Kasus Corona Melonjak, Tenaga Kesehatan di Jogja Mulai Kewalahan

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
27 September 2020 23:37 WIB Bhekti Suryani Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tenaga kesehatan (nakes) di DIY disebut telah merasa kelelahan baik secara fisik maupun psikologis dalam menangani pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.

Kondisi nakes yang sudah kewalahan menghadapi pandemi tersebut diungkapkan Wakil Ketua DPRD DIY Huda Tri Yudiana pekan lalu. Menurut Huda sebagai wakil rakyat pihaknya telah berkomunikasi dengan para nakes di rumah sakit maupun puskesmas. Berbagai keluhan diungkapkan para nakes ke dewan.

Pasalnya, kata dia, jumlah kasus Covid-19 di DIY terus melonjak. Padahal setiap temuan kasus positif terebut maka perawatan pasien (bagi pasien bergejala) menjadi tanggung jawab nakes. Selain itu para nakeslah yang melakukan tracing atau penelusuran kontak dengan siapa saja pasien kasus positif berinteraksi demi memutus rantai penularan.

“Secara psikologis dan fisik mereka sangat lelah. Bayangkan saja satu hari pernah DIY tercapai 74 kasus positif. Kasus itu menyebar di berbagai tempat. Lalu ditelusuri siapa yang berinteraksi dengan 74 itu, didatangi, di-swab, bisa ribuan yang terkait dengan 74 itu,” ungkap politikus PKS tersebut.

Ditambah lagi saat ini klaster persebaran virus Corona sudah semakin sulit ditelusuri, sebab semakin banyak tempat yang menjadi lokasi penularan akibat semakin banyaknya kasus positif Covid-19. Konidisi tersebut walhasil menambah beban rumah sakit dan melemahkan layanan terhadap pasien Covid-19. Ia mencontohkan bagaimana sulitnya pasien Covid-19 mencari rumah sakit rujukan.

“Saya pernah dampingi sendiri beberapa rekan dokter mau merujuk pasien sulit sekali. Dalam satu hari enggak bisa dirujuk padahal beberapa RS dalam hitungan statistik Dinas Kesehatan masih ada bed kosong tapi kok sulit dirujuk. Kita mau menyalahkan rumah sakit seperti RSUP Dr Sarjito misalnya enggak tega juga, karena mereka sudah luar biasa bekerja dan overtime,” ungkapnya.

BACA JUGA: Kakek Pengayuh Sepeda Ontel Tewas Ditabrak Pemotor Pagi Buta di Wirobrajan

Beberapa nakes yang bekerja di fasilitas pengujian sampel swab seperti Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) bahkan bekerja hingga 15 jam sehari. “Mereka bekerja bukan seperti kita pakai pakaian santai. Tapi pakai hazmat. Saya pernah coba pakai hazmat 15 menit saja sudah keringatan,” katanya.

Itu sebabnya, kata Huda, masyarakat harus membantu para nakes ini dengan disiplin terhadap protokol kesehatan sehingga jumlah kasus Covid-19 di DIY tak terus melonjak dan memberatkan layanan kesehatan.