Libur Jatil, Personel KBTM Gondang Pusung Ganti Jadi Penjaga Posko

Tiga orang personil kelompok kesenian Jathilan Krido Budoyo Turonggo Mudo Dusun Gondang Pusung, Wukirsari, Cangkringan, Sleman, usai membersihkan peralatan jathilan, Jumat (20/11/2020) - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
26 November 2020 09:47 WIB Bernadheta Dian Saraswati Sleman Share :

Sore itu, hawa Dusun Gondang Pusung, Wukirsari, Cangkringan, Sleman terasa dingin. Sisa-sisa hujan deras yang mengguyur tempat itu masih terasa.

Di salah satu rumah, tiga orang pria paruh baya tampak sibuk mengelap jaranan alias kuda lumping yang teronggok di teras rumah itu. Gombal yang mereka pegang pun menyeka debu yang menempel. Air hujan yang terciprat hingga membasahi jaranan itu juga tak luput dari perhatian mereka untuk dibersihkan.

Tebalnya debu seakan menyiratkan jika jaranan itu lama tak terpakai. Bagaimana tidak? Sejak Covid-19 mulai menjangkiti warga DIY, atau sekitar bulan Maret, kegiatan kelompok kesenian jaranan bernama Krido Budoyo Turonggo Mudo (KBTM) Dusun Gondang Pusung ini seketika berhenti.

Padahal sebelum pandemi, kelompok jathilan dari lereng Gunung Merapi ini pentas di mana-mana karena tarian dan kengerian para penari yang dirasuki roh-roh halus, selalu dirindukan.

Akhir pekan menjadi waktu paling sibuk bagi para personil karena mereka harus pentas ke sana ke mari. Bukan hanya untuk pesta ulang tahun, pesta pernikahan, atau khitanan, mereka juga tampil untuk menghibur saat perayaan HUT RI, maupun merti desa. “Bahkan ada juga yang nanggap [mengundang] kami untuk ngusir tuyul,” kata Wawan Doniyanto, salah satu penari Jathilan Gondang Pusung, Jumat (20/11/2020).

Butuh biaya yang tak sedikit bagi tuan rumah jika ingin nanggap KBTM. Biayanya tergantung jarak. “Daerah Besi [Ngaglik Jalan Kaliurang Km 13] ke utara Rp7,5 juta. Itu [harga] sebelum pandemi,” ungkap Edi Nuryanta, 32, pengendang dan juga bendahara KBTM. Semakin ke arah Kota Jogja, harganya semakin tinggi. Apalagi sampai daerah Bantul.

Grup jathilan yang kerap tampil di TVRI serta menjadi jawara di berbagai lomba kesenian tingkat Kabupaten ini berhasil mengumpulkan pundi-pundi rupiah setiap pekannya. Puluhan juta terkumpul, bukan untuk dibagikan ke personil, tetapi untuk memajukan dusun tempat tinggal mereka.

“Banyak orang yang berpikir, habis main [pentas] kami dibagi amplop bayaran. Bukan, bukan seperti itu. Kami sama sekali tidak menerima bayaran, semua masuk kas dan digunakan untuk kemajuan dusun,” tutur Wiji Wiyono, 39, penari KBTM yang juga Ketua II KBTM.

Mereka tak ingin mencari uang dari kegiatan seni itu tetapi hanya ingin tetap menjaga keutuhan grup kuda lumping yang sudah berdiri sejak 1990 itu. “Kami tak ingin apa yang sudah diciptakan oleh leluhur kami di Gondang Pusung ini, sirna hanya karena uang,” tegas Wiji, penari yang sudah tampil sejak kelas III SD itu.

Uang yang terkumpul dari pementasan pun akhirnya kembali ke masyarakat Gondang Pusung. Mereka yang tidak terlibat dalam kesenian pun tetap ikut menikmatinya. Seperti saat kenduri, kelompok ini mengeluarkan dana yang tak sedikit untuk membuat kenduri dan dibagikan ke seluruh warga Gondang Pusung sekitar 120 kepala keluarga.

Teranyar, saat pandemi ini, uang kas itu mengalir untuk membangun posko Covid-19 yang ada di pintu masuk dusun. Posko itu sebagai tempat ronda para warga setiap hari, untuk mendata orang-orang yang masuk dusun. Bahkan di saat posko Covid-19 dusun lain sudah mulai pasif, posko Gondang Pusung masih terus aktif hingga pandemi sudah hampir mencapai 10 bulan ini.

“Kegiatan manggung kami memang berhenti, tapi ada gantinya, kami bisa berperan untuk mencegah masuknya Covid-19 di desa kami,” tegas Edi. Baginya, hal itu jauh lebih berharga daripada hanya larut dalam kesedihan karena tidak bisa manggung.

"Kami memang rindu. Rindu sekali untuk bisa manggung. Tapi kerinduan kami terobati dengan berjaga di posko Covid-19 desa kami hingga saat ini. Kami tetap bisa bertemu teman-teman [penari KBTM], hanya konteksnya beda, bukan di arena jathilan tapi di posko,” sambung Edi.

Personil KBTM berupaya mengajak warga masyarakat Gondang Pusung untuk tetap menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Mereka hanya ingin di masa-masa Gunung Merapi sedang berproses saat ini, jangan sampai keadaan di Gondang Pusung semakin diperparah dengan adanya warga yang positif Covid-19.