Dampak Covid-19 di DIY: Transaksi Rp623 Miliar per Bulan dari Mahasiswa Hilang

Ilustrasi - Freepik
21 September 2020 15:47 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan secara daring membuat potensi transaksi ekonomi hingga ratusan miliar per bulan dari aktivitas mahasiswa di DIY hilang.

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) DIY, kontribusi mahasiswa sangat kuat terhadap perekonomian DIY. Namun, akibat pandemi Covid-19, sumbangan itu anjlok drastis.

BACA JUGA: Sultan Jogja Izinkan Kampus DIY Gelar Kuliah Tatap Muka, Ini Syaratnya

Setelah pengumuman kasus pertama Covid-19 di Indonesia maret, seluruh kampus di DIY mengubah kegiatan belajar mengajar secara online. Dampaknya sekitar 66% mahasiswa rantau telah meninggalkan DIY untuk kembali ke kampung halamannya. Hal ini menyebabkan kegiatan ekonomi sekitar kampus akan menjadi sepi.

Pulangnya mahasiswa ke kampung halaman ini menyebabkan berkurangnya kegiatan ekonomi DIY yang diperkirakan mencapai Rp623,2 miliar per bulan atau 0,4% dari PDRB DIY.

Padahal kontribusi pendidikan tinggi di DIY dalam perekonomian sangat besar dan kian kuat. Berdasarkan hasil kajian BI, mahasiswa di DIY diperkirakan berkontribusi sebesar Rp17,2 triliun per tahun atau setara dengan 12,2% dari PDRB DIY. Kontribusi mahasiswa ini meningkat dari hasil survei sebelumnya pada 2015 dengan kontribusi 10,4% dari PDRB DIY.

BACA JUGA: NU & Muhammadiyah Minta Pillkada Ditunda, Istana Bersikeras Jalan Terus

Kontribusi mahasiswa terhadap perekonomian DIY utamanya bersumber dari konsumsi biaya hidup. Dari Rp17,2 triliun, Rp12,5 triliun adalah konsumsi biaya hidup. Nilai ini setara dengan 8,86% dari PDRB DIY. Secara khusus Rp9,9 triliun adalah konsumsi rutin dari mahasiswa pendatang yang setara dengan 7,05% dari PDRB DIY.

“Sektor pendidikan selama ini mendorong pertumbuhan ekonomi yang cukup besar. Pendidikan dikatakannya tidak hanya uang kuliah. Namun banyak ikutan lainnya, seperti kehadiran orang tuanya, saudara, atau alumni-alumni yang kembali di DIY. Hal itulah yang mendorong integrasi antara pendidikan dan pariwisata,” kata Kepala Bank Indonesia (BI) DIY, Hilman Tisnawan, Senin (21/9/2020).

Saat ini, sejumlah kampus yang telah melakukan kegiatan belajar secara offline tetapi masih terbatas sehingga belum bisa membantu tumbuhnya ekonomi. “Bisa bertahap sebenarnya, tetapi ya tidak bisa muluk-muluk juga. Orang tua tanggung jawab juga kan. Terpenting sebenarnya penegakan protokol pencegahan Covid-19 itu,” ucap Hilman.