Kendalikan Penularan Covid-19 Klaster Liburan, Sleman Masih Lakukan Tracing Pelaku Wisata

Pelaksanaan RDT bagi pengunjung dan pengelola di Tebing Breksi, Kamis (29/10/2020). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
06 November 2020 13:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Joko Hastaryo menyebut ada kemungkinan penambahan kasus Covid-19 setelah masa libur panjang akhir pekan beberapa waktu lalu. Kendati demikian, hingga saat ini ia belum menemukan data objektif yang menunjukkan ada peningkatan kasus Covid-19 di Sleman yang berhubungan dengan aktivitas libur panjang.

"Kalau secara data obyektif belum ada, tapi kalau secara subjektif mungkin saja karena kita lihat kemarin di beberapa obyek wisata wisatawan berkerumun susah dikendalikan," kata Joko pada Kamis (5/11/2020).

Ia tak menutup kemungkinan adanya penularan Covid-19 yang berhubungan dengan aktivitas libur panjang. Terlebih, jika melihat masa penularan virus yaitu selama 5-14 hari setelah ada kontak.

Baca juga: Lagi, Dua Kasus Baru Covid-19 Berasal dari Girimulyo

Pemkab Sleman, lanjutnya, mengantisipasi warga Sleman yang piknik ke luar DIY. Ada kemungkinan, mereka pulang membawa 'oleh-oleh' virus. "Tapi saat ini belum ketemu kasusnya secara grafik," ujarnya.

Sementara itu, menurutnya sebagian besar wisatawan yang datang ke obyek wisata di Sleman merupakan warga luar daerah. Sehingga, ada kemungkinan penambahan kasus terjadi di daerah asal wisatawan.

"Jadi mungkin dia [wisatawan luar Sleman] pulang, baru nanti di sana [luar Sleman] bertambah kasusnya," imbuhnya.

Kendati demikian, untuk melihat lebih dekat apakah ada kemungkinan peninggalan 'oleh-oleh' dari wisatawan luar Sleman yang piknik ke Sleman, ia akan melakukan tracing terhadap pelaku wisata. Adapun dalam waktu dekat, jawatannya akan menyasar pelaku wisata di obyek wisata Kaliurang Kaliadem, dan Desa Wisata Gamplong, Moyudan. Targetnya sebanyak 200 pelaku wisata di wilayah tersebut.

Baca juga: Kemenag Jamin Jemaah Umrah Indonesia Terapkan Protokol Kesehatan Pencegahan Covid-19

Jika nanti ada penambahan kasus positif Covid-19 yang berhubungan dengan libur akhir pekan, ia memastikan ruang isolasi di Sleman masih mencukupi. Terlebih setelah Rusun Gemawang diaktifkan, sehingga beban Asrama Haji dalam merawat pasien isolasi bisa berkurang.

Sebelumnya, Pemkab Sleman telah melaksanakan screening wisatawan di destinasi wisata Tebing Breksi mulai Kamis (29/10/2020) lalu. Destinasi wisata ini menjadi sampel lantaran angka kunjungan wisatanya tergolong tinggi di Kabupaten Sleman.

Joko menuturkan dari pelaksanaan sampling pemetaan Covid-19 pada destinasi wisata itu diambil 101 wisatawan dan karyawan obyek wisata yang menjadi sampel. Sampel ini diikutkan dalam rapid diagnostic test (RDT) Covid-19.

"Ada tiga yang reaktif. Sudah diswab, hasilnya negatif," kata Joko. Ketiga orang yang hasilnya reaktif itu merupakan wisatawan dari luar DIY. Bahkan, dua di antaranya berasal dari luar Pulau Jawa.

Disinggung soal apakah program screening sampel terhadap wisatawan ini perlu dilanjutkan, Joko memastikan bahwa sistem sampling ini penting. Kendati demikian, ia masih memetakan skala prioritas dalam melakukan pelacakan kasus Covid-19 di Kabupaten Sleman.

"Sebetulnya perlu [sampling di destinasi wisata], tapi kami harus lakukan skala prioritas, tetap tracing kasus positif yang harus kami dahulukan. Yang kontak erat langsung swab, yang kontak tidak erat RDT, yang reaktif juga langsung diswab," terangnya.