Komunitas Ini Sukses Sulap Limbah Organik Menjadi Cairan Serbaguna

Atiek Mariani (kanan) mengenalkan produk eco-enzyme kepada Bupati Kulonprogo Sutedjo. - Istimewa
24 Oktober 2020 20:27 WIB Salsabila Annisa Azmi Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Sampah organik yang menumpuk di sudut-sudut kota turut menyumbang gas metana yang memperparah pemanasan global. Berawal dari sekelompok penduduk dusun di Kulonprogo, Komunitas Eco Enzyme Nusantara Jogja terus mencetak sukarelawan baru untuk memanfaatkan sampah organik menjadi eco-enzyme yang bermanfaat bagi lingkungan. 

Sampah rumah tangga organik seperti sisa sayur atau sisa buah-buahan bercampur dengan nasi sisa kerap mengganggu indera penciuman. Terlebih ketika tumpukan sampah itu berada di sudut perkotaan atau lingkungan pedesaan.

Hal itu disaksikan Atiek Mariati, salah satu sukarelawan komunitas Eco Enzyme Nusantara Jogja, saat baru saja pindah ke Dusun Dekso, Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang, Kulonprogo. Pemandangan itu membuat Atiek tergerak menerapkan gerakan Eco Enzyme dengan memanfaatkan sisa sampah organik.

Eco-enzyme, kata dia, adalah cairan yang diproduksi dari fermentasi sampah organik. Dari proses fermentasi ini, dihasilkan sekitar 2.000 enzim yang bermanfaat bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Atiek mempraktikkan pengolahan eco-enzyme dengan memanfaatkan sampah organik di kampungnya. Apalagi saat pandemi, sampah sayur yang dibuang di perkampungan semakin menumpuk.

"Sampah organik itu berupa sisa sayuran, kulit buah, apapun yang organik, kemudian ketika mengolahnya tangan kami harus bersih, agar nanti larutannya steril dan tidak berbau," kata Atiek saat diwawancarai Harianjogja.com di kediamannya, Jumat (16/10/2020).

Dalam mengolah sampah organik menjadi larutan eco-enzyme, Atiek menggunakan rumus 1:3:10. Artinya satu bagian tetes gula tetes tebu, tiga bagian sampah organik, dan 10 bagian air. Campuran itu kemudian diwadahi di dalam sebuah kemasan yang tertutup rapat.

Ramuan itu lantas didiamkan selama tiga bulan. Setelah panen, cairan tidak berbau busuk layaknya sampah organik yang dibiarkan menumpuk.

Sebaliknya, cairan tersebut memiliki banyak manfaat, misalnya sebagai obat luka bakar, obat alergi, sampo, pembersih lantai, hingga pembersih udara dan penjernih aliran air sungai. Atiek mengatakan makin lama proses fermentasinya, makin manjur khasiat eco-enzyme yang dibuat.

"Kegelisahan masyarakat untuk menyelamatkan bumi ini terjawab dengan eco-enzyme. Kalau dilakukan oleh banyak orang, bisa mengatasi permasalahan sampah organik yang turut menyumbang gas rumah kaca," kata Atiek.

Merasakan banyak manfaat dari eco-enzyme, Atiek menggandeng masyarakat sekitar. Tepatnya sejak pandemi melanda, di mana masyarakat Dekso sedang banyak waktu luang dan hobi menerapkan gaya hidup sehat.

Agen Sosialisasi

Setelah mempraktikkan pembuatan eco-enzyme dan mengetahui manfaatnya, masyarakat lantas bersedia bergabung dan menjadi agen sosialisasi. Mereka turut menyebarluaskan ilmu pembuatan eco-enzyme hingga ke Kelompok Wanita Tani (KWT) dan anggota Dasawisma.

"Kami juga membuat kelas daring, semuanya gratis. Isinya pelatihan membuat eco-enzyme, pesertanya adalah warga. Pesertanya ada ratusan. Kemudian kami terus membuat kelas online dengan menggandeng pemerintah setempat, ini sudah masuk kelas V. Pesertanya terus bertambah," kata Atiek.

Setiap kelas yang digelar, ada satu mentor dari ahli yang memandu para peserta. Atiek mengatakan komunitas Eco Enzyme Nusantara Jogja tersebar di seluruh Indonesia dengan jaringan para pakar dari berbagai bidang. Agen sosialisasinya pun berasal dari beragam bidang.

Saat ini para pegiat komunitas Eco Enzyme Indonesia sedang mempersiapkan pendirian gedung penelitian dan pengembangan. Para pakar akan berkumpul untuk mengembangkan fungsi eco-enzyme melalui berbagai penelitian.

Kontrak dengan Alam

Setelah mengikuti kelas eco-enzyme, anggota lantas diminta mempraktikkan pembuatan eco-enzyme di rumah mereka masing-masing. Mereka mengumpulkan sampah organik untuk kemudian difermentasi bersama air dan gula tetes tebu.

"Mereka menjadi agen aktif sosialisasi di lingkungan masing-masing. Kebetulan pesertanya terus bertambah hingga ke wilayah Kota Jogja. Bahkan seluruh Indonesia," kata Atiek.

Mereka pun juga dipersilakan menggelar kelas bersama warga sekeliling mereka. Nantinya ada pakar dari berbagai bidang terkait untuk membantu proses sosialisasi.

"Aktif di dalam komunitas Eco Enzyme Nusantara Jogja, bagi kami seperti memperbaharui kontrak dengan alam. Kami bikin sesuatu dari alam untuk alam," kata Atiek.

Tak hanya menggandeng masyarakat umum, komunitas ini juga menggandeng para petani untuk menggunakan eco-enzyme sebagai pengusir hama, penjernih air irigasi dan pupuk. Sisa eco-enzyme berupa sampah organik yang lapuk pun juga bisa digunakan sebagai pupuk organik.

"Ke depan kami juga akan ajak para anggota yang jadi agen sosialisasi membawa hasil panen eco-enzyme mereka untuk dituangkan ke sungai sebagai penjernih air," kata Atiek.