Erupsi Sudah Dekat, Ini Tanda-Tandanya Menurut Juru Kunci Merapi

Juru Kunci Merapi Mas Kliwon Suraksohargo Asihono atau Mas Asih. - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
15 November 2020 22:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Juru Kunci Gunung Merapi Mas Kliwon Suraksohargo Asihono atau Mas Asih mengaku merasakan tanda-tanda alam Gunung Merapi mendekati erupsi. Putra mendiang Mbah Maridjan ini mengaku sering mendengar gemuruh suara dari Merapi.

“Suaranya gemludhuk [bergemuruh] istilahnya. Sinyal itu berliuk-liuk karena getaran-getaran dari guguran tersebut. Suaran gludhuk-gludhuk mungkin ada batu-batu yang glundhung [berguguran dan menggelinding. Secara umum ada, sering ada guguran dan sinyal itu selalu meningkat,” kata Mas Asih di rumahnya di Hunian Tetap (Huntap) Karangkendal, Cangkringan, Umbulharjo, Kabupaten Sleman yang berjarak delapan kilometer dari puncak Gunung Merapi, Minggu (15/11/2020).

BACA JUGA: Percaya Mitos Lari Saat Gunung Meletus, Warga Lereng Merapi Tak Mau Sembarangan Mengungsi

Status Gunung Merapi meningkat menjadi Siaga (level tiga) mulai 5 November lalu. Sebelumnya, Merapi berstatus Waspada sejak 21 Mei 2018.

Mas Asih meminta masyarakat yang ada di lereng Gunung Merapi selalu mematuhi imbauan dan informasi yang dikeluarkan oleh Bali Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

Warga lereng Merapi, menurut Juru Kunci, memegang teguh ilmu titen [pengamatan berdasarkan tanda-tanda] untuk mengetahui aktivitas Gunung Merapi. Ilmu titen itu berdasarkan pengalaman erupsi Gunung Merapi pada 2006 dan 2010.

BACA JUGA: Merapi Siaga, 30 Dusun Ada di Daerah Bahaya, Ini Daftarnya

“Ilmu titen warga sudah melekat. Kalau ada guguran pasti akan ada letusan. Tapi kan kami tidak tahu kapan letusannya. Nah, ilmu titen itu seperti itu. Kalau patokan tetap BPPTKG. Karena yang punya peralatan dan kewenangan ya BPPTKG,” ujar Mas Asih.

BPPTKG merekomendasi radius lima kilometer dari puncak Merapi dibebaskan dari aktivitas manusia karena masuk wilayah bahaya.

“Kami berdoa kepada Tuhan semoga masyarakat yang ada di kawasan larangan [lima kilometer dari puncak Gunung Merapi] bisa selamat dan tidak ada korban," ujar Mas Asih.