Menuju Biennale Jogja XVI Equator #6 2021

Temu media Menuju Biennale Jogja XVI Equator 6 2021. - ist.
19 November 2020 10:37 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Biennale Jogja XVI Equator #6 akan diselenggarakan pada 2021 dengan mengambil pendekatan berbeda untuk menandai satu putaran penuh garis khatulistiwa yang menjadi kerangka kerja yang telah dipilih oleh Yayasan Biennale Yogyakarta sejak 2010. Pada Biennale Jogja XVI Equator #6 ini, kami akan menyajikan pula satu bentuk retrospeksi atas kerja-kerja Yayasan Biennale Yogyakarta sendiri selama Biennale Jogja seri equator yang telah berlangsung pada periode waktu sebelumnya.

“Untuk menutup rangkaian khatulistiwa putaran pertama, kami akan bekerja sama dengan salah satu negara di Kawasan Pasifik. Kepastian negara masih terus digodok untuk menimbang banyak situasi, termasuk bagaimana pandemi ini berpengaruh pada mobilitas dan gagasan pertukaran internasional. Kawasan Pasifik terutama secara khusus berhubungan dengan wilayah kepulauan di Indonesia, dan secara geografis Indonesia Timur juga akan menjadi titik perhatian kami,” jelas Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta, Alia Swastika.

Dalam kesempatan itu, Alia Swastika juga menjelaskan bagaimana kerjasama Kawasan Pasifik juga akan merujuk pada wacana-wacana kolonialisme baru dan gagasan negara bangsa pada masyarakat kontemporer, karena ada banyak negara di Kawasan tersebut yang ternyata masih menjadi bagian kekuasaan negara Eropa, misalnya Perancis, Amerika Serikat dan sebagainya.

Menariknya, selain menjadikan Pasifik sebagai Kawasan Mitra, Biennale Jogja juga akan menghadirkan kembali arsip dan dokumentasi selama penyelenggaraan Biennale Jogja seri khatulistiwa 1-5, di mana Biennale Jogja telah menjalin kerjasama dengan beberapa negara seperti India, Kawasan Arab (Mesir, Arab Saudi dan Uni Emirates Arab), Nigeria, Brazil dan Kawasan Asia Tenggara.

“Diharapkan, dengan membawa kembali arsip-arsip dan melakukan pembacaan ulang, maka pengunjung dan semua warga bisa melihat secara utuh gagasan khatulistiwa sebagai geopolitik yang digagas di Yayasan Biennale Yogyakarta. Menarik sekali karena ada banyak sekali hal—sejarah dan kondisi geografis, misalnya—yang dipelajari selama 10 tahun pelaksanaan Biennale Jogja seri khatulistiwa,” katanya.

Selain itu, dalam pertemuan dengan media kali ini, Alia juga memperkenalkan Direktur Biennale Jogja yang baru yaitu Gintani Nur Apresia Swastika. Gintani akan menjadi Direktur bagi penyelenggaraan dua peristiwa seni ini pada 2021 dan 2023.

“Biennale Jogja selalu berupaya untuk melakukan regenerasi sehingga ada orang dan gagasan baru yang dimunculkan dalam moda kepemimpinan dan manajemen seni. Apalagi, dalam seri khatulistiwa setiap edisi Biennale ini memilih satu Kawasan baru, sehingga selalu perlu pendekatan baru karena setiap negara atau Kawasan situasinya berbeda.”

“Covid-19 akan memberikan banyak pengaruh pada cara kerja Biennale Jogja, apalagi kita adalah acara internasional yang mendatangkan banyak seniman dan pelaku dari negara lain. Berbagai kemungkinan baru sedang kita pikirkan untuk mengantisipasi situasi yang berbeda ini. Dan karenanya, pameran arsip menjadi salah satu cara yang menurut kami strategis,” demikian Alia menutup temu media dengan wartawan.

Gintani Nur Apresia Swastika, lahir di Yogyakarta pada tahun 1984, mendapatkan gelar Sarjana Seni dari Institut Seni Indonesia, Yogyakarta pada tahun 2010 dan sedang menyelesaikan program pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dengan berfokus pada kajian seniman perempuan Indonesia.

Ia bekerja sebagai seniman dan telah terlibat dalam berbagai pameran kelompok, program residensi, dan proyek seni di Indonesia, Singapura, Taiwan, dan Australia. Karya-karyanya pernah ditampilkan dalam buku Indonesian Eye: Contemporary Indonesian Art, yang diterbitkan oleh SKIRA pada tahun 2011.

Ia merupakan salah satu pendiri Ace House Collective, sebuah kolektif seniman yang melakukan praktik kerja kreatif melalui pendekatan budaya populer dan anak muda baik secara teori maupun praktik, kontekstual dan konseptual, serta menemukan kemungkinan-kemungkinan baru dalam perspektif seni rupa. Ia juga terlibat sebagai anggota Sekolah Salah Didik (School of Improper Education), sekolah untuk belajar tentang cara belajar yang diinisiasi oleh Kunci Study Forum & Collective di Yogyakarta.

Ia telah aktif terlibat dalam berbagai forum seni baik lokal maupun internasional, seperti TRANScuratorial Academy, Mumbai, India (2017), The 7th Gwangju Biennale International Curator Course, Gwangju, South Korea (2016), 4A Curator’s  Intensive, Emerging Curator Forum, di 4A Centre for Contemporary Asian Art, Sydney, Australia (2014), dan Gender Under Reflection on South East Asia Women Artist Forum, Yangon, Myanmar (2012). (Adv)