Panelis Independen Puji Penampilan Cabup dalam Debat Sleman, Kontroversi Muncul

Ilustrasi. - Freepik
01 November 2020 21:47 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Usai debat terbuka muncul kontroversi di masyarakat. Penyebab kontroversi muncul setelah bertebaran selebaran di media sosial terkait penilaian dari panelis independen yang memuji salah satu Cabup dan mendiskreditkan Cabup lainnya.

Panelis independen yang mengatas namakan Lemlitbang Hatta Institute tersebut menulis jika Cabup nomor 3, Kustini Sri Purnomo (KSP) lebih unggul dalam penguasaan materi (78,9%), percaya diri (74,5%), tepat waktu (79,9%), alur berfikirnya paling sistematis (77,4% tetapi KSP hanya kurang artikulatif (76,9%) dibandingkan kedua paslon lainnya.

Sementara Cabup nomor 1, Danang Wicaksana Sulistiya (DWS) dinilai cenderung belum menguasai materi (71,5%) jawaban bias dan tidak singkron (62,3%) serta artikulasi yang hanya hanya (77.1%).

Adapun Cabup nomor 2, Sri Muslimatun (MuliA), dinilai kurang penguasai materi (72,2%), bagus dalam artikulasi (79,2%) namun sering membuka catatan dan Ponsel. Kepercayaan diri Muslimatun hanya (72,1%) dan ketepatan waktu hanya 74.2%.

Baca juga: Ribuan Buruh Akan Demo Tolak Omnibus Law dan UMP 2021

Terkait keberadaan penilaian panelis independen tersebut, Ketua KPU Sleman Trapsi Haryadi mengatakan jika Lemlitbang Hatta Institute tidak tercatat sebagai lembaga pemantau yang terdaftar di KPU Sleman. "Lembaga itu tidak terdaftar di KPU. Seharusnya baik lembaga pematau, jajak pendapat, maupun lembaga survei lebih dulu mendaftar ke KPU," kata Trapsi kepada Harian Jogja, Minggu (1/11/2020).

Trapsi enggan mengomentari lebih jauh terkait hasil penilaian lembaga abal-abal tersebut terhadap seluruh kandidat. Termasuk dugaan pelanggaran PKPU terkait hasil penilaian tersebut. Saat Harian Jogja juga mencoba menelusuri keberadaan lembaga ini pun tidak ada kejelasan. Baik alamat kantor maupun penanggungjawabnya.

"Yang mendaftrakan adalah tim kampanye, petugas kampanye, relawan. [Tapi lembaga yang dimaksud tidak terdaftar]," kata Trapsi.

Terkait materi debat para kandidat bupati, Trapsi mengatakan jika materi debat dirumuskan oleh tim perumus materi debat yang ditetapkan oleh KPU Sleman. Termasuk moderator debat juga ditetapkan oleh KPU Kabupaten. "Tim perumus bisa memberi usulan kepada KPU," kata Trapsi.

Sekretaris Tim Pemenangan Kustini - Danang, Abdul Kadir, dalam rilis yang diterima Harian Jogja menilai jika penampilan Kustini diluar ekspektasi. Ia menilai penguasaan materi terhadap tema sangat baik. Dalam debat yang berlangsung sekitar kurang lebih dua jam tersebut, Kustini tidak menunjukkan sedikit pun rasa gugup dan berbicara terbata-bata.

"Penguasaan materi dari tema debat sangat baik. Subtansi dari setiap pertanyaan yang dilontarkan, selalu dijawab dengan poin-poin yang matang dan terukur. Ini tentunya melebihi ekspektasi semua orang," jelasnya.

Berbeda dengannya, Ketua Tim pemenangan Sri Muslimatun - Amin Purnama (MuliA) Hasto Karyantoro saat dimintai komentar mengenai hasil penilaian panelis independet Hatta Istitute tersebut. Dia menilai jika debat tersebut menjadi panggung kekacauan bagi Cabup nomor urut 3.

Baca juga: Protokol Kesehatan Tak Boleh Dilupakan Saat Liburan

Kustini, kata Hasto, tampil mengesankan dengan segala kekacauan dan ketidakmampuannya. "Argumentasi Kustini sangat dangkal dan tidak jelas. Ini selevel Calon Bupati bisa sekacau itu. Yang ditanya apa, jawabnya apa," ujarnya.

Dia menyontohkan beberapa poin pertanyaan yang disampaikan istri dari Bupati Sri Purnomo. Misalnya saat ditanya masalah penanggulangan kemiskinan di Sleman namun dijawab soal transparansi ASN. Begitu pun dengan sistem reformasi birokrasi yang justru dijawab dengan pengulangan, yakni transparansi ASN.

Dinasti Politik

Menurutnya, debat Pilkada seharusnya berisi gagasan dan terobosan setiap kandidat. Namun tidak demikian dengan kandidat Nomor Urut 3 tersebut. Debat kemarin dinilai menjadi panggung kegagalan Kustini. "Kemarin jadi panggung kegagalan Kustini. Pada akhirnya semua bisa menilai, dinasti politik yang dibangun hanya ingin menjadikan Sleman seperti perusahaan keluarga Purnomo. Apalagi Sri Purnomo berkuasa sejak tahun 2005, tentu tak ingin kekuasaannya runtuh begitu saja," tegasnya.

Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, kubu tim dari Danang Wicaksana Sulistiya enggan memberikan tanggapan terkait hasil penilaian Hatta Institute tersebut.