6 Jembatan Garuda Rampung di Gunungkidul, Ini Lokasinya
Enam Jembatan Garuda telah selesai dibangun di Gunungkidul. Infrastruktur ini disiapkan untuk memperkuat akses warga, terutama saat musim hujan.
Bayi lobster./HarianJogja-Gigih M. Hanafi
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Sedikitnya tujuh investor berminat untuk melakukan aktivitas penangkapan benur atau benih lobster di perairan Gunungkidul. Hal ini terlihat dengan adanya komunikasi antara investor dengan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul.
Ketua HNSI Gunungkidul, Rujimanto mengatakan, tujuh investor yang menjalin komunikasi berasal dari Banten, Jawa Barat, Jawa Timur hingga Sulawesi. Komunikasi dilakukan untuk membantu dalam upaya penangkapan benur di perairan Gunungkidul.
Meski demikian, lanjut dia, pihaknya belum bisa memberikan kepastian karena secara persyaratan para investor belum melengkapi syarat-syarat dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pasalnya pada saat komunikasi belum ada komitmen untuk mendirikan lokasi budidaya dari hasil penangkapan, padahal di dalam peraturan terbaru investor diwajibkan membangun.
“Kami minta ikuti prosedur. Baru setelah semuanya beres berbicara masalah penangkapan,” kata Rujimanto kepada Harianjogja.com, Rabu (7/10/2020).
Menurut dia, kelompok nelayan tidak bisa menolak secara tegas niatan investor untuk menangkap benur. Hal ini dikarenakan secara aturan diperbolehkan melaksanakan aktivitas tersebut. “Makanya kami dorong ikuti aturan yang ada,” tegasnya.
Ditambahkan Rujimanto, dibandingkan dengan wilayah Bantul ataupun Kulonprogo, perairan di Gunungkidul lebih potensial untuk tempat berkembangbiak lobster. Ini dikarenakan lokasi di perairan banyak terdapat karang-karang sehingga menjadi tempat yang aman untuk lobster bertelur.
Beberapa waktu lalu, sambung dia, sempat ada aktivitas penangkapan benur oleh nelayan dari luar daerah. Meski demikian, aktivitas tersebut sudah dihentikan karena adanya peringatan dari nelayan lokal untuk menghentikan hingga adanya perusahaan yang resmi memiliki izin penangkapan benur.
“Harga benur Rp8.000-10.000 per ekornya. Lumayan tinggi, tapi secara pribadi lebih memilih penangkapan lobster agar ketersediaan benih terjaga. Di sisi lain, kalau benih diekspor, lobster kita tidak laku karena nantinya pengimpor sudah bisa memenuhi kebutuhan di dalam negerinya sendiri karena pembesaran benur-benur yang didatangkan dari Indonesia,” kata nelayan yang beraktivitas di Pantai Ngandong, Kapanewon Tepus ini.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, Krisna Berlian saat dihubungi belum bisa memberikan konfirmasi terkait dengan perkembangan rencana penangkapan benur di perairan Gunungkidul. Saat dihubungi, ia berdalih sedang menerima tamu.
Meski demikian, beberapa waktu lalu ia menyatakan, adanya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.12/2020 tentang Pengelolaan Lobster Kepiting dan Rajungan sudah memberikan dampak terhadap usaha. Hingga saat ini sudah ada investor yang tertarik datang ke Gunungkidul.
“Sudah ada calon investor. Tapi berhubung ranahnya di provinsi, maka diminta ke Dinas Kelautan dan Perikanan DIY,” kata Krisna.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Enam Jembatan Garuda telah selesai dibangun di Gunungkidul. Infrastruktur ini disiapkan untuk memperkuat akses warga, terutama saat musim hujan.
Disdukcapil Kulonprogo mengingatkan warga soal penipuan aktivasi IKD yang meminta Rp10.000, nomor rekening hingga kode OTP.
Gempa M5,6 mengguncang barat daya Bayah Banten pada Senin sore. BMKG memastikan gempa berkedalaman 10 km itu tak berpotensi tsunami.
JNE menggandeng visual artist Muklay menyulap armada pengiriman menjadi galeri seni berjalan jelang HUT ke-36 bertema “Melesat Hebat”.
Sleman memperkuat budaya literasi melalui perpustakaan. Layanan keliling bahkan menjangkau sekitar 128.000 pengunjung dalam setahun.
Poprida DIY 2026 digelar 14–23 September dengan 544 atlet. Paku Alam X menekankan disiplin, sportivitas, persaudaraan, dan kehormatan.