Gunung Merapi Hendak Meletus, Sapi-Sapi Ikut Stres

Poniman, 47, warga Kalitengah Lor Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, saat memeras susu sapi miliknya di kandang komunal Dusun Singlar, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Minggu (15/11/2020). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
17 November 2020 06:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Sapi-sapi milik warga lereng Merapi di Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, stres menyusul peningkatan status Merapi dari Waspada menjadi Siaga.

Kandang komunal di Dusun Singlar, Glagaharjo, Cangkringan, sekarang banyak diisi sapi dari luar Dusun Singlar. Hewan pemamah biak milik warga Kalitengah Lor sebagian sudah berpindah ke kandang yang terletak di dekat Hunian Tetap (Huntap) Tanah Kas Desa (TKD) Gading.

BACA JUGA: Erupsi Sudah Dekat, Ini Tanda-Tandanya Menurut Juru Kunci Merapi

Poniman, 47, warga Kalitengah Lor, memutuskan memindahkan empat sapi perah miliknya ke kandang komunal Dusun Singlar pada Senin (9/11/2020) lalu. Hewan ternak milik warga yang tinggal di kawasan rawan bencana harus dipindah setelah status Merapi naik menjadi Siaga sejak 5 November.

Poniman buru-buru memindahkan sapi miliknya untuk mengantisipasi hal-hal buruk.

"Pada 2010 itu kan hewan ternak diganti [oleh pemerintah]  jika meninggal dunia. Nah, informasinya kalau sekarang hewan ternak meninggal dunia itu tidak diganti," ujar dia, Minggu (15/11/2020).

Sapi adalah harta penting penduduk lereng gunung. Jika sapi tak dipindah, warga tak akan betah berada di pengungsian lantaran kepikiran ternak mereka sehingga harus sering pulang ke rumah dan mempertaruhkan keselamatan.

BACA JUGA: Percaya Mitos Lari Saat Gunung Meletus, Warga Lereng Merapi Tak Mau Sembarangan Mengungsi

"Nah, karena dipindahkan, sapinya jadi capek. Capek karena di mobil itu kan lama," kata Poniman.

Sapi yang penat ternyata berdampak pada produksi susu perah. Biasanya, satu sapi perah bisa memproduksi sekitar delapan liter pada satu kali perahan di pagi hari dan empat sampai lima liter susu sapi pada sore hari. Sapi perah milik Poniman dalam satu hari bisa menghasilkan 13 liter susu.

Setelah dipindahkan ke pengungsian, saat diperah pada pagi hari sapi Poniman hanya menghasilkan lima liter. Poniman punya empat sapi perah. Namun yang bisa diperah hanya satu ekor. Sebab tiga sapi lainnya masih pedet.

BACA JUGA: Livescore.com Diblokir Kemenkominfo, Ini Alasannya

Kepala Dusun Kalitengah Lor Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Suwondo, mengatakan 17 sapi miliknya yang dipindahkan ke kandang komunal dusun Singlar, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman sempat stres.

Petugas DP3 Sleman langsung menyuntikkan obat antistres untuk mengatasi sapi-sapi yang depresi, termasuk sapi miliknya.

Pemindahan 17 sapi bukan perkara yang mudah bagi Suwondo. Sebab, pakan ternak paling banyak di lereng Merapi di bagian. Sementara, di sekitar kandang komunal Dusun Singlar  tidak terdapat pakan yang cukup untuk ternak.

"Pakan untuk 17 ekor sapi perah itu kan memerlukan transportasi yang lumayan juga. Akhirnya, saya harus memindahkan pakan menggunakan mobil. Paling tidak enam ikat rumput. Kalau pakai motor kan capek karena harus bolak-balik," ujar Suwondo.

BACA JUGA: Polda Metro Jaya Akan Periksa Anies Baswedan Terkait Peringatan Maulid Nabi yang Digelar FPI

Tim kesehatan disediakan tidak jauh di dekat kandang komunal Dusun Singlar untuk mengecek kesehatan hewan ternak milik warga Kalitengah Lor yang diungsikan.

Plt Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan, DP3 Sleman, Nawang Wulan, mengatakan ternak milik warga yang diungsikan bakal mendapatkan perawatan yang layak. Namun, untuk sementara pakan masih menjadi kewajiban sang pemilik ternak.

"Kesehatan hewan ternak akan kami jamin. Kami juga berusaha mencarikan pakan walaupun usulan anggarannya belum disetujio. Mungkin tahap berikutnya. Dari sukarelawan sudah ada yang siap untuk membantu pakan," kata Nawang.