Bisnis Ikan Hias Kian Moncer di Tengah Pandemi

Pembeli melihat koleksi Cupang Kiara Fish Farm, di Gang Anggrek, Krapyak Kulon, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Kamis (15/10/2020). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
17 Oktober 2020 17:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pandemi Covid-19 membuat bisnis ikan cupang bergeliat. Banyaknya aktivitas masyarakat di rumah membuat hobi memelihara ikan cupang kian digemari. Hal itu menjadi rezeki tersendiri bagi penjual Ikan Cupang.

Begitu Matahari muncul, Andi Surya Saputra, Gang Anggrek, Krapyak Kulon, Panggungharjo, Sewon, Bantul, langsung beraktivitas.

Kegiatan rutin yang dilakukan Andi adalah memberi makan peliharaannya. Tak tanggung-tangung, saban pagi, pemilik peternakan ikan Cupang Kiara Fish Farm, itu harus memberi makan ratusan Cupang yang diternakkan. Biasanya, jelang pukul 09.00 WIB aktivitas memberi makan ikan itu sudah kelar. “Kalau total ada sekitar 2.000 ikan sampai 3.000 ikan, tetapi biasa ngasih makan dua hari sekali. Jadi gantian,” ucap Andi, Kamis (15/10/2020).

Di halaman rumahnya yang berukuran sekitar 4 x 10 meter, akuarium-akuarium kecil atau yang biasa disebut soliter dengan sekat-sekat tiap soliter terata rapi pada rak. Pria asli Jogja itu menceritakan telah memulai membudidayakan Cupang sejak 2014. Andi mengaku tertarik dengan ikan cupang karena berbagai warna yang ada di tubuh ikan tersebut.

BACA JUGA: Antisipasi Dampak Cuaca Ekstrem di Musim Hujan, Ini Saran dari BMKG

Berawal dari ketertarikannya itu, Andi kemudian mencoba merintis usaha mengembangbiakkan ikan tersebut. Ia langsung membeli dua kolam kecil berisi cupang umur satu bulan. Namun, tidak seperti yang diharapkan, Andi gagal saat itu karena musim pancaroba. Akibatnya cupang yang dipelihara terkena penyakit jamur.

Kegagalan itu tak menyurutkan semangat Andi. Ia membeli dua pasang ikan cupang dengan harga Rp20.000-Rp30.000. Setelah sekitar enam bulan, Andi berhasil membiakkan.

Pada awalnya Andi belum memisahkan ikan yang satu dengan yang lainnya, atau tidak melihat jenis, warnanya, hanya dijualnya secara massal, bukan satuan.

“Kemudian setelah itu saya mencoba menjual satuan. Saya pasang foto-fotonya di media sosial, satu ekornya laku Rp20.000-Rp30.000. Akhirnya memperbanyak soliter. Kalau cupang ini memang trennya naik, ada saja pasti pembeli baru setiap harinya,” ujar Andi.

BACA JUGA: Jadi Pembalap Pertama yang Terinfeksi Covid-19, Rossi Bikin Pembalap Lain Ketakutan

Budi daya ikan cupang yang semula hanya dijadikannya sambilan kerja di sela-sela aktivitas di kantor, akhirnya justru menjadi pekerjaan tetap. Pada 2017 lalu, Andi memilih meninggalkan pekerjaan lamanya, dan fokus budi daya ikan cupang.

Pilihannya itu pun berbuah manis, dari waktu ke waktu usahanya terus berkembang. Setiap hari ada saja orang yang datang ke tempatnya. Bahkan usaha Andi terus berkembang, tidak hanya menjual cupang, ia juga menjual pakan cupang.

Koleksi Andi terbilang lengkap. Berbagai jenis cupang ada, seperti Dumbo R, Halfmoon, Plakat, Serit, hingga Double Tail, dan berbagai jenis lainnya. Sesekali Andi membuka sekat di antara Soliter, untuk memancing agresivitas cupang, mengembangkan kedua penutup insang dan meliuk-liukan tubuh dan siripnya.

Andi mematok harga ikan cupang itu mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu. “Mulai dari Rp30.000-Rp500.000 itu Dumbo R. semakin langka, semakin mahal harganya, atau kombinasi warna susah ditiru. Tetapi tempat saya ada juga promo, setiap pembelian 10 ekor dari item atau jenis dapat diskon,” ujarnya.

BACA JUGA: Tiga Kegiatan Sederhana yang Bisa Bermanfaat Melepaskan Stres

Andi menjelaskan merawat dan mengembangbiakkan cupang tidak sulit. Untuk perawatan dua hari sekali setidaknya cupang diberikan makan bisa cacing sutra, cacing darah, jentik nyamuk, atau kutu Air. Kemudian untuk penggantian air setidaknya dilakukan satu pekan sekali.

Sementara untuk breeding, Andi  mengatakan juga tidak begitu sulit. Tinggal memasukkan pejantan terlebih dulu, biasanya satu hari untuk membuat gelembung. Kemudian setelah itu dimasukkan ikan betina. Tiga hari dikatakannya akan bertelur. Setelah itu betina diambil, dibiarkan hanya ada yang jantan. Anakan cupang tersebut biasanya diberi makan kutu air. “Setelah satu sampai dua bulan sudah bisa dipanen, dan bisa dijual,” ujarnya.

Namun Andi lebih memilih menunda menjual, dan menunggu sekitar tiga bulan, hingga warna dari Ikan cupang itu muncul, dan nilai jualnya pun akan lebih tinggi. “Dalam sekali panen bisa 100 ekor-200 ekor, terbanyak pernah sampai 650 ekor. Untuk warna yang mungkin langka itu, jackpot ya. Kadang untung-untungan juga, tetapi tetap mencoba kita mencampurkan warna indukan yang berbeda. Seperti melukis lah,” katanya.

Saat pandemi Covid-19 seperti saat ini, kata Andi, justru ada peningkatan penjualan. “Peningkatan sekitar 300 persen-500 persen, yang meningkat selain cupang juga ikan hias, tanaman hias. Banyak yang stay at home mungkin, mencari kesibukan di rumah. Kegiatan anak-anak kan di rumah juga, belajar mengenal ikan, belajar ternak juga,” ujarnya.

BACA JUGA: Ini Daftar 10 Raja Terkaya di Dunia

Omzet Andi jika dihitung pada kisaran Rp1 juta-Rp2 juta per harinya. Berbagai segmen pasar baik di lokal Indonesia, hingga mancanegara dapat digaet. Pembeli ikan cupang Andi ada yang dari Filipina hingga Amerika Serikat. Namun saat ini, Andi lebih banyak fokus pada penjualan di rumahnya sendiri. Dia meyakini Ikan cupang ini akan terus eksis.

Salah seorang pekerja swasta, Andreas Fitri Atmoko mengaku mencoba membudidayakan Ikan cupang di tengah pandemi Covid-19. Andre mengatakan budi daya yang dilakukan sejak awal pandemi, lebih karena hobi lamanya, karena saat di bangku kuliah Ia juga sempat mencoba memelihara ikan cupang.

“Dulu kuliah 2006 pernah mencoba juga, tetapi kan ganti-ganti ikan terus tidak lanjut. Baru ini pandemi kemarin awal-awal kan banyak longgar waktunya, jadi coba breeding. Sepertinya tren memang naik banyak teman-teman di Jakarta juga pada melihara,” ujar Andre.

Kini Andre sudah memiliki ratusan ikan cupang anakan. Namun, untuk indukan dikatakannya baru ada belasan pasang dengan berbagai jenis. Namun, ia belum berniat menjual ikan cupang hasil budi dayanya itu. “Belum ada yang dijual, masih penasaran mencoba mencampurkan warnanya. Kadang kalau tetangga yang ke rumah juga cuma saya kasih. Di tempat saya di Margodadi, Seyegan [Sleman] juga baru booming, perempuan, laki-laki ikut memelihara. Di media sosial kan ramai juga, sampai ada lelang,” ucapnya.

Andre menilai dalam budi daya Cupang ini tidak terlalu sulit. Hanya ikan ini perlu dipisahkan satu dengan yang lainnya. Tantangan lainnya saat pancaroba cuaca sangat dingin, sehingga banyak cupang terkena penyakit.