Sebut Kiat Sukses karena Tuyul, Begini Penjelasan Mbah Lasiyo Asal Bantul

Lasiyo Syaifuddin (65) atau yang kerap disapa Mbah Lasiyo, menunjukkan tanaman pisang miliknya di rumanya di Dusun Ponggok, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Jumat (23/10/2020).-Hiskia Andika Weadcaksana - SuaraJogja.id
23 Oktober 2020 21:17 WIB Newswire Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Salah seorang tokoh warga di Bantul viral di media sosial lantaran menyebut kata tuyul sebagai salah satu kiat sukses.

Setelah diselidiki lebih lanjut, pria yang memberikan kiat-kiat usaha sukses itu adalah Lasiyo Syaifuddin (65) atau yang kerap disapa Mbah Lasiyo, warga asal Dusun Ponggok, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul. Mbah Lasiyo merupakan petani pisang kenamaan yang tidak perlu diragukan lagi kualitasnya.

Saat ditemui SuaraJogja.id, pada Jumat (23/10/2020), Mbah Lasiyo sendiri tidak terkejut mendengar kabar ucapannya yang viral itu. Ia mengaku terus mengikuti perkembangan yang ada saat ini yang membuatnya mengerti alasan videonya bisa viral.

"Kalau video yang kemarin viral itu, karena ada pemotongan video saya yang harusnya 55 detik, tapi hanya diputer 18 detik. Di situ saya menguraikan bahwa dalam menjalani usaha itu harus mempunyai modal 3M, yakni melihat, memahami dan melaksanakan. Setelah itu akan lebih berhasil lagi bila kita memelihara tuyul, lha yang dipotong sampai situ saja," kata Mbah Lasiyo saat ditemui di rumahnya.

Mbah Lasiyo menyampaikan bahwa apa yang dimaksud dalam perkataan itu bukan tuyul sebagai makhluk halus, demit atau setan. Melainkan tuyul itu merupakan singkatan huruf yang memiliki makna masing-masing.

BACA JUGA: Lima Korban Kebakaran di Tangerang Dikebumikan di Gunungkidul

"Jadi tuyul itu kepanjangan dari Takwa, Usaha, Yakin, Ulet, dan Lincah. Bukan kok malah dipotong menjadi seolah tuyul setan," ucapnya.

Terkait dengan hal tersebut, Mbah Lasiyo tidak mau ambil pusing. Walaupun memang diakui bahwa video itu membuat dirinya merasa kurang enak tapi Mbah Lasiyo tetap berusaha untuk ikhlas.

"Saya menyadari itu, tapi saya ikhlas. Saya malah bilang barang siapa yang mau mengaku memotong video itu silakan datang ke tempat saya ini, akan saya beri kenang-kenangan. Mungkin kalau orang lain analisanya ya paling langsung laporkan karena tidak sesuai kehendak mereka, tapi saya tidak," jelasnya.

Lasiyo Syaifuddin (65) atau yang kerap disapa Mbah Lasiyo, menunjukkan tanaman pisang miliknya di rumanya di Dusun Ponggok, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Jumat (23/10/2020). [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]
Menurutnya kiat-kiat sukses itu memang perlu dijalankan oleh semua pihak yang sedang bingung untuk memulai usaha. Pengawasan kualitas dari sebuah produk yang diciptakan dan pemasaran menjadi beberapa hal yang disoroti oleh mbah Lasiyo.

Pertama setiap orang terlebih dulu harus paham setelah melihat. Kalau memang sudah melihat namun belum mendapat pemahaman berarti harus dikaji ulang untuk lebih dipahamkan lagi.

Setelah paham, seseorang tidak boleh segan begitu saja, harus beraksi atau melaksanakan dan mempraktikannya dengan tekun. Lalu baru didukung oleh tindakan yang senantiasa mengkontrol untuk menjaga kualitas produk tersebut. Hal tersebut sebagai jaminan kepada pelanggannya bahwa memang kualitas dari hasil produk tersebut memang baik.

"Jangan membuat yang bisa kamu buat sendiri, tapi buatlah suatu produk yang bisa dijual. Kalau gawe waton gawe tapi tidak bisa dijual, dimakan atau diapa-apakan ya percuma. Makanya buatlah sesuatu yang bisa pertanggungjawabkan manfaatnya," tegasnya.

Apalagi, kata Mbah Lasiyo, sekarang zaman sudah maju dan orang bisa dengan mudah melakukan promosi untuk produknya. Namun yang perlu diperhatikan adalah SOP setiap kegiatan dalam produksi hingga pemasaran pun terlaksana dengan baik.

Melejit Pasca Gempa 2006

Mbah Lasiyo sendiri sudah mulai menanam pohon pisang sejak 1996 silam tapi itu hanya sekadar menanam dengan skala keluarga saja. Baru mulai berkembang melebarkan sayapnya ketika pasca gempa hebat yang meluluh lantakkan Yogyakarta pada 2006 silam.

"Kalau mau dilihat sejarahnya panjang sekali tapi memang mulai bangkit dan berkembang tahun 2006 itu," katanya.

Seiring berjalannya waktu, usaha dan ketekunan Mbah Lasiyo terbayarkan dengan kemajuan yang pesat. Hingga saat ini saja terhitung sudah ada 30 varietas pisang yang ia tanam.

Kendati begitu memang diakuinya tidak semua varietas itu dimanfaatkan untuk budidaya. Hanya enam sampai delapan saja varietas pisang yang laku di pasaran, di antaranya Raja Bagus, Raja Bulu, Ambon Kuning, Ambon Lumut, Kojo Kepok Kuning dan Kojo Kepok Putih.

Dari beberapa varietas tadi, sampai sekarang raja bagus masih menjadi salah satu varietas pisang unggulan yang digemari masyarakat. Selain rasanya yang manis dan daging buahnya yang cukup besar, harganya pun cukup menggiurkan untuk dijual.

Satu tandan pisang raja bagus saja bisa dihargai mulai dari Rp.200 ribu hingga Rp 500 ribu. Harga itu tergantung kebutuhan sang pembeli. Meski harga buahnya cukup tinggi tapi, Mbah Lasiyo tetap menjual semua bibit varietas pisangnya dengan harga Rp. 13 ribu saja.


Sejauh ini kesulitan yang dihadapi oleh Mbah Lasiyo adalah keterbatasan lahan di sekitar lingkungan rumahnya. Sebab masih banyak lahan yang ditanami tanaman lain selain pisang.

"Mau kerja bagaimana pun kalau lahannya terbatas ya tidak bisa. Lokasi budidaya pisang di sini hanya ada empat titik, luasnya juga 3.000 meter. Di lahan itu isinya kurang lebih 300 batang pisang," sebutnya.

Menurut Mbah Lasiyo perhatian Pemerintah Kabupaten Bantul saat ini sudah cukup baik. Hal itu terlihat dari pencanangan yang terus dilakukan oleh Pemkab Bantul untuk menjadikan pisang sebagai komoditi unggulan yang ada di Bantul.

Sumber : Suara.com