Advertisement

Adaptasi Kebiasaan Baru, 17 Kampung Wisata Siap Jadi Andalan

Media Digital
Jum'at, 20 November 2020 - 16:07 WIB
Maya Herawati
Adaptasi Kebiasaan Baru, 17 Kampung Wisata Siap Jadi Andalan Sejumlah pengunjung belajar pewarnaan kain dengan teknik shibori di OK Gallery, Warungboto. Belajar teknik shibori merupakan salah satu pengalaman wisata kerajinan yang ditawarkan oleh Kampung Wisata Warungboto, Kapanewon Umbulharjo, Kota Jogja, Kamis, (19/11). - Harian Jogja - Hery Setiawan

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Kota Jogja punya 17 kampung wisata dengan potensi nilai kebudayaan yang tinggi. Kampung-kampung wisata ini siap menyambut kunjungan turis-turis pada fase adaptasi kebiasaan baru.

 “Kampung wisata itu bisa jadi alternatif destinasi bagi wisatawan yang datang ke Jogja. Ada 17 kampung wisata yang masing-masing punya ciri khas,” kata Kabid Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata, Dinas Pariwisata Kota Jogja saat ditemui Harian Jogja di Kampung Warungboto, Kalurahan Warungboto, Kemantren Umbulharjo, Kamis, (19/11).

Salah satunya adalah Kampung Wisata Dewo Bronto di Kalurahan Brontokusuman, Kemantren Mergangsan, Jogja yang menawarkan pengalaman susur Sungai Code. Puas menyusuri sungai, pengunjung akan dibawa untuk mendapat wawasan kesejarahan lewat kunjungan ke Museum Perjuangan.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Selain Kampung Wisata Dewo Broto, ada pula Kampung Wisata Pandeyan, Kalurahan Pandeyan, Kemantren Umbulharjo. Perempuan yang akrab disapa Lis itu mengatakan Kampung Wisata Pandeyan menawarkan wisata khusus seni, khususnya pengalaman belajar gamelan dan pewayangan.

Ia berharap, kampung-kampung wisata tersebut bisa maju dan bersaing dengan destinasi lainnya. Sebab, pada fase kebiasaan baru, kampung wisata di Kota Jogja juga turut menerapkan protokol kesehatan secara lengkap.

Tak ketinggalan, kampung wisata diharapkan mampu menjadi andalan ekonomi masyarakat. Pasalnya, kampung wisata melibatkan banyak peran, mulai dari aspek kuliner, kerajinan, cinderamata, penginapan hingga pemandu wisata lokal. Warga setempat yang berkecimpung di sana punya peluang besar untuk mendulang penghasilan.

Eksistensi kampung wisata di Jogjajuga mendapat sambutan positif dari Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono. Menurutnya, kampung wisata berpeluang meningkatkan okupansi penginapan dan lama tinggal wisatawan.

 “Kampung wisata perlu dikelola dengan baik agar punya nilai jual. Potensi seni dan kebudayaan dari kampung wisata harus bisa tampil secara khas agar wisatawan dapat menikmati keberagaman yang ada di Jogja. Tapi yang paling penting saat ini adalah penerapan protokol kesehatan,” ujarnya. (ADV)

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Pertamax Lebih Irit Ketimbang Pertalite?

News
| Sabtu, 24 September 2022, 20:07 WIB

Advertisement

alt

Mengenal Pendekar Roti Kolmbeng Terakhir di Jogja

Wisata
| Sabtu, 24 September 2022, 17:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement