Memaknai Visi Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa: Sleman sebagai Rumah Bersama

Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa. - Istimewa
02 Oktober 2020 13:32 WIB Media Digital Sleman Share :

Muhammad Damar Muslim, warga Sleman, ymahasiswa Fakultas Adab Universitas Internasional of Africa, Sudan yang mengaku mengagumi Kustini Sri Purnomo menuliskan pengakuan.

“Sejak awal, saya kira Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa tidak ingin menjadi “siapa-siapa” di Kabupaten Sleman ini. Ketika membaca visi dan misi mereka, perkiraan saya menemui kebenarannya. Mereka “bukan siapa-siapa”. Mereka hanya dua orang, berikrar untuk bahu membahu membantu menjaga Kabupaten Sleman.

Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa menyebut ikrar ini sebagai sebuah usaha menjadikan Kabupaten Sleman sebagai rumah bersama. Visi yang terdengar begitu sederhana. Malahan terlewat sederhana. Namun, ketika direnungkan kembali, yang sederhana itu sebetulnya istimewa.

Setiap orang punya cara tersendiri untuk memaknai kata “rumah”. Ada yang memandangnya sebagai tempat untuk pulang melepas kesedihan. Banyak yang menilai rumah sebagai peraduan terakhir. Beberapa memandang rumah sebagai konsep di mana manusia di dalamnya hidup berdampingan dalam kesejahteraan.

Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa menerjemahkan “rumah bersama” sebagai konsep itu. Ketika manusia-manusia indah hidup berdampingan dalam kesejahteraan. Dua orang ini mengajak kita semua, yang mukim dan berproses di Kabupaten Sleman untuk menjadi insan yang tangguh, sejahtera, dan punya jiwa gotong royong.

Jauh sebelum visi ini dirumuskan, Kustini Sri Purnomo sudah menunjukkan caranya membangun “rumah bersama” lewat berbagai kunjungan. Terutama di masa sulit ini, ketika pandemi corona menjadi “kerikil di dalam sepatu”. Ketua Dekranasda Sleman itu membuat pola tersendiri dari setiap kunjungan yang dilakukan.

Saya membaca pola itu dari pemberitaan di media sosial. Ketika pandemi terjadi, dan dampaknya meresahkan Kabupaten Sleman, pola kunjungan Kustini berubah. Kini, dia banyak mengunjungi sentra-sentra ekonomi rakyat dan aksi-aksi kemanusiaan yang sudah diawali oleh manusia-manusia indah di Kabupaten Sleman.

Cukup sering Kustini menegaskan di setiap kunjungan bahwa upaya bertahan hidup berawal dari sendiri dulu. Berdaya mandiri, menghidupi. Dari bidang pertanian, sampai kerajinan. Dari geliat desa wisata, sampai aksi kemanusiaan. Kustini Sri Purnomo menegaskan ketika kualitas diri meningkat, kekuatan sosial juga pasti terangkat.

Ketika pandemi menghantam, pemberitaan tentang Kustini banyak berputar di narasi ibu-ibu, pertanian, hingga perikanan. Lewat berbagai Kelompok Wanita Tani (KWT), Kustini mengajak ibu-ibu menjadi lokomotif kehidupan. Bertani, hasilnya dikonsumsi sendiri dan hasilnya dijual kembali. Dengan begitu, ekonomi keluarga terbantu ketika pandemi belum jelas ujungnya.

Ketika kualitas diri terdongkrak, kekuatan sosial makin tangguh. Lewat KWT, kehidupan sosial sebuah dusun, misalnya, ikut terbantu. Tidak ada sekat di antara warga. Inilah yang Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa maksud dengan Sleman tangguh, sejahtera berkat kerja sama, dan memiliki jiwa gotong royong.

Laku diri demi Kabupaten Sleman sebagai rumah bersama ditunjukkan Kustini Sri Purnomo lewat kunjungannya ke Pasar Cantel dan Jumat Barokah. Lewat Pasar Cantel, warga saling membantu dengan menyediakan sumber pangan, yang di-cantel-kan di pagar. Warga bisa mengambil secara cuma-cuma dan berkontribusi dengan men-cantel-kan sumber pangan lainnya.

Sementara itu, di acara Jumat Barokah, warga saling menyediakan bahan pangan. Setelah dikumpulkan di satu tempat, warga yang membutuhkan bisa mengambilnya. Sama seperti Pasar Cantel, sifatnya cuma-cuma. Secara khusus, Kustini menyebut bahwa inilah wujud “rumah bersama” yang akan diperjuangkan bersama Danang Maharsa.

Jumat Barokah adalah sebuah acara yang dirancang oleh kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersamaan. “Urip rukun karo tonggo teparo. Nyengkuyung kiwo tengen. Berbagi, saling menopang. Yang mampu membantu yang kurang mampu, tanpa sekat tanpa batasa,” kata Kustini selepas kunjungan.

Kesadaran akan kondisi sesama menjadi sebuah daya dukung sosial. Berbanding lurus dengan fakta bahwa angka harapan hidup di Kabupaten Sleman sangat tinggi, mencapai 76 tahun. Angka harapan hidup ini bahkan lebih tinggi ketimbang angka harapan hidup nasional.

Kustini Sri Purnomo mengingatkan, menjaga angka harapan hidup adalah tugas bersama. Sudah selaiknya kita peka dengan kondisi tetangga, yang paling dekat dulu, untuk dibantu. Jangan sampai terjadi, tetanggamu sakit, tapi kamu sampai tidak tahu. Kepekaan akan kondisi sosial ini perlu dijaga, terutama di tengah pandemi Covid-19.

Maka menjadi jelas, rumah bersama bukan sebuah bangunan fisik, melainkan konsep hidup. Ketangguhan warga Sleman yang ditandai dengan tingginga angka harapan hidup dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Ketika manusia tangguh ini bekerja bersama-sama, lahir masyarakat sejahtera. Semuanya dilambari oleh niat gotong royong.

Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa tidak ingin menjadi “siapa-siapa”. Keduanya tidak ingin menjadi ibu dan bapaknya orang Sleman.

Kustini dan Danang ingin menjadi dua insan yang berikrar penuh kepada warga Kabupaten Sleman, memegang mandat dengan kesadaran penuh akan tanggung jawab, dan menunjukkan bahwa gotong royong akan meringankan kehidupan. Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa menjaga visi yang terbaca secara jujur, kreatif, dan solutif.

Rumah bersama bernama Kabupaten Sleman diterjemahkan Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa menjadi sebuah konsep nyata di mana warga bisa mengawali hari dengan senyum dan menutup hari dengan kebahagiaan.”(*)