Suara Guguran Intenstitas Sedang hingga Keras Terdengar 3 Kali di Merapi

Kubah lava Gunung Merapi terlihat dari Dam Sabo Kali Gendol, Bronggang, Cangkringan, Sleman, Minggu (12/4/2020). - ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
18 November 2020 09:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Suara guguran material vulkanik di Merapi kembali terjadi pada Rabu (18/11/2020) pagi. Suara yang terpantau dengan intensitas sedang hingga keras itu terjadi sebanyak tiga kali.

Visual Gunung Merapi pada Rabu pagi terlihat jelas, dengan kabut 0-I, kabut 0-II, hingga kabut 0-III. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal dan dengan tinggi mencapai 20 meter di atas puncak kawah. Suara guguran material vulkanik Merapi terpantau dari tiga pos pengamatan, Babadan, Kaliurang dan Jrakah. Suara tersebut dilaporkan terdengar dari intensitas sedang hingga keras.

BACA JUGA : Guguran Material Vulkanik Meluncur Sejauh 500 Meter

“Suara guguran terdengar tiga kali [dengan intensitas suara antara] sedang hingga cukup keras  [terjadi pada] pukul 04:45 WIB dari Babdan, Jrakah, Kaliurang,” ungkap Kepala BPPTKG Hanik Humaida Rabu (18/11/2020).

Pada Rabu pagi juga dilaporkan adanya gempa guguran sebanyak 17 kali dengan amplitudo antara 3-65 mm berdurasi 13 hingga 122 detik. Gempa embusan sebanyak enam kali dengan amplitudo antara 3 hingga 15 mm, durasi 9 sampai 39 detik. Gempa fase banyak terjadi 44 kali dan gempa vulkanik dangkal tercatat ada sembilan kali.

Suara guguran juga terdengar sebanyak tiga kali dari intensitas  lemah hingga  keras pada pengamatan antara pukul 18.00 WIB hingga 24.00 WIB Selasa (17/11/2020). Dengan demikian selama 12 jam terakhir atau semalam terpantau ada enam kali suara guguran Merapi.

BACA JUGA : Merapi Luncurkan Lava Sejauh 500 Meter

Sebelumnya BPPTKG memastikan belum ada muntahan lava yang terjadi di Merapi sejak statusnya naik menjadi Siaga. Adapun guguran yang terjadi beberapa kali, bukan guguran lava namun guguran material vulkanik sisa erupsi sebelumnya.

Material guguran yang pernah meluncur merupakan material sisa erupsi seperti tahun 1948, 1884, 1888. Karena Ketika Merapi Meletus tidak semua material terlontarkan dan masih ada sisa di permukaan sehingga menjadi material vulkanik. Oleh karena itu Hanik memastikan, belum ada muntahan lava.