sampai dengan Minggu (6/9/2020).

Perwakilan bidang pameran Museum of Laskar Mataram FX Harminanto mengatakan jika memorablium digelar dalam rangka memperingati HUT ke-91 PSIM Jogja. Pameran yang berlangsung dua hari tersebut bertujuan mengenalkan dan merangkai sejarah terbentuknya klub PSIM.

"Pameran ini kami persiapkan hanya selama dua minggu saja. Namun, terkumpul cukup banyak koleksi, karena antusiasme luar biasa dari legenda PSIM lintas angkatan," ujar Harminanto saat ditemui wartawan di Wisma PSIM, Kota Jogja, Minggu (6/9/2020).

Ketika disinggung mengenai sejumlah benda yang dipamerkan, Harminanto mengatakan jika sejumlah materi yang ditampilkan terdiri dari album foto, video, jersey, jaket, piala, kliping surat kabar, medali, sepatu, tas, bola, kruk hingga sepeda motor. Sejumlah benda gang ditampilkan berasal dari mantan pemain dengan berbagai cerita menarik yang melatarbelakangi.

Ia mengharapkan, pihak manapun yang bisa menyaksikan sejumlah item yang penuh dengan goresan sejarah tersebut mampu mengetahui bagaimana sejarah PSIM terangkum dari berbagai sudut pandang mantan pemain. "Kami juga ingin menunjukkan bahwa tim sebesar PSIM dengan sejarah panjang seharusnya punya ruang untuk belajar perjalanan tim sejak 1929," sambung Harminanto.

Sementara itu, pemerhati sejarah PSIM yang juga bertindak sebagai kurator dalam pameran memorabilia, Dimas Maulana mengatakan jika pameran memorabilia bertajuk Museum of Laskar Mataram ini digelar dengan terbatas. Yakni hanya 500 pengunjung dengan pendaftaran secara online melalui google form. Upaya tersebut dilakukan guna mengantisipasi terjadinya penularan Covid-19. Oleh karena itu, pihaknya berupaya untuk menerapkan protokol pencegahan penularan Covid-19.

"Pameran akan disebarkan oleh tim kami dalam bentuk virtual dengan harapan bisa masif tanpa mendatangkan kerumunan. Namun, satu hal tambahan mungkin perlu dipikirkan stakeholder jika PSIM sudah waktunya punya museum," ujar Dimas.

Dimas menambahkan, jika sejumlah item yang ditampilkan dalam memorabilia berasal dari eks pemain yang dengan sukarela meminjamkannya. Hal tersebut menjadi menarik karena berbeda dari sudut pandang pameran lain yang pernah ada sebelumnya.

"Kami temukan kali ini terlama koleksi tahun 1956 dari almarhum Sius dan cukup banyak benda memori lain dari legenda lintas angkatan. Banyak cerita yang terangkai dari kronologi tahun ke tahun PSIM," sambung pria pendiri komunitas Bawahskor ini.

Dimas mengharapkan agar pameran semacam memorabilia bisa menjadi jembatan bagi pecinta PSIM untuk belajar sejarah PSIM. "Harapannya pameran ini bisa menjadi media belajar pecinta PSIM dan tentu saja bagian dari upaya merangkai sejarah panjang PSIM," pungkas Dimas.