Hujan Mulai Turun, Petani Gunungkidul Diimbau Tak Buru-buru Menanam
Hujan mulai turun di Gunungkidul, tetapi petani diminta tidak terburu-buru menanam karena musim hujan diprediksi mulai Desember 2026.
Bayi lobster./HarianJogja-Gigih M. Hanafi
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Sedikitnya tujuh investor berminat untuk melakukan aktivitas penangkapan benur atau benih lobster di perairan Gunungkidul. Hal ini terlihat dengan adanya komunikasi antara investor dengan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul.
Ketua HNSI Gunungkidul, Rujimanto mengatakan, tujuh investor yang menjalin komunikasi berasal dari Banten, Jawa Barat, Jawa Timur hingga Sulawesi. Komunikasi dilakukan untuk membantu dalam upaya penangkapan benur di perairan Gunungkidul.
Meski demikian, lanjut dia, pihaknya belum bisa memberikan kepastian karena secara persyaratan para investor belum melengkapi syarat-syarat dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pasalnya pada saat komunikasi belum ada komitmen untuk mendirikan lokasi budidaya dari hasil penangkapan, padahal di dalam peraturan terbaru investor diwajibkan membangun.
“Kami minta ikuti prosedur. Baru setelah semuanya beres berbicara masalah penangkapan,” kata Rujimanto kepada Harianjogja.com, Rabu (7/10/2020).
Menurut dia, kelompok nelayan tidak bisa menolak secara tegas niatan investor untuk menangkap benur. Hal ini dikarenakan secara aturan diperbolehkan melaksanakan aktivitas tersebut. “Makanya kami dorong ikuti aturan yang ada,” tegasnya.
Ditambahkan Rujimanto, dibandingkan dengan wilayah Bantul ataupun Kulonprogo, perairan di Gunungkidul lebih potensial untuk tempat berkembangbiak lobster. Ini dikarenakan lokasi di perairan banyak terdapat karang-karang sehingga menjadi tempat yang aman untuk lobster bertelur.
Beberapa waktu lalu, sambung dia, sempat ada aktivitas penangkapan benur oleh nelayan dari luar daerah. Meski demikian, aktivitas tersebut sudah dihentikan karena adanya peringatan dari nelayan lokal untuk menghentikan hingga adanya perusahaan yang resmi memiliki izin penangkapan benur.
“Harga benur Rp8.000-10.000 per ekornya. Lumayan tinggi, tapi secara pribadi lebih memilih penangkapan lobster agar ketersediaan benih terjaga. Di sisi lain, kalau benih diekspor, lobster kita tidak laku karena nantinya pengimpor sudah bisa memenuhi kebutuhan di dalam negerinya sendiri karena pembesaran benur-benur yang didatangkan dari Indonesia,” kata nelayan yang beraktivitas di Pantai Ngandong, Kapanewon Tepus ini.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, Krisna Berlian saat dihubungi belum bisa memberikan konfirmasi terkait dengan perkembangan rencana penangkapan benur di perairan Gunungkidul. Saat dihubungi, ia berdalih sedang menerima tamu.
Meski demikian, beberapa waktu lalu ia menyatakan, adanya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.12/2020 tentang Pengelolaan Lobster Kepiting dan Rajungan sudah memberikan dampak terhadap usaha. Hingga saat ini sudah ada investor yang tertarik datang ke Gunungkidul.
“Sudah ada calon investor. Tapi berhubung ranahnya di provinsi, maka diminta ke Dinas Kelautan dan Perikanan DIY,” kata Krisna.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hujan mulai turun di Gunungkidul, tetapi petani diminta tidak terburu-buru menanam karena musim hujan diprediksi mulai Desember 2026.
KAI Commuter mempercepat pengadaan 8 trainset KRL melalui PMN dengan mempertimbangkan kapasitas industri dan kebutuhan penumpang.
KPK menggeledah Bea Cukai Semarang dan Kanwil Bea Cukai Jateng-DIY, menyita dokumen, barang elektronik, serta uang tunai.
Kapolri dan Mendes PDT memperkuat kerja sama memberantas narkoba di desa melalui Desa Bersinar serta menyiapkan program Poliran.
Hujan mulai mengguyur Kulon Progo. BPBD mengingatkan warga mewaspadai pohon tumbang, genangan, angin kencang, dan gelombang tinggi.
Kejagung melelang 209.081,97 ton batu bara sitaan kasus Samin Tan senilai Rp264,08 miliar. Satu peserta dinyatakan sebagai pemenang.