Hantavirus Belum Ditemukan di Gunungkidul, Warga Tetap Diminta Waspada
Dinas Kesehatan Gunungkidul memastikan belum ada kasus hantavirus, namun warga diminta menjaga kebersihan dan waspada penularan.
Bayi lobster./HarianJogja-Gigih M. Hanafi
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Sedikitnya tujuh investor berminat untuk melakukan aktivitas penangkapan benur atau benih lobster di perairan Gunungkidul. Hal ini terlihat dengan adanya komunikasi antara investor dengan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul.
Ketua HNSI Gunungkidul, Rujimanto mengatakan, tujuh investor yang menjalin komunikasi berasal dari Banten, Jawa Barat, Jawa Timur hingga Sulawesi. Komunikasi dilakukan untuk membantu dalam upaya penangkapan benur di perairan Gunungkidul.
Meski demikian, lanjut dia, pihaknya belum bisa memberikan kepastian karena secara persyaratan para investor belum melengkapi syarat-syarat dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pasalnya pada saat komunikasi belum ada komitmen untuk mendirikan lokasi budidaya dari hasil penangkapan, padahal di dalam peraturan terbaru investor diwajibkan membangun.
“Kami minta ikuti prosedur. Baru setelah semuanya beres berbicara masalah penangkapan,” kata Rujimanto kepada Harianjogja.com, Rabu (7/10/2020).
Menurut dia, kelompok nelayan tidak bisa menolak secara tegas niatan investor untuk menangkap benur. Hal ini dikarenakan secara aturan diperbolehkan melaksanakan aktivitas tersebut. “Makanya kami dorong ikuti aturan yang ada,” tegasnya.
Ditambahkan Rujimanto, dibandingkan dengan wilayah Bantul ataupun Kulonprogo, perairan di Gunungkidul lebih potensial untuk tempat berkembangbiak lobster. Ini dikarenakan lokasi di perairan banyak terdapat karang-karang sehingga menjadi tempat yang aman untuk lobster bertelur.
Beberapa waktu lalu, sambung dia, sempat ada aktivitas penangkapan benur oleh nelayan dari luar daerah. Meski demikian, aktivitas tersebut sudah dihentikan karena adanya peringatan dari nelayan lokal untuk menghentikan hingga adanya perusahaan yang resmi memiliki izin penangkapan benur.
“Harga benur Rp8.000-10.000 per ekornya. Lumayan tinggi, tapi secara pribadi lebih memilih penangkapan lobster agar ketersediaan benih terjaga. Di sisi lain, kalau benih diekspor, lobster kita tidak laku karena nantinya pengimpor sudah bisa memenuhi kebutuhan di dalam negerinya sendiri karena pembesaran benur-benur yang didatangkan dari Indonesia,” kata nelayan yang beraktivitas di Pantai Ngandong, Kapanewon Tepus ini.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, Krisna Berlian saat dihubungi belum bisa memberikan konfirmasi terkait dengan perkembangan rencana penangkapan benur di perairan Gunungkidul. Saat dihubungi, ia berdalih sedang menerima tamu.
Meski demikian, beberapa waktu lalu ia menyatakan, adanya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.12/2020 tentang Pengelolaan Lobster Kepiting dan Rajungan sudah memberikan dampak terhadap usaha. Hingga saat ini sudah ada investor yang tertarik datang ke Gunungkidul.
“Sudah ada calon investor. Tapi berhubung ranahnya di provinsi, maka diminta ke Dinas Kelautan dan Perikanan DIY,” kata Krisna.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinas Kesehatan Gunungkidul memastikan belum ada kasus hantavirus, namun warga diminta menjaga kebersihan dan waspada penularan.
Bedah buku berjudul Budidaya Bawang Merah Asal Biji digelar di Padukuhan Dayakan 2, Kalurahan Kemiri, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul, Rabu (20/5).
Katarak kini banyak menyerang usia muda. Faktor diabetes dan paparan UV jadi penyebab utama, kenali gejala sejak dini.
Garebeg Besar 2026 di Keraton Jogja digelar tanpa kirab prajurit. Prosesi tetap sakral meski format disederhanakan.
Jadwal KRL Jogja–Solo terbaru 2026 lengkap dari Tugu ke Palur. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat, praktis, dan hemat.
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.