Usaha Warga Difabel: Cap Kursi Roda, Penyemangat Maridi Tetap Berkarya

Maridi menata rengginang tiwul ke dalam nampan yang terbuat dari bambu di Dusun Karang, Girikarto, Panggang. Selasa (13/10/2020). - Harian Jogja/David Kurniawan
17 Oktober 2020 18:27 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Maridi, warga Girikarto, Panggang, Gunungkidul, terpaksa beraktivitas di kursi roda sejak 2009 lalu karena jatuh saat memanjat pohon mahoni. Meski memiliki keterbatasan, ia tetap bisa berkreasi dan mandiri berkat penganan hasil olahan dari tanaman singkong.

Maridi hanya bisa diduduk di atas kursi roda setiap harinya. Dua kakinya hanya terkulai lemas dan tak bisa digerakkan.

Di saat-saat tertentu, ia biasa memakai sepeda motor yang telah dimodifikasi untuk bepergian ke luar rumah. Meski memiliki keterbatasan, ayah dua anak ini tidak menyerah karena tetap berusaha menafkahi keluarganya. Setiap harinya, ia meracik olahan penganan berbahan tanaman singkong seperti emping singkong, rengginang tiwul, hingga kerupuk daun singkong.

Hasil penjualan aneka penganan ini digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari bersama dengan keluarga.

Rumah Maridi berada di Dusun Karang, Girikarto, Gunungkidul. Lokasinya di perbukitan karena persis di depannya jalanan menanjak. Tepat di depan rumah terdapat tiang-tiang bambu yang dipasang untuk menjemur rengginang yang terbuat dari tiwul. Tak jauh dari lokasi jemuran, terdapat sebuah mesin untuk membuat tepung singkong, sebagai bahan membuat tiwul.

Maridi lumpuh sejak 11 tahun yang lalu. Pada saat itu, ia memanjat pohon mahoni. Namun dahan yang diinjak rapuh sehingga terjatuh dari ketinggian sekitar tujuh meter. Akibatnya, kedua kakinya tidak bisa digerakkan. Berbagai pengobatan sudah diupayakan, tetapi tidak membuahkan hasil. “Hampir seluruh wilayah DIY saya datangi untuk penyembuhan. Malahan, untuk berobat saya sampai ke Tawangmangu, Karanganyar, dan Salatiga, tapi tidak membuahkan hasil,” katanya kepada wartawan, Selasa (13/10).

Di awal-awal menderita lumpuh, ia tidak menerima keadaan yang dialami. Harta benda yang dimiliki dikeluarkan untuk pengobatan. “Tinggal rumah yang belum dijual. Di awal-awal juga ada bantuan dan semua dihabiskan untuk pengobatan, tapi tidak ada hasilnya,” ungkapnya.

Setelah empat tahun berusaha untuk berobat atau tepatnya di akhir 2013, Maridi menyadari keegoisannya karena melupakan keluarga dan hanya memikirkan diri sendiri. Ia pun mulai merenung dan memikirkan kelanjutan nasib keluarga, terlebih lagi dua anaknya yang sudah bersekolah. Berbagai kebutuhan hidup mulai bertambah, sedangkan penghasilan banyak mengantungkan bantuan. Itu pun banyak yang digunakan untuk berobat.

“Waktu sakit anak saya masih kecil-kecil. Dan di 2013 baru menyadari, anak saya yang besar sudah kelas dua SD dan yang kecil sudah masuk TK. Jadi, saya harus berubah dan bisa bangkit dari keterpurukan,” katanya.

Ia pun mulai berpikir guna mendapatkan penghasilan. Pada saat perjalanan untuk berobat melihat tukang tambal ban dan terinspirasi dari alat pres untuk menambal. Maridi pun memesan alat pres ini kemudian digunakan untuk mengolah singkong menjadi emping.

Pada saat itu, lanjut dia, hanya bisa berbaring di tempat tidur. Proses pembuatan emping singkong ini dilakukan dengan menaruh alat pres yang telah dimodifikasi di atas dada dengan posisi berbaring.

“Saat dijual laku. Memang uangnya baru mendapatkan Rp12.000. Tapi itu membuat saya bersemangat untuk bisa mandiri,” katanya.

Usaha ini pun terus dilanjutkan beberapa waktu. Keterbatasan bahan baku, membuat Maridi harus memutar otak agar usaha tetap jalan. Ia pun mulai berpikir membuat kerupuk dengan daun singkong. Ide ini pun dilaksanakan hingga akhirnya produk kerupuk daun singkong dihasilkan. “Ternyata laku dan diterima oleh pembeli,” katanya.

Tak berhenti di situ, Maridi pun mulai mengembangkan rengginang tiwul. Secara proses, rengginang tiwul tidak berbeda dengan rengginang yang terbuat dari beras ketan karena yang membedakan hanya bahan bakunya. “Ide ini muncul karena jika dijual bentuk gaplek harganya murah. Tapi jika diolah memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Jadi saya mewujudkan membuat rengginang tiwul,” katanya.

Di sela-sela produksi olahan penganan berbahan baku tanaman singkong, Maridi sempat mengikuti pelatihan di Balai Rehabilitasi di Pundong, Bantul. “Tujuannya untuk menambah kemampuan, tapi setelah saya pikir harus fokus sehingga memutuskan untuk melanjutkan usaha,” katanya.

Makanan yang diproduksi mulai dikenal oleh masyarakat. Selain dijajakan ke tetangga, produk juga dijajakan kepada pengunjung di kawasan Pantai Gesing dan sekitarnya. “Sebelum Corona, setiap bulannya bisa menghasilkan pendapatan Rp2,5 juta, tapi saat Corona menyusut karena pengunjung wisata sepi sehingga ikut terdampak,” katanya.

Meski demikian, ia mengaku tetap yakin usaha yang dijalani bisa menjadi berkah guna menghidupi keluarga. “Saya bersyukur, meski berada di kursi roda, tapi tetap bisa berkarya. Untuk produk, kami beri nama Cap Kursi Roda. Ini bukan untuk meminta belas kasihan, tapi sebagai penyemangat untuk tetap berkarya,” katanya.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Hana, istri Maridi. Selama berproduksi, ia ikut membantu dalam pemasaran. Menurut dia, banyak tantangan untuk menawarkan olahan kudapan yang diproduksi. “Kami tetap bersyukur karena hasilnya bisa mencukupi keluarga,” katanya.

Untuk pemasaran, Hana mengakui sudah mencoba pasar online melalui Facebook. Meski demikian, hasilnya belum maksimal guna mendongkrak penghasilan. “Mungkin pengemasannya kurang, sehingga belum banyak yang berminat. Selain online, kami juga mempromosikan melalui grup WA,” katanya.